
Seperti biasa, setelah mentari naik Anna akan berjemur menikmati pagi, duduk dihalaman sambil memotong kuku yang sudah panjang dan tajam.
setelah kuku tangan-nya rapih, Anna beralih pada kaki, namun hanya untuk menjangkaunya saja sudah sulit, perut yang makin hari makin membesar membuatnya sulit untuk menunduk, ditambah kaki yang tak bisa digerakan mempersulitnya.
tingkah Anna tak luput dari perhatian Zidan, pria tampan itu berjongkok, mengambil alih pemotong kuku dari tangan Anna.
"mas gak usah, biar adek aja" larang Anna,
"udahlah dek, gak perlu sungkan sama mas" ujar Zidan lalu memulai memotong kuku Anna.
selagi Zidan memotong kuku, pandangan Anna berkeliling, dilihatnya pintu rumah yang ada disebrang terbuka lebar, siapa yang tinggal disana? batin Anna sambil matanya terus memandangi rumah tersebut.
tak lama seorang wanita keluar dari rumah itu, Anna mengerutkan keningnya, rasanya Anna pernah melihat wanita itu, "mbak Eliza" panggil Anna sambil melambaikan tangan-nya.
Zidan juga menoleh, setelah tahu itu benar-benar Eliza, Zidan kembali melanjutkan memotong kuku Anna.
namun tampaknya Eliza sedang kesal, dia hanya menoleh lalu pergi begitu saja, tak lama setelah Eliza pergi, seorang pria keluar dari rumah itu, mendekat kearah Anna dan Zidan.
__ADS_1
"maaf atas perlakuan buruk istri saya" ujar pria itu.
"oh jadi mas ini suaminya mbak Eliza ya?" tanya Anna
"iya, nama saya Ardi, suaminya Eliza, kok mbak bisa tau nama istri saya?"
"suami saya temen-nya mbak Eliza" jawab Anna.
setelah selesai memotong kuku Anna, Zidan bangkit lalu menyapa Ardi ramah.
Ardi terlihat berpikir sejenak, "sepertinya saya gak bisa, saya harus susul Eliza dulu" ujarnya menyesal.
"gak bisa ya?, kalau gitu kapan-kapan ya mas Ardi" ujar Anna
"semoga kita bisa jadi tetangga yang rukun ya mas Zidan, dek Anna, kalau begitu saya permisi" ujar Ardi sambil melenggang pergi meninggalkan Anna dan Zidan.
tetangga baru suasananya juga baru, Anna senang kalau Eliza menjadi tetangganya, kalau nanti Zidan sedang pergi mengajar, mungkin Eliza bisa menemaninya.
__ADS_1
menghilangkan sedikit rasa sepinya.
…
pasang mata itu mengintai rumah Zidan dari jendela, memperhatikan Anna dan Zidan yang tengah bermanja ria di halaman rumah, Eliza mengepalkan tangan-nya kesal, sambil matanya menatap Anna tajam.
"Za lagi apa" tanya Ardi lalu duduk diatas sofa. Eliza segera berpaling, bergegas pergi menuju kamarnya. "tetangga sebrang itu temen kamu ya?" tanya Ardi.
"gak ada urusan" jawab Eliza ketus.
"temen kamu hebat ya, padahal istrinya masih muda banget, tapi mereka udah mau punya anak aja" ujar Ardi, raut wajahnya nanpak sedih, sudah hampir tiga tahun menikan mamun belum juga dikaruniai seorang putra.
"kalau bosen sama aku, cari aja sana, anak SD yang mau nikah sama kamu, terus minta anak dari dia" ujar Eliza kesal lalu membanting pintu kamarnya kencang.
Ardi berpikir, kenapa Eliza sangat tidak ingin memiliki keturunan dengan-nya, apakah Ardi kuang berkorban?, padahal segala sesuatu telah Ardi korbankan untuk Eliza, bahkan orang tuanya sekalipun ia tinggalkan.
pernah sekali Ardi ingin meninggalkan Eliza, namun rasa cintanya begitu dalam, hati dan pikiran-nya hanya tertuju pada satu orang, yaitu Eliza, tapi mengapa Eliza sangat membencinya?, menanganggapnya hanya sebatas suami di dalam kartu keluarga.
__ADS_1