Guruku Ayah Anakku

Guruku Ayah Anakku
Yuriel


__ADS_3

Mereka dibawa kedalam sebuah ruangan, ruangan yang cukup besar dengan pencahayaan yang minim membuat suasana makin mencekam.


ditengah ruangan terlihat seorang wanita sedang duduk, dengan tangan yang terikat pada kursi, wanita itu terkulai lemas.


"Eliza" gumam Ardi pelan, melihat istrinya itu membuat nyali Ardi ciut.


"semuanya sudah ada disini" suara itu terdengar jelas datang dari salah satu lorong, hentakan sepatu hils menggema disekitar ruangan.


wanita paruh baya itu nampak masih awet muda, dengan bibir merah merona, wanita itu mendekat kearah Eliza, membelai kepala Eliza lembut "putriku" ujarnya tepat ditelinga Eliza.


wanita itu berjalan kearah Yudha "pria penghianat, aku tak suka pria sepertimu, sepertinya kau ingin segera aku hukum" ujarnya sambil meninggalkan Yudha.


"kau wanita tak tahu diri" seru Yudha.


"sabar, mari kita lihat upacara kematian untuk keponakanmu dan cucu dari Santoso" ujar wanita itu dengan senyum liciknya. "dan sebelumnya terima kasih untuk kalian yang sudah menyempatkan hadir" timpal Feilin.


"kalian memang bisa menyembunyikan Sinta, tapi gadis ini dan putrinya ada bersamaku, sepertinya itu sudah cukup untuk mengakhiri keturunan Santoso, pewaris dari tahta dan kekayaan yang aku miliki saat ini" ujar Feilin lagi.


Anna hanya bisa melihat kemalangan yang menimpa Eliza, harusnya dia yang ada dalam posisi itu, bukan Eliza, Eliza tak ada sangkut pautnya dengan masalah ini.

__ADS_1


air mata itu perlahan menetes, sebenarnya apa yang telah dilakukan ibunya dulu?, sampai wanita(Feilin) itu ingin menghabisinya dan juga Rezi. batin Anna berteriak.


"sepertinya sudah cukup basa basi, mari kita mulai dari...., bagaimana kalau bayinya dulu?" ujar Feilin, tangan-nya memberikan kode agar bayi itu dibawa kehadapan-nya.


tak lama dorongan bayi itu dibawa mendekat, Eliza hanya bisa menangis, kini dirinya tak berdaya.


"cucuku yang baik" ujar Feilin sambil mengangkat bayi yang dibungkus kain bedongan.


"jangan lakukan apapun pada putriku" seru Eliza, air matanya semakin mengalir deras.


"ini bukan hanya putrimu, dia cucuku, terserah aku mau lakukan apapun padanya" ujar Feilin.


"jangan El, jangan" seru Ardi, mendengar ucapan Eiza tadi membuat Ardi pilu, bagaimana kalau wanita itu benar menghabisi Eliza. Ardi tak ingin kehilangan Eliza untuk selamanya.


"keluarga manis kalian membuatku bingung, tapi tenang saja, semuanya akan mendapatkan bagian-nya, pertama-tama kita lihat kepergian cucuku dulu" ujar Feilin lalu mengangkat tubuh bayi itu tinggi-tinggi dan menghempasnya dengan keras.


"tidak....." seru Eliza, dirinya kini tak berdaya.


bayi itu menangis dengan posisi tengkurap.

__ADS_1


"cucuku ini sangat hebat, bahkan setelah dibanting dengan kencang, dia masih sempat untuk menangis, mari kita coba pakai cara lain" ujar Feilin, dengan hils yang ia pakai, Feilin menginjak bayi itu, namun suara tangisan tadi berganti dengan gelak tawa has bayi.


Feilin terheran, dengan segera Feilnin membuka bedongan itu, ternyata isinya bukanlah seorang bayi, melainkan boneka bayi yang akan bersuara saat tubuhnya dipegang.


"mana bayi itu?" seru Feilin sambil membantingkan boneka itu keatas lantai.


"disini" seru Sinta sambil memggendong Yuriel.


"Sinta?, penjaga, cepat bawa bayi dan wanita itu kemari" teriak Feilin dengan nada penuh amarah.


"semua penjagamu telah hanis, percuma kau mau berteriak sekeras apapun, mereka tetap tidak akan datang" ujar Sinta. "pak cepat tangkap wanita itu" ujar Sinta.


beberapa polisi segera menangkap Feilin "lepaskan, lepaskan tanganku" ujar Feilin sambil mencoba memberontak.


"kami akan melepaskanmu setelah kita sampai sel" ujar salah satu polisi.


"kalian, kalian semua akan merasakan akibatnya" teriak Feilin sambil dibawa pergi beberapa polisi.


akhir yang menyedihkan untuk Feilin, semoga saja wanita itu benar-benar insaf setelah keluar dari dalam penjara nanti

__ADS_1


__ADS_2