Great Broker

Great Broker
Pemikiran


__ADS_3

Raline Audrey seorang wanita karir, dia harus memilih jalan ini karena mengikuti aturan keluarga, dimana dirinya harus bisa berbisnis dan bisa melanjutkan perusahaan yang sudah di bangun oleh keluarganya selama berpuluh puluh tahun.


Keluarga yang mempunyai banyak pengaruh di Indonesia, mempunyai jaringan yang luas karena banyak orang yang bekerja untuk perusahaannya.


Ness tidak tahu bahwa latar belakang keluarga Raline cukup dalam, dia pun tidak ingin mengetahuinya untuk saat ini, terkecuali jika orang orang di keluarganya mengancam dirinya atau apapun.


Setelah mendengar ucapan Ness bahwa dirinya ketahuan sedang stalking instagtam Ness, Raline merasa malu dan wajahnya menjadi merah panas, jika di guyur oleh air dingin mungkin akan langsung mengeluarkan asap.


Raline langsung memalingkan mukanya, Ness melihat itu hanya tersenyum dan mengambil gelas untuk mencicipi lagi minuman yang dia pesan tadi.


"Aku seorang agen sepak bola itulah pekerjaanku, aku tidak tinggal di Indonesia karena bakat yang terbilang cukup buruk. Aku datang ke Indonesia juga sesekali ketika aku menemukan pemain yang cocok dan memiliki potensi untuk bermain di Eropa. Sekarang aku di Indonesia dan sedang menjemput pemain itu."


Raline mendengarkan dengan teliti sambil memandangi Ness dengan serius, wajahnya di tahan oleh kedua tangannya yang terletak di atas meja.


Ness melihat tingkah ini hanya bisa tersenyum manis, ia tidak menyangka bahwa wanita di depannya bisa bersikap serius dan manis.


Ness kagum dengan wanita di depannya yang bisa bersikap serius ketika mendengarkan orang lain berbicara serius, inilah yang jarang dimiliki orang lain.


Orang orang kadang tidak mau mendengarkan dan malah ada yang lebih parah yaitu menyerobot atau memotong pembicaraan orang lain.


Menghargai orang lain ketika berbicara merupakan suatu keharusan apalagi ketika berbicara serius, mungkin orang orang yang bisa mendengarkan dengan serius ketika orang lain berbicara serius akan menjadi orang yang sukses.


Raline bertanya lagi setelah pembicaraan Ness selesai, dia bertanya kapan dirinya akan kembali ke Eropa lagi. Ness menjawab dalam seminggu dirinya akan kembali ke Eropa, Raline menanyakan tepatnya negara Eropa mana.


Ness tidak bisa menjawab itu, dirinya juga tidak tahu, dirinya belum memikirkan kemana ke dua pemain ini pergi.


Ketika pulang juga, Ness harus memikirkan ini.


Keduanya terus mengobrol, dan ketika jam menunjukan pukul 11 malam, Ness mengatakan bahwa dirinya harus kembali dan tidur, meski tidak ada kegiatan besok, Ness harus menjaga pola tidurnya.


Sebelum pergi, Ness juga mengucapkan untuk tetap bekerja keras dan tetap bersabar dalam semua hal.


Ness mengatakan ini karena telah mendengar cerita Raline tadi.

__ADS_1


Ketika Ness akan pergi, Raline memintak kontak pribadi Ness, namun Ness hanya memberikan kartu namanya. Dimana di sana terdapat nomor satu satunya yang bisa berkomunikasi secara internasional.


Nomor telepon Ness merupakan nomor telepon internasional, dimana bisa berkomunikasi dengan negara negara yang jauh dan biaya pemanggilannya relatif kecil seperti biaya panggilan lokal biasa.


....


Setelah pulang ke hotel, Ness langsung merebahkan dirinya di atas kasur.


Dia tersenyum, entah kenapa.


Kemudian dia teringat misi sistem untuk mencari pacar atau pasangan.


Apakah harus dia?


Tidak, tidak!


Aku baru mengenalnya.


Setelah dalam perenungan yang dalam, Ness akhirnya memutuskan.


Penyelesaian misi itu sudah dipikirkan, Ness juga sekarang teringat perkataan Raline, kemana kedua pemain yang baru ini harus pergi.


Apakah Italia?


Apakah Prancis?


Apakah Portugal?


Apakah German?


Atau yang lainnya.


Ness bingung, kemudian dia membuka handphone nya dan melakukan searching untuk mengetahui kondisi klub klub yang memiliki kontak dengannya.

__ADS_1


Italia, Serie B SPAL sedang baik baik saja dan sekarang berada di puncak klasemen, dimana mereka bisa di tingkatkan ke serie A. Namun Ness kemudian mengingat keadaan SPAL di musim berikutnya.


SPAL yang berada di serie A tidak bisa melakukan penerobosan dan hanya bisa finish di urutan 17, meskipun sejarah pasti berubah seperti yang terjadi pada Sparta Rotterdam sekarang, Ness harus memikirkan keadaan kedalaman klub yang bisa memberikan perkembangan untuk pemainnya.


Liga German, Bundesliga 2 Stuttgart, dimana musim sekarang berada di puncak dan akan di promosikan ke Bundesliga utama, di musim 2017/2018 nanti, Stuttgart akan duduk di posisi 7 dimana sebagai kuda hitam yang berhasil di promosikan dan langsung merangsek ke papan tengah.


Liga Prancis, Ligue 1, Stade Rennais. Ness memiliki kontak dengan tim ini karena tim ini sangat menghargai pemain muda dan sangat tertarik dengan Ness, yang mengawali karirnya sebagai agen di usia muda.


Orang orang di Stade Renais sama seperti orang orang di Sparta Rotterdam, mereka menghargai Ness.


Stade Rennais musim 2016/2017 ini akan finish di urutan ke 8 dan musim depan 2017/2018 akan finish di urutan ke lima.


Liga Portugal, Liga Primer, Sporting Braga. Klub yang dibilang termasuk klub klub besar ini mengizinkan Ness untuk membangun hubungan, mereka penasaran dengan Ness dan tak menghalangi jalan Ness untuk memulai karirnya.


Meski mereka tidak tau pemain apa nantinya, mereka tetap menghargainya.


Sporting Braga, musim 2016/2017 finisih di urutan ke 5 dan mengikuti kejuaraan UEL, di musim depan 2017/2018 akan finish di urutan ke 4 dimana akan tetap mengikuti kejuaraan UEL.


Setelah melihat semua informasi itu, Ness melewatkan Spanyol, karena bermain di Spanyol, sama seperti bermain di Inggris, benar benar harus memiliki kualitas yang bagus. Spanyol, Ness melewatkan dulu, Spanyol akan jadi tujuan ketika pemainnya sudah matang dan bisa membuktikan nilainya.


Ness kemudian melihat informasi itu dan harus memutuskan kemana mereka harus pergi.


Memikirkan Sporting Braga, yang akan tampil di kejuaraan UEL, akan terlalu cepat untuk pemainnya dan tidak bisa beradaptasi dengan baik.


Ness mencoret Liga Portugal dari pilihannya, Ness juga mencoret Italia karena SPAL tidak memungkinkan.


Hanya tersisa 2, dimana Prancis dan German.


Melihat hasil akhirnya dengan teliti, Ness memutuskan bahwa ke dua pemain ini harus berada di Prancis, supaya pemainnya tidak cepat sombong. Jika di kirim ke German di mana tim Stuttgart adalah tim kuda hitam yang akan tampil baik di musim depan, namun melihat ini, klub pasti mempertahankan pemainnya dari musim sebelumnya.


Setelah menetapkan tujuannya, Ness juga tidak langsung menelpon pihak lain karena dirinya masih di Indonesia, jika membuat janji sekarang akan terlalu lama.


Rebahan di atas kasur, Ness memandangi langit langit kamar hotelnya itu, ia merasa pusing memikirkan banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan nantinya. Namun ini juga harus di selesaikan karena pekerjaannya adalah seorang agen.

__ADS_1


__ADS_2