
Malam hari tiba, esok Ness harus berangkat ke Eropa. Ness tidak perlu menyiapkan apapun karena tidak membawa banyak barang. Ia hanya mengingatkan kedua pemain barunya itu supaya tidak ada yang ketinggalan.
Jam keberangkatan Ness pukul 09.00 pagi.
Ness yang sedang menonton tv di kamar hotelnya terganggu oleh suara ketukan pintu. Ia sudah menjadi tidak takut lagi, mungkin karena kejadian pegawai itu kemarin. Dia juga menyangka ini mungkin pegawainya lagi.
Membuka pintu.
Ness terkejut dengan orang yang mengetuk pintu itu bukanlah pegawai melainkan Raline. Ness tidak tahu apa tujuan Raline datang kemari malam malam, apalagi dirinya tidak menelpon terlebih dulu.
Mempersilahkan masuk, karena malu oleh penyewa lain.
Setelah masuk, Ness menanyakaan tujuan kedatangannya malam malam. Namun pihak lain yaitu Raline tidak menjawab malah tersenyum.
“Ada apa datang malam malam begini? Jika ingin keluar, aku tidak bisa. Besok pagi harus berangkat.”
Raline masih tersenyum dan tidak menjawab, Ness mengerutkan keningnya karena pihak lain tetap diam dan tak menjawab.
Akhirnya.
“Aku kesini ingin menghabiskan waktu denganmu sebelum kamu pergi, karena aku tidak tau kapan kamu akan ke Indonesia lagi.”
Wanita ini!
Ness tak habis pikir dengan tingkah wanita ini.
“Kamu seperti orang tidak punya kegiatan atau kerjaan lain saja, menghampiri pria malam malam begini.”
“Jika ingin tetap disini, sampai jam 10 saja. Waktumu hanya 2 jam.”
Setelah mengatakan itu, Ness duduk di sofanya dan mengeluarkan handphone nya.
Raline masih memperhatikan kegiatan Ness itu.
….
Keesokan paginya,
Ness bangun pagi sekali karena telpon yang berbunyi, ia sudah terbiasa dengan panggilan pagi pagi begini. Ini adalah Raline yang setiap hari membangunkannya.
Meski Ness merasakan warna baru di setiap paginya,
__ADS_1
namun ia masih merasa ngantuk.
Berapa menit kemudian, Ness sudah bersiap siap dan sudah mandi. Dia menelpon keduanya dan menanyakan kesiapannya untuk berangkat, mereka menyatakan sudah siap dan akan berangkat ke bandara dalam 30 menitan lagi.
45 menit kemudian.
Ness sudah tiba di bandara, dia menemui kedua pemainnya itu yang datang bersama keluarganya. Sedangkan untuk Jefri, ia datang sendiri karena kakeknya tidak kuat untuk berjalan jauh.
Jefri juga memberikan handphone nya kepada kakeknya itu supaya bisa berkomunikasi dan mengirim uang nantinya.
Ness tau keadaan Jefri dan itu juga merupakan usul
dari Ness supaya Jefri bisa tenang tinggal disana, bisa berkomunikasi dengan kakeknya juga.
“Bagaimana? Tidak ada yang ketinggalan?”
“Tidak Tuan Ness, baiklah keberangkatan kita sebentar lagi. Tunggu panggilan saja!”
“Ohiya, aku lupa memberitahumu, setelah kupikir pikir dengan matang, aku akan membawa kalian ke Francis, klub yang ada di Ligue 1.”
Setelah mengatakan itu keduanya tersenyum senang, nyatanya selama ini mereka menunggu dan tidak tau akan pergi ke klub mana, namun setelah mendengar itu mereka akhirnya lega dan senang.
Menunggu sedikit waktu, akhirnya panggilan untuk keberangkatan ke Francis tiba, Ness dan rombongannya pergi.
Ketika menunggu tadi, orang tua Jamil berbicara dengan Ness mengenai keadaan yang akan terjadi di sana. Ness memberi tahu semuanya dengan jujur dan tidak menutup nutupinya. Dia juga akan memberitahu Jamil supaya terus mengabari orang tua nya agar tidak khawatir, orang tua Jamil senang mengenai perkataan Ness itu.
Telpon dari Raline juga tidak masuk ketika Ness menunggu keberangkatan, yang memungkinkan Ness sedikit tenang.
…
Dalam penerbangann Ness ke Francis kali ini, ia membutuhkan waktu penerbangan sekitar 16 jam kurang lebih, ini termasuk penerbangan langsung dan tidak transit kemana mana terlebih dulu namun harganya lebih mahal.
Ness tidak mempermasalahkan harganya.
Setelah duduk di di dalam pesawat, Ness dan keduanya tidak mengobrol.
Mungkin mereka gugup karena mereka memikirkan perkataan Ness ketika menunggu panggilan tadi, mereka mendengar Ness berkata untuk bersungguh sungguh karena klubnya berada di Ligue 1 dan termasuk tim papan atas juga.
Mereka juga harus bekerja keras karena banyaknya saingan yang akan muncul kedepannya.
…
__ADS_1
16 jam kemudian.
Ness dan keduanya tiba di Bandara Charles de Gaulle, Paris, Francis. Setelah tiba, keduanya merasakan suasana Eropa. Apalagi Jefri yang jarang pergi berlibur, sedangkan Jamil pasti sering berlibur dengan keluarganya. Jefri bepergian menggunakan pesawat mungkin ketika dirinya bepergian dengan tim untuk bertanding ke kota yang harus melintasi laut.
Ketiganya pergi ke hotel yang dulunya di sewa oleh Ness ketika berada di Paris untuk mengurus perusahaannya itu.
Di perjalanan, Ness juga teringat masalah perusahaan yang belum ada karyawannya. Meskipun sudah merencanakan, Ness masih belum bisa menemukannya dan mengurusnya. Ness harus mencari mahasiswa yang baru lulus dengan kebangsaan Indonesia supaya mudah di percaya dan bisa membantu dengan cepat.
Inilah rencana Ness, jika sudah berkembang, dirinya bisa memperluas ke jaringan orang orang Eropa dan mempekerjakannya sebegai karyawan.
TIdak butuh waktu lama untuk sampai di hotel karena hotel yang disewa juga dekat dengan bandara.
Ness memesan 2 kamar, dimana 1 kamar untuknya dan 1 untuk mereka berdua.
Ketika keduanya sudah masuk ke dalam kamar, Ness juga masuk dan merebahkan dirinya di sofa. Ia lelah karena perjalanan jauh ini.
Keesokan paginya, Ness terbangun dari tidurnya. Ia tertidur di sofa dan tidak sadar karena mengingat perjalanan panjang kemarin dan tiba pada dini hari jadi dia tertidur di sofa.
Ness melakukan hal hal kecil terlebih dulu.
Setelah semuanya beres, Ness mengeluarkan handphone nya untuk melakukan panggilan telpon pada kenalannya itu.
Segera panggilan tersambung.
“Hallo, Tuan Nicolas.”
Ness menyapa kenalannya itu yang merupakan Presiden klub Stade Rennais. Ketika Ness melakukan perjalanan waktu itu ke Stade Rennais, ia tidak sengaja bertemu Presiden Nicolas langsung dan mengajukan niat sebenarnya.
“Hallo Tuan Ness. Jarang jarang anda menelpon Tuan Ness, apakah ada yang penting?”
“Tentu ada.”
“Ohh apa itu?”
“Tuan Nicolas masih mengingat perkataanku waktu itu kan?”
“Tentu ingat, saya juga masih menunggu kedatangan anda. Sekarang klub sedang membutuhkan prajurit muda, di akademi ada 1 pemain yang bagus namun umurnya masih 15 tahun dan masih butuh waktu 1 tahun sebelum debutnya.”
Ness samar samar mengingat pemain muda bertalenta dari Stade Rennais ini, Gelandang muda yang sangat diminati oleh Raksasa Spanyol, Real Madrid. Ness mengagumi visi dari tim pramuka Real Madrid, meskipun masih muda namun sudah terlihat pantas dan cocok untuk Real Madrid.
Eduardo Camavinga, prajurit muda tim nasional Francis, Ia bergabung dengan tim Nasional tahun 2020 dan merupakan gelandang yang akan menjadi penerus Paul Pogba di masa depan nanti. Ia juga sempat mengejutkan dunia karena berhasil bergabung dengan Real Madrid di usianya yang muda yaitu 18 tahun. Bergabung dengan Real Madrid di tahun 2021 dengan nilai transfer 30 juta Euro.
__ADS_1