Guruku Ayah Anakku

Guruku Ayah Anakku
marah bisa menyelesaikqn masalah?


__ADS_3

Tak lama dokterpun datang, dan memeriksa Anna secara menyeluruh, berulang kali dokter itu memegang tangan Anna, perut dan yang lainya.


nampaknya sang dokter tidak terlalu yakin dengan apa yang ia rasakan, dokter terus mengulanginya, hingga dia benar-benar yakin.


"bagaimana keadaan putri saya?" tanya Sinta nampak khawatir.


"tak usah terlalu hawatir bu, pusing, mual dan muntah, biasa terjadi diawal kehamilan" ujar dokter cantik itu.


"kehamilan?" tanya Sinta meyakinkan apa yang barusan ia dengar.


"iya hamil bu, kalau menurut saya usia kandunganya mungkin sudah masuk usia empat minggu" ujar dokter itu yakin seratus persen. "kalau begitu saya pamit ya bu, untuk pemeriksaan yang lebih menyeluruh bisa langsung datang ke rumah sakit" pamit dokter itu sambil keluar dari dalam kamar di ikuti oleh Zidan dari belakangnya.

__ADS_1


Sinta terduduk tak percaya, putri yang selama ini ia jaga tengah mengandung?, bagaimana itu mungkin?. perlahan air matanya menetes, hatinya hancur, apa yang sebenarnya terjadi?.


begitu pula dengan Anna, dia hanya bisa membisu tanpa ekspresi, bahagia?, pastilah Anna bahagia mendengar kabar tentang kehamilanya, tapi hamil tanpa suami? apa yang harus dibahagiakan.


"bu, maafkan Anna" ujar Anna sambil bangkit dari tidurnya, memegang tangan ibunya dengan penuh kelembutan.


namun nampaknya Sinta sudah sangat kecewa, dia tidak bisa berpikir jernih, putrinya hamil tanpa sebuah ikatan?, rasanya mustahil, tapi itu benar-benar nyata, bagaimana mungkin dokter yang telah bersumpah untuk jujur membohongi pasienya sendiri?.


kehawatiran itu mulai datang, kenangan 20 tahun silam akan terjadi lagi, dimana Anna akan sepertinya dulu, menjadi remaja yang hamil tanpa suami, bagaimana nasib Anna nanti?, apalagi dalam kondisinya yang tak sempurna, apakah Anna akan kuat menahanya?.


Zidan berdiri mematung, ini semua salahnya, kalau saja dulu dia masih bisa menahan segala rasanya, hal ini tidak akan terjadi, tapi penyesalan selalu datang diakhir, kini Anna tengah mengandung, mengandung buah hati yang dibuat tanpa sengaja, apakah dirinya harus pergi dan membiarkan Anna membesarkan bayinya sendiri?,

__ADS_1


namun dirinya bukanlah seorang pecundang yang mundur sebelum perang dimulai, Zidan memberanikan dirinya mendekat kearah Sinta.


"maafkan saya, dalam hal ini semua adalah kesalahan saya, saya akan bertanggung jawab" ujar Zidan dengan keteguhan hatinya.


perlahan Sinta menatap wajah Zidan dengan tatapan nanar, amarahnya benar-benar sudah meluap, "jadi kau pria kurang ajar yang menghamili putriku?" tanyanya dengan nada yang menyentak.


Zidan hanya mengangguk. "kau pria bejat, kenapa kau lakukan ini pada putriku?"teriak Sinta histeris, sebelum tanganya melayang ke arah Zidan, Sinta malah terduduk tak berdaya, pria yang ia percayai untuk mengajari putrinya malah menghilangkan kepercayaan itu.


"tapi bayi ini tak bersalah, Anna tak bersalah, jangan menghukumnya dengan melakukan hal yang seperti ini, saya yang harusnya disalahkan, saya akan bertanggung jawab untuk menjaga mereka berdua" ujar Zidan dengan tekad yang kuat, sambil tanganya memegang tangan Anna erat.


"baiklah, aku akan membiarkan kalian menikah, asalkan penuhi syaratku!!!" ujar Sinta dengan penuh penekanan.

__ADS_1


setelah berpikir sejenak, Sinta memahami.


Zidan memang benar, Anna dan bayinya tidak bersalah, mengapa mereka harus dihukum?, lebih baik memikirkanya dengan kepala dingin, daripada memutuskanya dengan amarah, ini menentukan hidup si bayi dan ibunya.


__ADS_2