
Mata bisa saja dibohongi, tapi menyangkut masalah hati siapapun tak bisa berbohong, mungkin itu yang saat ini Anna rasakan, dalam setiap menit detiknya Anna selalu berpikir, apakah perlakuan manis yang Zidan berikan itu bisa disebut dengan cinta?.
sesungguhnya Anna dalam dilema besar, kalau saja Zidan benar-benar mencintainya, kenapa tak ia ucapkan secara langsung?, pikir Anna, memang cinta itu tak perlu janji namun butuh bukti, tapi Anna takut, rasanya pada Zidan tak terbalaskan.
Anna juga sedikit bingung dengan perasaan yang ia rasakan, entah ini hanyalah perasaan kagum bercampur sayang, ataukah bisa disebut dengan cinta.
namun hatinya selalu memikirkan satu orang, Zidan, wajah itu selalu membayangi setiap gerak Anna, jantungnya berdegup kencang kala dekat dengan Zidan, apakah itu pantas disebut cinta?.
…
sesuai dengan perkataan-nya semalam, hari ini Anna akan melakukan USG, melihat tumbuh kembang janin yang ada dirahimnya.
__ADS_1
karna sebelumnya Anna tak punya temu janji dengan dokter, akhirnya mereka merelakan menunggu hampir satu jam untuk mendapatkan giliran.
tak lama nomer antrian mereka dipanggil oleh dokter, dengan segera Zidan mendorong kursi roda Anna masuk kedalam ruangan.
dokter cantik itu memerintahkan Anna untuk berbaring diatas ranjang, dengan sigap Zidan mengangkat tubuh Anna naik lalu menindurkan-nya.
"perutnya cantik sekali, beby nya pasti juga sehat" canda dokter Mirna, agar Anna merasa nyaman.
"janin-nya sehat ya bun, usia kandungan-nya sudah masuk 16 minggu, tapi jenis kelamin-nya masih misteri, beby nya ngumpet, jadi kalau bunda mau tau jenis kelamin beby nya, minggu depan bunda bisa USG ulang" ujar dokter Mirna lembut.
seketika hati Anna terenyut, rasa bahagia akan menjadi seorang ibu terlukis jelas diwajahnya, perlahan air mata itu mengaliri pipinya, rasa haru dan bahagia bercampur menjadi satu, namun sebuah kesedihan terasa sangat nyata, kala dokter memperdengarkan detak jantung sang janin.
__ADS_1
air matanya mulai mengucur deras, ingat akan sang ibunda membuatnya lemah, Anna berpikir sejenak, rasa bersalahnya pada sang ibu terukir nyata.
gadis belia yang masih sangat butuh belaian hangat seorang ibu kini harus pergi menjauh, Anna sadar, apa yang dilakukan Sinta itu memang benar, membiarkan putrinya menjauh agar Anna bisa menjadi seorang yang mandiri.
bukan karna dibuang sang ibu, yang membuat Anna makin bersedih adalah karna kini dirinya sadar, menjadi orang tua itu tidaklah mudah, andai saja sejak dari dulu dia menyadari betapa sulitnya menjadi seorang ibu, mengandungnya selama sembilan bulan tanpa lelah, mengurusnya hingga menjadi gadis remaja yang tak kekurangan apa-apa.
hatinya kini rapuh, namun Anna tak bisa berlarut dalam sebuah kesedihan, kini dirinya hidup untuk menghidupkan anaknya, dan seseorang ada disampingnya memegang tanganya erat.
Zidan tanpa henti mengecupi tangan Anna, dirinya terkagum akan sebuah keajaiban tuhan, dimana buah hatinya kini berada di dalam rahim seorang wanita. "mas cinta adek" kata itu terdengar jelas ditelinga Anna,
cinta?, pikir Anna mendalami kata tersebut, apakah Zidan mengatakan-nya dengan sadar?, ataukah karna Zidan terkagum atas janin yang tengah dikandung Anna?.
__ADS_1
namun kini Anna tak mau tahu, untuk apa kata itu disebutkan Anna tak peduli, yang ia yakini saat ini Zidan menyayanginya setulus hati. walaupun hanya sebatas sayang Anna tetap bahagia.