Great Broker

Great Broker
Mimpi, ambisi, tekad dan Semangat


__ADS_3

Ness mengalami kontemplasi yang cukup dalam di saat mendengar perkataan yang sama. Dia juga sebenarnya tidak tahu kenapa dirinya seperti ini.


Dia waktu itu sempat memikirkan perkataan sistemnya yang mengatakan bahwa sikap dingin Ness terlalu berlebihan, namun selama memikirkan, Ness juga tidak menemukan jawaban atas pertanyaan kenapa dirinya dingin.


Dia sempat berasumsi mungkin karena sistem, namun sistem juga memberi tahunya dan mengingatkannya jadi tidak mungkin, dia kemudian berasumsi lain bahwa mungkin ini efek dari berpindah waktu ke masa lalu yang membuat kepribadian seseorang sedikit terguncang ketika berada di dimensi ruang dan waktu yang gelap pada waktu itu.


Setelah di pikir pikir dengan serius olehnya, Ness malah pusing dan tidak bisa mengimbangi pengetahuannya itu dengan apa yang terjadi, jadi setelah itu Ness hanya bisa membiarkannya berjalan dengan biasanya dan tidak lagi mempermasalahkannya.


Namun sekarang, dirinya teringat kembali karena mendengar perkataan yang sama lagi.


"Maaf."


Ness mengatakan maaf pada Hande Ercel, dia tidak tahu harus menjawab dengan kalimat apa karena dirinya juga tidak tahu.


Hande Ercel yang berada di sebrang itu tersenyum mendengar permintaan maaf Ness,


"Baiklah, aku maafkan tapi kamu harus menemani aku."


"Bukannya banyak pria yang ingin menemanimu? Kenapa harus aku?"


"Karena aku inginnya kamu, kamu terlalu misterius yang membuatku sedikit tertarik denganmu."


"Haaahhh,"


Ness menghela nafas, dia tidak habis pikir bahwa wanita tercantik di masa depan tertarik padanya.


"Baiklah, jadi bagaimana?"


"Temani aku berjalan jalan dan menghabiskan waktu."


.....


2 hari kemudian, Ness yang berada di hotel itu telah menyiapkan semua kebutuhannya yang selalu dia bawa dan pakai selama ini.


Dirinya sekarang akan kembali ke Belanda karena Zain, Fathur dan pihak Ortuseight sudah memanggilnya beberapa kali untuk mengurus masalah sponsor itu.


Ness tidak lupa, namun dirinya terlambat karena harus menemani wanita aneh yang meminta menemaninya menghabiskan waktu.

__ADS_1


Selama 2 hari terakhir, Ness merasa bahwa dirinya bukan seorang agen sepak bola. Namun seperti seorang pengarang cerita.


Dirinya di paksa oleh Hande Ercel untuk menceritakan kisahnya selama hidup sampai sekarang, karena Hande Ercel ingin tahu lebih tentang Ness.


Walau Ness menganggapnya bukan rekan dekat namun dirinya masih menceritakannya. Dia juga berpikir selama ini bahwa kehidupannya terlalu membosankan, dimana dirinya selalu bolak balik antar negara jika ada pekerjaan, namun jika tidak ada dirinya hanya diam di rumah atau hotel untuk menghabiskan waktunya sehari hari.


Jadi dia membutuhkan setidaknya teman.


Ness juga bisa bebas dari Hande Ercel karena Hande Ercel ada panggilan tiba tiba yang membuatnya harus pergi dan melanjutkan pekerjaannya.


Akhirnya setelah itu Ness bisa bebas dan mengurus semua pekerjaannya lagi.


30 menit kemudian, Ness sudah berada di dalam kereta cepat.


Ness menggunakan transportasi kereta untuk pergi dari Paris ke Amsterdam. Perjalanan kali ini akan memakan waktu 3 jam lebih.


...


Beberapa jam kemudian, Ness keluar dari kereta dan segera melanjutkan perjalanannya, mencari taksi untuk mengantar dirinya dari Amsterdam menuju ke Rotterdam, dimana peertemuannya di adakan disana.


Dalam taksi, Ness juga mengeceh handphone nya berulang ulang karena Zain sudah menelpon berkali kali namun Ness tidak menjawabnya.


Ketika Ness datang, pihak Ortuseight yang tidak lain adalah perwakilan dari Tuan Arif langsung senang karena urusannya beres.


Segera.


"Baiklah, langsung saja. Kontrak sudah sesuai dengan yang di bicarakan oleh Tuan Ness dan Bos saya waktu itu, ini merupakan salinan resminya dimana menyangkut kesediaan pemain menjadi Brand Ambassador kami. Disana keduanya hanya perlu menandatangani saja, dan semuanya selesai, Tuan Ness juga harus menanda tanganinya."


Segera semuanya di selesaikan dengan cepat.


Dan setelah semuanya selesai, pihak dari Ortuseight mengeluarkan beberapa bingkisan, dimana di dalamnya terdapat 2 kotak sepatu dan perlengkapan lainnya.


Dimana ada baju polos biasa dengan tulisan brand Ortuseight.


"Ini merupakan produk pertama kami, dimana kami membuat sepatu bola terlebih dulu. Dan yang lainnya akan menyusul segera setelah proses produksinya selesai."


Zain dan Fathur melihat sepatu bolanya memiliki kualitas yang bagus, meski sama modelnya namun warna nya berbeda.

__ADS_1


Serah terima sudah terselesaikan dan langsung menuju sesi photo untuk pengiklanan produk.


....


1 jam setengah telah berlalu, dimana semua proses untuk sponsor sudah selesai. Adegan photo untuk diiklankan juga tidak terlalu menarik karena hanya berphoto dengan menggunakan sepatu bola nya dan menunjukan beberapa gaya.


Pihak Ortuseight juga sudah pergi dan sekarang hanya tersisa 3 orang saja di dalam rumah.


"Jadi apakah kalian sudah mendapatkan izin dari klub?"


Ness tiba tiba berbicara mengenai pemanggilan kedua pemainnya ke timnas.


"Iya sudah kak, pelatih mengizinkannya dan memberi beberapa saran untuk tidak terlalu kelelahan agar kita bisaa segera kembali ke tim."


"Kapan perginya?"


"Seminggu lagi kita berangkat, karena kita juga harus beradaptasi dengan pelatih dan pemain lainnya."


Ness mendengar semuanya.


"Baiklah bagus jika begitu, semoga sukses dan lancar. Cepat kembali ke tim untuk membantu tim berada dalam jalur yang tetap supaya kalian bisa bermain di panggung UEL atau UCL. Kalian mau kan?"


Keduanya gemetar mendengar kompetisi UEL dan UCL di sebutkan, nyatanya, siapa yang tidak mau bermain di pertandingan besar seperti itu.


"Ingat, jika kalian sudah bisa bermain di sana, klub klub besar atau klub yang sedikit lebih besar dari klub kalian saat ini akan tertarik pada kalian. Dan jika itu terjadi maka tidak lama untuk Indonesia membuka pasar pemain sepak bola di Eropa dan membawa talenta talenta muda lainnya seperti kalian bermain di Eropa dan jika ada kesempatan mungkin kalian juga bisa bermain di piala dunia nantinya bersama rekan kalian semua."


Keduanya merasakan getaran yang sangat hebat di tubuhnya, sebelumnya mereka mencoba untuk menenangkan diri dari kata UEL dan UCL namun sekarang dirinya mendengar piala dunia, mana mungkin panggung sebesar itu mereka tidak mau bermain, apalagi membawa nama Indonesia.


"Baik kak, aku mengerti."


"Aku berharap pada kalian, karena kalian adalah senior nantinya di antara pemain pemain yang berada di bawah panjiku, jadi aku juga meminta bantuan kalian, semoga kalian tidak merasa keberatan untuk membantu aku, rekan rekan muda lainnya dan Indonesia untuk berpentas di panggung besar di masa depan. Aku percaya pada kalian."


Ness tersenyum dan mencengkram pundak kedua pemainnya itu, kedua pemainnya itu merasakan semangat yang lebih hebat dan kuat mengalir pada tubuh mereka.


Mereka juga merasakan semangat yang sangat besar dari Ness, mungkin mereka juga baru merasakan atau melihat bahwa agennya itu memiliki sesuatu yang tidak miliki oleh orang lain.


Yaitu, mimpi, ambisi, tekad, semangat yang begitu besar dari diri Ness.

__ADS_1


Keduanya melirik Ness yang berada di depannya, dan tidak sengaja bertemu dengan mata Ness yang sangat sangat serius, tubuh keduanya merasakan getaran yang lebih dahsyat lagi karena mereka tidak melihat rasa palsu atau candaan dari mata Ness yang sedang ber api api itu, melainkan keseriusan yang begitu dalam dan kuat menandakan bahwa dirinya sedang tidak berkhayal, berbohong atau bercanda.


__ADS_2