Great Broker

Great Broker
PSSI


__ADS_3

Pertemuan dengan orang tuanya Raline sangat berbekas di benak Ness karena merasakan kehangatan.


Di akhie pertemuan itu, Raline juga berbicara pada Ness ingin mengikuti kemanapun Ness pergi supaya lebih mengenal.


Awalnya Ness langsung menolak karena berbahaya.


Namun setelah di paksa oleh Raline, Ness pun menyerah. Ness juga merasa bahwa jika ada Raline disisinya dia tidak kesepian.


Jadi Ness menyetujui permintaannya. Ness juga harus belajar untuk mendekatkan diri dengan Raline apalagi Raline sudah berjuang demi kepentingannya itu.


Setelah peremuan selesai.


Ness yang berada di hotel Jakarta itu tidak lupa meningkatkan pemain pemainnya.


Dimana, Ryan Abdullah langsung menginjak OVR 83, Bima Athallah menginjak OVR 81, dan untuk Ahmad Alfarizi hanya sampai 78 karena potensinya yang hanya 83.


Ness hanya memiliki sisa sedikit kartu pemain, dimana kartu pemain yang paling berguna adalah Heung Min Son dan Daniel Parejo.


Sisanya hanya pemain dengan posisi GK, LB, CB, ST.


Dimana Ness belum memiliki pemain dengan posisi penjaga gawang, jadi di simpan.


Sama halnya dengan pemain yang berposisi sebagai pemain bertahan winger kiri dan Centre backnya, apalagi penyerang.


Jadi Ness menyimpannya.


2 hari Ness lalui dengan tenang dan senang juga penuh warna karena Raline mengajaknya bermain. Ness benar benar seperti berubah sepenuhnya.


Di saat hari ke 3, dimana Ness harus menghadiri pertemuan yang di adakan PSSI, Ness datang sendiri dan tidak mengajak Raline karena ini merupakan pekerjaan.


Di pertemuan itu, PSSI mengucapkan banyak terima kasih kepada Ness karena telah membukakan jalan bagi para talenta muda Indonesia.


Ness tidak mempernasalahkannya.


Makan makan di adakan, ketika selesai makan, obrolan menjadi lebih serius.

__ADS_1


PSSI meminta kejelasan niatnya Ness dan lain sebagainya, awalnya Ness kesal dan marah karena seperti tidak dipercayai, Ness disitu berpikir mungkin klub klub Eropa mengandalkan Ness untuk menaikan eksposure mereka.


Meski awalnya PSSI tidak peduli, tapi PSSI juga harus memperhatikan kemana arah ini akan bertujuan.


Ness kemudian menjelaskan semuanya dan menceritakan semuanya tentang mimpi mimpinya.


Ness disana seperti anak kecil, dan PSSI tentu saja senang.


Di tengah obrolan, PSSI meminta saran pada Ness apa yang harus di lakukan PSSI dan lain sebagainya.


Awalnya Ness bingung dan terkejut karena dia bukan siapa siapa, namun disitulah kesempatannya.


Ness mengatakan banyak hal hal buruk terlebih dulu tentang persepak bolaan Indonesia, dimana adanya mafia dan lain sebagainya.


Ness meminta PSSI untuk memberantasnya terlebih dulu dan membersihkan bagian bagian dalam organisasi PSSI nya juga.


Ness berani berkata begini karena Ness mengobrol serius ini hanya dengan ketuanya saja.


Di akhirnya, Ness memberi saran untuk membangun fasilitas fasilitas bertarap Internasional namun kepemilikian fasilitas fasilitas tersebut di miliki oleh PSSI dan hanya di gunakan untuk tim Nasional saja.


Untuk awalnya, Ness menjelaskan pembangunan pelatihan pemuda seperti akademi lagi, namun berbeda dengan akademi klub. Dimaana di pembangunan pelatihan pemuda ini juga ada asramanya dan sekolah bahasanya.


Ini seperti sebuah program khusus.


Dimana Indonesia mengumpulkan talenta talenta muda berumur 15 tahunan dari seluruh Indonesia dan menyatukannya kemudian melakukan seleksi dan yang lolos akan tinggal di asrama dan menerima program khusus ini.


Setelah berjalan, program ini akan Ness berangkatkan setiap 6 bulan sekali untuk berangkat ke Eropa dan bertanding dengan pemuda seumurannya dari klub klub Eropa.


Ness juga mengatakan, di bulan bulan biasanya, PSSI harus menyediakan 1 lawan setiap 1 bulan sekali melawan akademi akademi klub yang ada di Indonesia supaya para pemuda memiliki banyak pengalaman.


Jika ini berjalan lancar, Ness juga lebih memproritaskan untuk pemain timnas berumur 16 tahun atau 19 tahun di ambil dari program khusus ini, meski terbilang cukup egois untuk pemain lainnya namun ini cara terbaik, apalagi mengingat jika pada awal ini di umumkan, pasti para pemuda dari seluruh Indonesia juga senang untuk membela tim Indonesia melalui program khusus ini dan akan mempertaruhkan semuanya di awal, dan disini kita bisa melihat semangat dan mental para pemain.


Ness juga mengatakan, jika pemainnya sudah berumur 18 tahun, dirinya akan mengambil beberapa yang berpeestasi dan sudah siap untuk berangkat ke Eropa. Dan untuk yang lainnya, Ness juga harus memastikan terlebih dulu dan akan mencoba mengirim ke luar negeri namun tidak Eropa mungkin di negara negara Asia.


Meski begitu itu merupakan sebuah kebanggaan bagi pemain muda dan pengalaman yang baik.

__ADS_1


Setelah pembangunan program khusus ini, Ness menyarankan untuk membangun beberapa stadion bertaraf Internasional, dimana fasilitasnya juga bertaraf Internasional.


Ness mengatakan ini untuk jaga jaga, ketika tim Nasional Indonesia tidak lolos piala dunia, Indonesia memiliki harapan dimana menjadi tuan rumah karena stadion stadionnya bertaraf Internasional.


Setelah mengatakan itu semua, Ketua PSSI juga mengerti.


Namun yang di butuhkan dalan semua rencana ini adalah biaya dari semuanya, Ness juga mengerti ini dan menyarankan untuk mencari sponsor sponsor besar atau perusahaan perusahaan besar di Indonesia, juga menaikan biaya biaya pendaftaran liga dan tingkatkan pajaknya serta kurangi hadiahnya sedikit.


Meski terbilang egois dan kasar juga hitam, tapi mau bagaimana lagi, namun untung saja saran itu langsung di tolak oleh ketua.


Ketua hanya menyetujui akan mencari sponsor dan perusahaan perusahaan besar.


Ness juga mengatakan bahwa dirinya mungkin sekarang akan fokus berada di Indonesia terlebih dulu untuk membantu PSSI.


PSSI pun senang, namun PSSI mengkhawatirkan pemain pemain Ness yang di Eropa, Ness mengatakan untuk jangan terlalu khawatir.


PSSI menanyakan untuk mencapai target tercepat piala dunia kapan.


Neess mengatakn target tercepat adalah piala dunia 2022 dengan menggunakan kualifikasi Asia 2019 nanti, dimana 2 tahun lagi.


Ness mengatakan bahwa para pemainnya yang sekarang di Eropa sudah mampu bersaing untuk menguasai Asia tenggara, namun ketua tidak percaya karena pemain yang dibawa Ness adalahh para pemuda.


Ness hanya mengatakan bahwa jika dihitung, para pemainnya itu akan berumur 20 sampai 21 tahun dan cukup untuk menguasai sebagai yang terkuat di Asia Tenggara.


Namun jika ingin menguasai Asia sepenuhnya dan mengalahkan Jepang serta Korea dan lainnya, dia masih membutuhkan 1 tahun lebih.


Ketua hanya bisa mempercayai ucapan Ness.


Ketua itu mengumamkan kualifikasi Asia 2019, kemudian dia bingung siapa yang melatihnya, dan meminta saran pada Ness mungkin mempunyai kenalan di Eropa.


Ness menggelengkan kepalanya karena tidak mempunyai kenalan pelatih yang menganggur.


Perbincangann menjadi lebih santai karena obrolan obrolan serius sudah mereka lewati, Ness awalnya mengira ketua PSSI tidak akan menerima saran sarannya, namun setelah diterima dia juga lega dan senang.


Setelah panjangnya dan lebarnya obrolan, waktu juga tak terasa sudah sangat larut, Ness pun pulang dengan kelegaan hati karena sudah memiliki koneksi di PSSI dan sudah membantunya memberi beberapa saran yang berguna.

__ADS_1


__ADS_2