Great Broker

Great Broker
Suasana cair


__ADS_3

2 minggu lebih telah berlalu,


Ness sudah kembali ke Eropa diikuti oleh ke 3 pemainnya, 4 pemainnya yang lain juga sudah kembali ke Eropa untuk menyesuaikan cuaca terlebih dulu.


Bukan hanya itu saja, Ness juga ingin pemainnya berlibur di Eropa mengingat liburannya di Indonesia sudah selesai.


Mereka ber empat menyetujuinya.


Kini Ness berada di Paris, ia sekarang telah menyelesaikan setengah tugas tugasnya sebagai agen pemain.


3 pemainnya yang baru mengikuti ke Eropa sudah di kirim oleh Ness ke klub klub untuk mencoba percobaan.


Yang pertama, Ness mengirim Ahmad Alfarizi ke Belgia, Ness mengirimnya ke klub Chaleroi. Ini merupakan salah satu klub raksasa di liga Belgia.


Tepatnya di Belgia First Division A.


Hubungan ini terjalin karena Ness bertemu langsung dengan manager Chaleroi waktu itu.


Yang ke dua, Bima Athallah dan Ryan Abdullah, Ness kirim mereka berdua ke klub yang berada di liga German.


Meski sedikit kurang bisa bersaing jika bertanding di UEL atau UCL tapi untuk perkembangan pemain mudanya sangat bagus.


Ness mengirim kedua pemain itu ke klub Stuttgart, namun Stuttgart menolaknya karena mereka sedang tidak membutuhkan pemain muda.


Ness sesikit kecewa awalnya karena dirinya sudah membangun hubungan, Ness kemudian berkeliaran di klub klub Bundesliga, sampai menemukan tim RB Leipzig.


RB Leipzig merupakan tim yang kuat dan besar, ini juga merupakan klub yang selalu menggunakan pemain pemain muda.


RB Leipzig menerima tawaran Ness untuk melakukan percobaan.


Setelah 1 minggu lebih berlalu waktu itu, Ness mendapati bahwa ke 3 pemainnya cocok untuk tim dan ingin membicarakan kontrak.


Dengan sangat gesit Ness bergerak kesana kesini.


Akhirnya, Kontrak Ahmad Alfarizi adalah 3 tahun dengan gaji 3000 euro / minggu, meski kecik namun menit bermain sangat di jamin oleh klub.


Tidak ada biaya apapun dalam kontrak termasuk biaya pelepasan.


Klub ini ingin melepas pemainnya dengan harga pasarnya dan tidak akan membatasinya, Ness cukup senang.

__ADS_1


Untuk Ryan Abdullah dan Bima Athallah, Ness mendapatkan kontrak 3 tahun dengan gaji 5000 euro / minggu.


Dengan segala macam bonusnya.


RB Leipzig menawarkan bonus supaya kedua pemain muda yang baru diperkenalkannya semangat dan membuat tim juga meningkat.


RB Leipzig membatasi pelepasan biaya kontrak pada awalnya 8 juta euro, namun Ness langsung menolaknya dan mengatakan hanya 3 juta euro saja.


Akhirnya, dengan perdebatan panjang lebar, biaya pelepasan di tetapkan di harga 4 juta euro saja meski pihak RB Leipzig sedikit marah, namun mereka harus menghargai agennya.


Ketika sudah menyelesaikan semuanya waktu itu, Ness kembali ke Paris.


Kenapa tugasnya hanya dikatakan selesai setengahnya, itu karena sponsor sponsor asal Indonesia ingin mengendorse mereka semua.


Apalagi Ortuseight, setelah naik nilai pasarnya, mereka mendapatkan untung yang besar dan memberikan ke dua pemainnya bonus.


Ortuseight sedang membuat produk baru, dan mereka mengatakan bahwa pihak Ortuseight siap memberi semua tawaran sponsor kepada semua pemain Ness yang dimilikinya sekarang, namun Ness menolak saat itu juga.


Ness tidak mau pemainnya hanya berada di 1 brand.


Tapi setelah di lihat tawarannya yang tertera dalam kontrak, dia siap bekerja sama dengan Ortuseight.


Ness juga mendaptkan banyak panggilan brand, namun mereka tidak di pandang oleh Ness dan memberikan nilai kecil bagi pemainnya, dimana itu tidak menghargai pemainnya juga.


....


Ness yang berada di Paris sekarang sedang duduk di sofa hotelnya dan memandangi orang di depannya.


Dimana orang di depannya adalah Raline Audrey.


Di pertemuan terakhir itu, Ness tau alasan orang tua Raline ingin brrtemu dengan dirinya.


Saat itu juga, dirinya kaget karena Raline tiba tiba berkata bahwa dia menyukai dan mencintainya, dia ingin bebas dan pergi bersamanya.


Ness yang berada di depan orang tuanya itu hanya memaku terdiam tak bisa berkata kata.


Setelah suasana menjadi lebih cair, Ness memperkenalkan dirinya yang yatim piatu di Indonesia dan pergi ke luar negeri untuk bersekolah juga tentang segala pekerjaannya. Ketika memperkenalkan dirinya, banyak kebohongan yang terucap dari mulut Ness karena mau bagaimana lagi, dalam situasi itu dirinya harus berbohong karena tidak siap. Apalagi menyangkut masa kecilnya yang tidak memiliki informasi jelas di dunia ini karena informasinya di buat oleh sistem.


Asalnya di pandang rendah oleh ayahnya, namun setelah Ness mengatakan pandangannya tentang Indonesia dan mimpinya untuk Indonesia, disitu juga Ayahnya Raline mulai melembut.

__ADS_1


Meski terlihat kasar, ayah Raline merupakan pecinta sepak bola juga, namun dirinya sudah lama tidak memperhatikan liga Indonesia karena sibuk bekerja dan hanya memperhatikan lewat berita saja.


Ketika ayah Raline mendengar minpi Ness untuk Indonesia, disitu juga dirinya langsung ingin bercerita.


Dimana pertemuan itu menjadi langsung cair dan hangat karena sebuah mimpi untuk Indonesia.


Setelah bercerita panjang lebar, Ness juga merasakan hangatnya keluarga setelah lama tidak merasakannya.


Apalagi setelah kematian kedua orang tuanya di kehidupan sebelumnya.


Ayahnya Raline juga siap memodali atau mensponsori kebutuhan kebutuhan Ness jika kesusahan di Eropa, namun Ness menolaknya karena tidak mau menyusahkan ekonomi orang lain.


Meski kaya, Ness masih berkata begitu yang membuat ayahnya Raline tertawa.


Ness juga menceritakan semua pemain pemainnya yang berada di Eropa dan akan berangkat ke Eropa.


Ness memberitahu ayah Raline potensi pemain pemain yang di bawanya itu dimana merupakan kelas top eropa dan tidak akan dipandang remeh di Eropa.


Awalnya ayahnya Raline tidak percaya dan tertawa terbahak bahak, namun melihat sorot mata Ness yang sangat serius dia langsung terdiam dan mengerti.


Ness yang berada dalam kehangatan itu dan kecairan suasana merasa bahwa hidup inilah yang ingin dirasakannya, seketika sikap dinginnya perlahan seperti menabrak tembok dan langsung terkunci di suatu tempat.


Ness seperti memiliki 2 sikap, dan sekarang sikap hangat dan mudah akrabnya dan bergaulnya yang keluar, dan sikap dinginnya terkunci.


Ibunya Raline yang melihat suaminya sedang mengobrol ceria juga senang karena sudah lama tidak melihat suaminya seperti itu.


Dia melirik pada Raline yang sedang memperhatikan Ness mengobrol dengan ayahnya itu dengan mata yang berbinar dan tersenyum.


Tak lama ia pun menghampiri semuanya, dan mulai mengobrol juga.


Dalam obrolan itu, mereka mengatakan keputusannya ada pada Ness, dia mau bagaimana.


Ness bingung dan tidak tahu, dia bukan suaminya.


Namun orang tuanya Raline mengerti itu dan mengatakan jangan khawatir tentang apapun, yang terpenting Ness tidak keberatan dan siap menjaganya juga harus saling mendekatkan diri untuk membuat hubungan yang lebih dekat.


Orang tuanya Raline mengatakan itu karena mempercayai Ness setelah mendengar cerita panjang lebar Ness yang mengatakan dirinya yatim piatu dan berjuang untuk pergi ke luar negeri.


Ness tidak tahu harus bagaimana lagi waktu itu, namun itulah yang diinginkan hati kecilnya. Kehidupannya tidak membosankan lagi.

__ADS_1


__ADS_2