
Beruntungnya Anna mendapatkan seorang Zidan sebagai pendamping hidupnya, walaupun hubungan mereka berawal dari sebuah kesalahan, tapi kini mereka benar-benar yakin, mereka ditakdirkan untuk bersama.
Anna menatap Zidan dengan tatapan sayang, "mas!!" tanpa sadar kata itu keluar dari mulutnya.
Zidan yang masih mengerjakan pekerjaan rumah terkesiap dengan panggilan baru itu, biasanya Anna akan memanggilnya dengan kata pak ataupun kamu. tapi kali ini berbeda, kata 'mas' yang Anna lontarkan membuat jantung Zidan berdegup sangat kencang.
wajah Zidan bersemu merah, apakah dirinya sudah diterima oleh Anna?, pikiran Zidan benar-benar runyem, antara bahagia dan sebuah kehawatiran bercampur menjadi satu.
"apa dek?" balas Zidan untuk menghilangkan sedikit rasa gugupnya, Zidan tak mampu menatap wajah Anna, tanpa berbalik ataupun sekedar meliriknya.
"mas" suara itu terdengar lembut, membuat badan Zidan bergetar hebat, "apa dek?" tanya Zidan masih membelakangi Anna, "mas" suara itu tak lagi terdengar lembut, Zidan akhirnya memberanikan diri, membalikan badan-nya karna panggilan itu makin berbeda.
dilihatnya Anna sedang terbaring diatas sofa, tanganya terus terangkat dan melambai seperti seorang bayi yang ingin di gendon, tunggu, apakah Anna ingin digendong seperti bayi?, batin Zidan terus berkata, posisi Anna saat ini seperti ingin diberi pelukan, apakah Anna meminta sebuah pelukan?.
__ADS_1
"mas bantu aku ke kamar mandi, udah gak tahan nih" suara Anna membuyarkan lamunan Zidan, terlalu berharap bisa membuat orang sakit hati.
Zidan segera mengangkat tubuh Anna, mungkin belum saatnya Anna menerimanya dengan sepenuh hati, tapi mungkin suatu hari nanti Anna akan menganggapnya sebagai seorang suami, bukan hanya ayah untuk si bayi.
waktu terus bergerak maju, tak terasa, mereka sudah sampai dipengujung hari, sambil memandang mentari terbenam dari jendrla, Anna menikmati setiap detik dan menitnya,
namun tangan itu mendorong kursi rodanya menjauh, Zidan segera menutup gordeng dan membawa Anna kedalam kamar, Anna kaget karna itu terjadi tiba-tiba.
Anna paham, pasti Zidan sedang mengalami sesuatu, tangan-nya mengelus kepala Zidan lembut, ternyata perbedaan usia yang cukup jauh tak membatasi sebuah hubungan.
"kenapa, ada masalah?" tanya Anna masih mengelus kepala Zidan sayang. tak ada balasan, Zidan masih setia menciumi perut Anna, menandakan dirinya sangatlah sayang.
"mau lihat si bayi?" tanya Anna lagi, ada sebuah gerakan yang Anna rasakan, kepala Zidan perlahan mengangguk setuju.
__ADS_1
"kalau gitu besok kita ke dokter ya, ketemu sama si bayi" ujar Anna, wajah Zidan terangkat, menatap wajah Anna dengan tatapan sayu, perlahan senyuman itu terlukis jelas.
"dek mas sayang adek" ujarnya masih menatap wajah Anna, mendengar pengakuan itu membuat Anna benar-benar malu, wajahnya perlahan memerah, "adek juga sayang mas" jawab Anna sambil menyunggingkan senyuman termanisnya.
" boleh gak mas ketemu bayinya sekarang?" tanya Zidan.
"gimana caranya?, ketemu bayinya juga musti di USG dulu"
"gini deh mas kasih tau" ujar Zidan, perlahan bibirnya menciumi wajah Anna, lalu tangan-nya meraba dua senjata yang nantinya akan menjadi pavorit si bayi, perlahan mereka mulai larut dan hanyut dalam buai nafsu yang sudah meronta.
hal erotis itu tak dapat dihindarkan, perlahan tubuh mereka saling menyatu, pikiran mereka perlahan kosong.
rasa ingin saling memiliki itu perlahan datang.
__ADS_1