Guruku Ayah Anakku

Guruku Ayah Anakku
pertanda apa?


__ADS_3

Seperti biasa, Anna mempelajari tiga mata pelajaran, dengan durasi dua jam setiap satu mata pelajaran-nya dan diselangi istirahat beberapa menit untuk melenturkan otot-otot yang kaku.


entah mengapa suasana hati Anna saat ini sangatlah baik, disela istirahatnya, Anna sedikit mengobati rasa lapar yang sudah sangat terasa, walaupun tadi pagi Anna sudah sarapan, tapi rasa lapar tak bisa dihindarkan.


gadis cantik itu makan dengan lahap, seperti tidak akan ada hari esok, mulut kecilnya terus bergerak memakan apa yang ada dihadapan-nya.


setelah merasa kenyang, rasa kantuk datang menyerang, masih dalam posisi duduknya, mata itu perlahan menutup, Zidan dan Sinta hanya bisa tersenyum, melihat gadis kecil itu tertidur dengan pulas.


"seneng deh liat Anna kaya dulu lagi, ceria, gampang senyum, mungkin beberapa hari terakhir ini cukup membuatnya kehilangan dunianya" ujar Sinta bersyukur, mengingat kondisi Anna beberapa hari terakhir ini membuatnya pilu, bibir kecil itu tak hentinya memuntahkan apapun yang ia makan, tubuhnya mengecil dan tak berisi, namun sekarang Anna kembali, kembali menjadi gadis muda yang ceria.


"memangnya kemarin Anna sakit apa bu?" tanya Zidan tak tahu, selama Zidan tidak mengajar Anna, tak ada alasan yang datang padanya.

__ADS_1


"kemarin Anna muntah-muntah, badan-nya anget, seharian Anna cuman tidur, dia gak sanggup makan ataupun bangun, ya kalau dipikir-pikir Anna kaya orang yang lagi ngidam, kadang makan-nya itu susah banget, kadang juga Anna makan lahap kayak orang gak makan satu minggu" ujar Sinta "mungkin kemarin Anna cuma masuk angin doang, liat aja sekarang, Anna udah sehat" timpalnya lagi.


ngidam?, batin Zidan bertanya-tanya, mungkinkah itu benar?, mana mungkin Anna yang jarang keluar rumah bisa masuk angin begitu saja?, batin dan logika Zidan beradu.


Sinta bangkit dari duduknya, berjalan perlahan mendekati putrinya tercinta. "na bangun, Anna masih harus belajar" ujar Sinta sambil menggoyangkan pipi putri kecilnya lembut,


perlahan mata itu terbuka, menatap wajah Sinta yang tersenyum kearahnya, tiba-tiba rasa pusing itu mulai datang, mungkin karna tidur yang diganggu membuat Anna merasa pusing, perutnya serasa diaduk dalam, Anna menutup mulutnya dengan tangan sambil menunduk menahan gejolak isi perut yang ingin segera keluar.


mendengar kepanikan Sinta, Zidan segera berlari menyusul mereka, sesampainya Zidan dikamar mandi, dilihatnya Anna tertunduk tak berdaya, sambil memuntahkan semua isi perutnya.


Zidan segera mengusap punggung Anna, membantu Anna untuk menghilangkan rasa mualnya, dengan lembut Zidan membaluri punggung Anna dengan minyak urut yang diasongkan Sinta.

__ADS_1


dirasa semua isi perutnya telah habis, Anna terduduk lemas, mata itu terpejam menghilangkan pusing yang masih terasa.


Sinta segera mengasongkan segelas air, Anna meminumnya sedikit lalu kembali memejamkan mata, kenapa?, kenapa rasa pusing itu kembali?, Anna mengusap peluh yang ada dikeningnya, air mata itu menetes tanpa di pinta.


dengan segera Zidan mengangkat tubuh Anna, membawanya menuju kamar agar Anna bisa beristirahat lebih tenang.


"gimana, udah enakan?" tanya Sinta masih khawatir, melihat putri kecilnya terbujur tak berdaya membuat Sinta bersedih.


Anna menyunggingkan sedikit senyumnya, mencoba membuat Sinta tak khawatir dengan keadaanya saat ini.


"saya akan panggilkan dokter" ujar Zidan lalu segera menghubungi dokter, pikiranya benar-benar kacau, bagaimana kalau nanti Anna benar-benar hamil?, mungkin dirinya masih bisa bertanggung jawab, tapi bagaimana dengan perasaan Sinta dan Anna?, mereka pasti akan sangat terluka.

__ADS_1


__ADS_2