
"sepertinya Eliza sudah cukup jauh, aku akan mencoba mencarinya ke bandara, terima kasih atas bantuan-nya" ujar Ardi sambil mengantarkan Anna pulang, lalu dirinya pergi untuk kembali mencari Eliza.
Anna melihat sekeliling, dia tidak menemukan Zidan dimana-mana, dan dilihatnya jemuran itu belum selesai. Anna berpikir sejenak, mana mungkin Zidan menginggalkan pekerjaan yang masih menumpuk pikir Anna heran.
lalu Anna menggerakan kursi rodanya masuk kedalam rumah, kini dirinya sampai didepan pintu kamarnya, namun saat Anna mencoba untuk membuka pintu, pintu itu terkunci dari dalam.
Anna mencari kunci cadangan yang biasanya disimpan didalam laci, dan kunci itu ada, dengan segera Anna membuka pintu kamarnya lalu segera masuk.
alangkah kagetnya Anna saat melihat apa yang ia lihat, Zidan terikat diatas kasur dengan mulut yang dilakban.
dan dilihatnya Eliza sedang duduk sambil memainkan pisau buah ditangan-nya.
"Eliza apa yang kau lakukan pada suamiku?, lepaskan dia" teriak Anna mambuat Eliza bangkit dari duduknya.
"yang kita tunggu sudah datang rupanya" ujar Eliza dengan senyuman liciknya, mendekat kearah Anna yang masih ada didekat pintu.
"kita langsung keintinya saja, kali ini aku akan berkata jujur, dengan tegas aku mengatakan, aku tidak mencintai suamimu" ujar Eliza dengan penuh penekanan.
__ADS_1
"lalu apa yang kau lakukan?" tanya Anna.
"aku hanya ingin meminta keadilan untuk hidupku" ujar Eliza lalu mendorong kursi roda Anna sampai menabrak dingding dan Anna tergeletak jatuh.
Zidan berusaha membuka ikatan itu, melihat Anna meringis kesakitan membuatnya pilu, namun sayang, ikatan itu terlalu kencang, kini Zidan tidak bisa melakukan apa-apa lagi.
"apa kalian bersedih?, namun kesedihan kalian belum setimpal dengan rasa sakit yang aku rasakan" ujar Eliza, air matanya perlahan keluar dari pelupuk mata.
"sudah cukup kalian berbahagia, sekarang kalian dengarkan aku baik-baik, aku Eliza, gadis sebatang kara, istri namun tidak bersuami, wanita yang tak pernah merasakan kebahagiaan selama sisa hidupnya, berada didepan kalian untuk menyadarkan kalian bahwa aku juga manusia" teriak Eliza histeris.
"aku tahu, tapi cobalah berkata jujur dari awal, aku bisa menjadi saudarimu" ujar Anna.
"sekarang aku ingin kalian melihatku baik-baik, melihat kehancuran si wanita hina yang kesepian ini, terima kasih untuk segalanya" ujar Eliza lalu menghunuskan pisau buah yang ada ditangan-nya keperutnya sendiri.
perlahan Eliza terduduk tak berdaya, dia tersenyum manis kearah Anna lalu kesadaran-nya benar-benar menghilang.
"tidak, Eliza tidak" teriak Anna histeris, dia tahu Eliza itu wanita yang baik, namun kecemburuan dan iri membuatnya gelap mata.
__ADS_1
Anna mencoba menahan rasa sakit diperutnya, perlahan kakinya dapat digerakan, Anna bangkit lalu mulai berjalan gontai kearah Zidan.
sakit diperutnya menjalar keseluruh tubuh, membuat Anna tak kuat untuk berdiri lagi, beberapa kali Anna terjatuh, sampai pada akhirnya Anna meraih tubuh Zidan, membuka bekaman dan ikatan ditubuh suaminya.
"dek adek gak papa?" tanya Zidan lalu memeluk istrinya erat. Anna menggeleng.
tak lama Ardi datang, dilihatnya Eliza sudah benar-benar tak sadarkan diri, "Eliza" teriaknya histeris sambil mencoba membangunkan istrinya.
Ardi memeluk Eliza erat, "Eliza maafkan aku" tangisnya menjadi-jadi. kalau saja Ardi tadi pergi kebandara, mungkin dia tak akan tahu kalau Eliza tengah terluka.
Ardi sadar semua ini terjadi karna kesalahan dirinya.
"mas perut adek sakit" ujar Anna, Zidan kaget saat melihat darah mengalir dipaha istrinya, dengan segera Zidan mengangkat tubuh istrinya lalu membawanya dengan segera.
"mas gimana bayi kita?" ujar Anna khawatir, air matanya terus mengalir menahan rasa sakit diperutnya.
"adek jangan ngomong apa-apa, percaya sama mas bayi kita baik-baik aja" ujar Zidan mencoba menenangkan Anna yang sudah kalang kabut.
__ADS_1
kini semuanya telah jelas, tinggal waktunya menyaksikan siapa yang akan berakhir.