Guruku Ayah Anakku

Guruku Ayah Anakku
andai saja


__ADS_3

Eliza mengetuk pintu itu pelan, tak lama suara sahutan terdengar dari dalam fila, perlahan pintu itu terbuka, seorang wanita paruh baya berdiri tepat dihadapan Eliza.


"eh neng cari siapa?" tanyanya ramah,


"assalamualaikum..." suara itu terdengar keras, wanita paruh baya tadi langsung mencari asal suara, suara itu mengiang-ngiang ditelinganya. suara yang selama ini ia rindukan, dilihatnya Zidan tengah mendorong kursi roda Anna mendekat, rona bahagia terpancar dari wajah keduanya.


putra yang sudah bertahun-tahun tak pulang, kini datang bersama seorang wanita, walaupun pada saat hari pernikahan mereka sudah bertemu, namun rasa saat ini sangatlah berbeda, putranya terus mendakat, memberinya sebuah senyuman hangat.


wanita paruh baya itu langsung memeluk Zidan erat, rasa rindu yang sudah tak dapat terbendung lagi itu menetes keluar dari pelupuk mata, tetesan bening menandakan rasa syukur dan haru, akhirnya putra yang telah bitunggu beberapa tahun itu pulang kerumah.


setelah puas melepaskan semua beban rindu yang telah dikumpulkan bertahun-tahun, wanita paruh baya itu melirik wanita yang duduk di kuri roda, senyuman itu terlukis jelas, rasa bahagianya berlipat ganda dengan kehadiran janin dalam tubuh menantunya.


namun nampaknya Anna terlalu lelah, matanya terus terpejam.


"aduh kasihan, yuk bawa Anna masuk" ujar Ningsih sambil membuka pintu itu lebar.

__ADS_1



mata gadis kecil itu perlahan terbuka, matanya berkeliling mencari tahu dimana ia sekarang. Anna bangkit dari posisi tidurnya, kepalanya berdenyut kencang, Anna terus meringis sambil memegangi kepalanya.


manik matanya mendapati sebuah bayangan, dilihatnya Ningsih dan Zidan berjalan kearah Anna yang tertidur diatas ranjang.


"gimana udah enakan?" tanya Ningsih sambil tanganya memegang kepala Anna yang terasa hangat. Anna hanya mengangguk sebagai jawaban-nya.


cuac dipuncak memang sedang kurang baik, kabut tebal dan hujan gerimis melanda beberapa hari terakhir ini, membuat suhu udara puncak menjadi sangat dingin, tak heran bila Anna demam.


"bayinya udah tambah besar aja, udah USG belum?" tangan Ningsih terulur, mengusap perut Anna lembut.


sejak dari dulu, Ningsih sudah tahu alasan mengapa Zidan menikahi Anna, awalnya Ningsih kecewa pada putranya, karna telah begitu tega menghamili anak didiknya sendiri.


namun kini kekecewaan itu berubah menjadi sebuah rasa bangga dan bahagia.

__ADS_1


putranya berani mempertanggung jawabkan segala yang telah ia perbuat, dan kebahagiaan itu makin bertambah setelah mengusap perut Anna, tempat dimana cucunya berjuang untuk tumbuh.


"kalau di USG mah udah, tapi jenis kelamin bayinya susah keliatan" jawab Zidan.


"gimana kalau dicoba pake cara tradisional, kaya ngerujak misalnya" usul Ningsih.


"gak usah, cara tradisional kurang mujarab" tolak Zidan, memang sejak dari kecil Zidan tak pernah mempercayai segala macam mitos, menurutnya mitos itu cuman omongan belaka orang jaman dulu yang kurang masuk diakal.


"ya pasti gak maulah, namanya juga anak jaman sekarang, mereka lebih memilih untuk pake teknologi, dan pantes aja Zidan gak mau, soalnya dulu dia diperkirain lahir jadi perempuan" jawab Hardi (ayah Zidan), sambil berjalan mendekat.


mendengar ceritaanya membuat semua orang tertawa.


namun mata jahat itu mengintai keluarga bahagia dari balik pintu, Eliza tampak kesal melihat keluarga itu bahagia, harusnya saat ini aku yang ada disana batin Eliza berkata. mungkin kalau hari itu pernikahanya dengan Zidan tidak dibatalkan, Eliza saat ini akan menjadi orang yang paling bahagia. dan dia tidak akan mungkin menjalin sebuah hubungan dengan Ardi.


"kalau aku tidak bisa bahagia, orang lain juga tidak boleh bahagia" gumam Eliza pelan, raut kebencian terpancar nyata dari wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2