
Ness yang sudah membuka kartu pemain tingkat perak dua kali itu, masih memiliki 3x kartu pemain tingkat perak yang tersisa.
Tak ingin menyisakan 1 pun kartu pemain tingkat perak, Ness langsung membuka kartu pemain tingkat perak ketiganya.
Segera.
Nama : Andriy Pyatov ( 31 tahun )
Posisi : GK
OVR : 76
Karakteristik : Leadership
Mental : 35
Diving : 73
Handling : 69
Kicking : 78
Reflexes : 75
Speed : 44
Positioning : 83
Penggunaan kaki : Kanan
Kaki kanan : 3 bintang
Kaki kiri : 1 bintang
Pemain yang di hasilkan ini memiliki posisi sebagai penjaga gawang lagi, ini pemain dengan posisi penjaga gawang ketiga yang dimiliki Ness. Ness tidak menyangka bahwa pembukaann kartunya ini akan menghasilkan 3 pemain dengan posisi penjaga gawang sekaligus.
Dimana 1 pemain posisi penjaga gawang dari pembukaan kartu pemain tingkat perunggu dan 2 dari pembukaan kartu pemain tingkat perak.
Ness melihat bahwa pemain dengan posisi penjaga gawang ini memiliki kualitas yang benar benar hampir seperti yang sebelumnya.
Ness juga menemukan bahwa kualitas penggunaan kaki dari para pemain dengan posisi penjaga gawang ini relatif buruk buruk, mungkin karena jarang menggunakan kaki dan hanya berfokus pada lainnya.
Tidak mempermasalahkannya lagi seperti sebelumnya, Ness langsung membuka kartu pemain tingkat perak keempatnya.
Dan segera.
Nama : Lucas Biglia ( 29 tahun )
Posisi : CDM, CM
OVR : 77
Skill : Long passer
Karakteristik : Leadership
Mental : 75
Pace : 61
__ADS_1
Shooting : 64
Passing : 78
Dribble : 77
Defending : 74
Physic : 63
Penggunaan kaki : Kanan
Kaki kanan : 4 bintang
Kaki kiri : 4 bintang
Ketika pemain ini muncul, Ness akhirnya menghela nafas lega.
Akhirnya pemain yang dikenal muncul juga, Ness tidak menyangka bahwa Lucas Biglia termasuk dalam jajaran pemain tingkat perak. Dia hanya memiliki rating 77, meski begitu Ness masih tidak percaya karena Lucas Biglia benar benar memiliki kualitas yang bagus setidaknya jika memang berada dalam jajaran kartu pemain tingkat perak, harusnya memiliki nilai rating 80, dimana puncak dari nilai pemain tingkat perak.
Tapi Ness juga tidak bisa apa apa, dia bersyukur mendapatkan pemain yang dikenal atau diketahuinya.
Ini juga semakin meyakinkan Ness akan asumsi asumsinya tadi, meski tadi tadi Ness sudah yakin, namun sekarang lebih meyakinkannya lagi bahwa pemain yang muncul di musim panas nanti berposisi sebagai gelandang.
Segera, Ness juga membuka kartu pemain tingkat perak terakhirnya. Dia tidak mau berlarut larut dalam.kebahagiaan karena mendapatkan pemain yang diketahuinya.
Nama : Iborra ( 27 tahun )
Posisi : CM, CDM, CAM
OVR : 79
Skill : Power Header
Mental : 75
Shooting : 70
Passing : 75
Dribble : 70
Defending : 77
Physic : 79
Penggunaan kaki : Kanan
Kaki kanan : 4 bintang
Kaki kiri : 3 bintang
Ini membuat asumsi Ness semakin kuat ketika pemain tingkat perak menghasilkan pemain dengan posisi gelandang lagi.
Ness melihat bahwa pemain ini memiliki skill yang sangat aneh.
Seharusnya skill ini dimiliki oleh para penyerang agar membuatnya semakin taajam, namun ini dimiliki oleh seorang gelandang.
Ness tidak mau pusing dengan keanehan skill yang dimilikinya dan melihat nilai atribut lainnya.
__ADS_1
Dimana pemain ini memiliki nilai atribut yang normal untuk ratingnya yang berada dalam nilai 79 dan pantas masuk dalam jajaran pemain tingkat perak.
Kualitas penggunaan kaki yang dimilikinya juga relatif normal normal saja.
Setelah membuka semuanya, Ness akhirnya menghela nafas lega sembari melihat lihat semua kartu pemain yang telah di bukanya itu.
Ada sekitar 15 kartu pemain yang dimilikinya, ini modal yang bagus untuk kedepannya, namun juga akan segera habis jika pemain musim panas muncul.
Kartu pramuka tingkat lanjut yang dimilikinya juga belum di buka oleh Ness mengingat waktu sudah sangat larut dan perutnya juga sudah membunyikan bel tanda bahwa tubuhnl Ness lapar dan memerlukan makan atau sedikit asupan.
Ness akhirnya hanya bisa menyerah bahwa dirinya belum bisa membuka langsung kartu pramuka tingkat lanjut yang di belinya itu karena perutnya terus memberikan tanda bahwa tubuhnya benar benar lapar.
Ness tidak mau pingsan karena lemas atau karena rasa lapar. Ia pun segera keluar untuk mencari makan.
....
Beberapa jam kemudian, Ness yang sudah kembali ke hotelnya itu sudah berada dalam keadaan yang segar lagi karena tubuhnya juga telah diisi oleh makanan yang cukup bergizi.
Ness teringat niat awalnya untuk membuka kartu pramuka tingkat lanjut itu.
Namun segera, dia juga menemukan bahwa telponnya juga berbunyi.
Ness merasa bahwa gangguan selalu muncul ketika dirinya akan membuka kartu pramuka, apakah pertanda bahwa pemain ini memiliki karakteristik penganggu dimana akan merepotkan lawan lawannya nanti.
Ness tertawa akan asumsinya itu.
Dia segera melihat panggilan telponnya itu dan menemukan bahwa Raline menelponnya.
Setelah lama tidak melakukan panggilan pada Ness, Raline akhirnya menghubunginya lagi, dimaana sudah lebih dari 4 bulan kurang lebih tidak berkomunikasi.
Ness juga tidak memikirkannya, namun saat ada panggilannya, dia teringat bahwa ada wanita gila 1 lagi yang selalu menganggunya.
1 di Indonesia, 1 di Paris.
Ness segera mengangkat panggilannya itu.
"Aku menebak bahwa kamu akan segera ke Indonesia, benar kan?"
Raline tidak berbasa basi dan langsung to the point.
Ness yang di sebrang juga mengerutkan dahinya, dia tidak menyangka bahwa Raline akan tiba tiba menanyakan hal yang seperti ini.
Ness pernah bercerita bahwa dirinya akan kembali ke Indonesia setiap transfers musim dingin dimulai dan transfers musim panas dibuka.
Tampaknya Raline mencari tahu lebih dalam tentang kapan terjadinya transfers musim dingin dan transfers musim panas dibuka, sehingga ketika waktunya akan tiba dia sudah menanyakannya.
"Iyaa benar, namun tidak dalam beberapa hari ini, karena harus menunggu liga usai dan mengurus semuanya. Ada apa memangnya?"
"Tidak ada, hanya bertanya saja. Jika sudah di Indonesia kabari aku. Aku ingin bertemu denganmu karena sudah lama tidak bertemu."
Perkataan Raline langsung to the point lagi, dimana dia langsung menyatakann niatnya ketika Ness tiba di Indonesia.
Ness merasa bahwa kehidupannya sedikit berwarna ketika para wanita aneh dan gila menganggunya.
"Iyaa, nanti kukabari jika sudah selesai semua urusan di Indonesia juga supaya lebih tenang dan nyaman jika bertemu."
Kemudian, Raline berbicara patah kata lagi sebelum menutup panggilan telponnya.
Ness mengelap ngelap dahinya karena kesibukannya yang akan di ganggu oleh wanita datang lagi setelah berhasil luang dari Hande Ercel, kali ini Raline.
__ADS_1
Dia tidak habis pikir tentang bagaimana cara kerja otak kedua wanita itu sampai sampai terus menganggunya ketika waktunya benar benar akan sibuk.
Ness hanya bisa pasrah oleh keadaan, mungkin inilah dinamika hidup, dimana sering ada gangguan di setiap perjalanan.