
Zidan membuka pintu rumahnya lebar, setelah acara pernikahan yang digelar kemarin malam, inilah saatnya memenuhi syarat dari Sinta, membawa Anna pergi.
walaupun dalam hati Sinta ada sedikit kegundahan, membiarkan putrinya pergi menjauh, namun itu semua sudah menjadi ketentuan, Anna sebentar lagi akan menjadi seorang ibu, pastilah dirinya harus bisa menjalani hidupnya sendiri.
Zidan mengenalkan setiap sudut rumah pada Anna, rumah satu lantai itu dilengkapi dengan 3 kamar tidur dan beberapa ruangan lainya sampailah mereka disebuah kamar, mata Anna berkeliling memandangi setiap sudutnya, kamar itu cukup besar, didominasi dengan warna hitam dan putih membuatnya tampak indah dan elegan.
"ini kamar kita, semoga saja kamu menyukainya, tapi kalau ada yang tidak pas, saya akan berusaha mengubahnya" ujar Zidan sambil membereskan beberapa barang bawaan Anna.
"tidak, ini lebih dari cukup, saya menyukainya" ujar Anna sambil memeluk Zidan yang berdiri disampingnya, ada bersama Zidan saja sudah membuatnya bahagia.
Zidan terenyut mendapatkan pelukan dari Anna, perlahan senyuman itu terlukis dibibir mereka, walaupun alasan mereka bersama itu hanyalah karna sebuah ketidak sengajaan, tapi dari dalam lubuk hati mereka masing- masing, punya rasa yang sama.
...cinta........
__ADS_1
…
sore hari dalam keluarga kecil yang bahagia.
Anna tengah sibuk mengutak atik dapur, mulai dari hari ini, tempatnya yang sesungguhnya adalah dapur, tempatnya berbagi suka dan duka menjalani kehidupan sebagai seorang ibu rumah tangga.
Anna mulai melakukan kegiatanya, walaupun memasak makanan sederhana, tapi Anna akan tetap berusaha, daripada harus membelinya dari luar, pengeluaranya akan semakin boros.
…
akhir-akhir ini nafsu makan Anna menurun derastis, sulit untuknya makan.
dengan berbagai macam cara Zidan membujuk Anna untuk makan, walaupun terkesan memaksa tapi harus bagaimana lagi, kini mereka mempunyai amanah yang sangat besar, janin yang harus mereka jaga dengan sepenuh hati.
__ADS_1
hanya ada keheningan, cukup canggung untuk mereka, walaupun sudah lama saling kenal tapi kali ini berbeda, hubungan mereka bukan antara guru dan murid, melainkan suami dan istri.
"tunggu biar saya saja yang membereskan-nya" cegah Zidan saat Anna ingin membereskan bekas makan mereka, dalam kondisi sekarang ini, Anna sedang tidak begitu baik, ditambah usia kandunganya yang masih muda dan rentan, membuat Zidan harus ekstra siaga.
Anna hanya terdiam, jantungnya berdegup sangat kencang. 'tenang Anna tenang, Zidan melakukan itu karna ingin melidungi anaknya, jangan terlalu berharap Anna', batin Anna terus berkata.
"lebih baik ibu hamil ini nonton tv, biar urusan rumah saya yang urus" ujar Zidan sambil mendorong Anna kehadapan tv, lalu Zidan berjongkok, memandangi perut Anna dengan tatapan sayang "jangan bandel, baik-baik disana, jangan nyusahin mama" ujar Zidan sambil mengelus perut Anna lembut, lalu mengecupnya singkat.
perlakuan Zidan tadi membuat hati Anna benar-benar meleleh, Anna menunduk dalam, menyembunyikan wajah yang sudah merah padam.
perhatian yang Zidan berikan untuk anaknya, malah jatuh pada sang ibu, sepertinya Anna sudah benar-benar jatuh hati pada Zidan, perasaan itu makin dalam.
setelah Zidan kembali ke dapur, Anna mengelus perutnya, pernah sekali Anna berpikir kalau bayi ini tak ada, semuanya tak akan terjadi, tapi sekarang Anna menyadari, tuhan dengan sengaja memberikan bayi ini padanya, bayi ini menjadi pemersatu antara Zidan dan Anna.
__ADS_1
takdir tuhan tak pernah salah, hanya saja saat manusia menjalani takdir tersebut, membuat akhir yang tak menentu.