Guruku Ayah Anakku

Guruku Ayah Anakku
menyerah?


__ADS_3

Perlahan mata cantik itu terbuka, tangan-nya mengusap mata yang masih sulit untuk terbuka sempurna, Anna merasakan tangan kekar itu memeluk tubuhnya erat.


Anna membalikan tubuhnya, dilihatnya wajah teduh Zidan yang bercahaya karna terpapar sinar mentari pagi, Anna mengusap wajah itu lembut, tangan-nya terus bergerak menjelajahi sudut demi sudut wajah tampan itu.


rasa sayang Anna begitu besar, namun apakah rasa itu tersalurkan sempurna?, ditambah keluarga kecilnya saat ini sedang dalam masalah besar, apakah Anna mampu menghadapinya?.


mata pria tampan itu terbuka, Zidan menatap istrinya dengan senyuman yang mereka, sebuah pemandangan indah untuknya, melihat istri kecilnya dipagi hari membuat Zidan bersemangat.


bibirnya mengecup wajah Anna perlahan, rasa cintanya pada Anna sangat besar, namun sebuah kegelisahan mengganjal dihati kecilnya, mengingat kejadian semalam membuat Zidan takut, rasa khawatir itu mulai ada, rasa takut Eliza melakukan sesuatu yang buruk pada istrinya itu pasti.


"mas perut adek sakit" ujar Anna saat merasakan pelukan Zidan mengencang dan menekan perutnya.


mendengar itu, Zidan teringat dirinya adalah seorang calon ayah, beberapa hari ini Zidan lupa tidak menanyakan kabar buah hatinya.


perlahan Zidan mengusap perut Anna, wajahnya menunduk, Zidan mendekatkan wajahnya kedepan perut buncit gadis itu. bibirnya mengecup perut Anna lembut.

__ADS_1


rasanya sudah tak sabar menanti kehadiran si bayi, saat bayinya lahir nanti, Zidan ingin menjadi yang pertama melihat sang malaikat kecilnya.


wajah Zidan menempel sempurna pada perut buncit Anna, matanya terpejam merasakan respon dari sang buah hati.


rona bahagia terlukis dibibir Zidan, kala tubuh anaknya menendang keras wajah itu, tak terasa usia kandungan Anna sudah memasuki usia tujuh bulan, perut Anna semakin bertambah besar.


"mas hari ini mas ada jadwal ngajar kan?" tanya Anna sambil mengelus kepala suaminya sayang.


Zidan menggeleng, Zidan takut kalau kegelisahan-nya terjadi, karna Zidan tahu pasti watak Eliza, Zidan takut kalau istri dan buah hatinya bisa celaka. keputusan Zidan sudah bulat, untuk saat ini dia tak akan pergi jauh dari Anna.


Anna dan Zidan kini sedang ada dihalaman, gadis cantik itu sedang duduk sambil memperhatikan Zidan, sedangkan Zidan, suami siaga itu tengah sibuk menjemur pakaian.


pandangan Anna menangkap sosok wanita dari sebrang rumah, wanita dengan mata sembab karna menangis semalaman dan tangan-nya membawa sebuah koper besar.


Eliza nampak memandang Anna sebentar lalu tersenyum manis dan pergi dari sana begitu saja.

__ADS_1


Anna juga tersenyum, akhirnya Eliza menyerah dan menyadari kesalahan-nya. Anna yakin dalam diri Eliza pasti masih ada sebuah kebaikan.


tak lama setelah Eliza pergi, mobil Ardi datang tiba-tiba, pria itu tampak keluar dari mobil dengan tergesa gesa.


Ardi berlari mendekat kearah Zidan dan Anna.


"dek Anna lihat Eliza?" tanya Ardi panik, setelah dirinya mendapatkan pesan kalau Eliza ingin berpisah, Ardi segera pulang meninggalkan semua pekerjaan-nya.


"lihat, tadi baru aja mbak Eliza pergi" jawab Anna


"bisa kasih tau Eliza tadi pergi kemana?"


Anna mengangguk setuju lalu Ardi mendorong kursi roda Anna menjauh, Zidan hanya bisa terdiam, namun tak lama setelah Anna dan Ardi pergi, kain itu membekam mulut dan hidungnya.


kepala Zidan terasa sangat pusing, kesadaran-nya perlahan menghilang, pandangan-nya menjadi gelap gulita, Zidan benar-benar sudah tidak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2