
Zidan kembali menyesap kopi yang bercampur dengan ludah Rezi, bayi kecil itu ia letakan kedalam kotak yang diisi dengan bola.
potongan bolu pandan dipiring juga tinggal sisa 3 potong, Zidan segera menyimpan-nya kembali kedalam lemari es.
mata Zidan kembali menilik luar jendela, tak lama mobil BMW hitam itu terparkir dihalaman rumahnya, tak berselang lama Anna keluar dari dalam mobil, tangan-nya membawa beberapa bungkusan besar hasilnya belanja setengah hari.
"taxi online nya mobil BMW" gumam Zidan sambil terngangah.
Anna membuka pintu, tangan-nya membawa beberapa kantong kresek super besar. "mas tolong ambilin belanjaan adek dong, adek cape nih" keluh Anna sambil menjatuhkan tubuhnya keatas sofa.
tak berapa lama Zidan kembali memnawa kipas angin dan beberapa kantong kresek yang lebih kecil. "dek kamu beli kipas angin?" tanya Zidan penasaran, "iya, tadi waktu dipasar ada lelang barang bekas, kebetulan harga kipas angin disana murah banget, jadi adek beli aja" jawab Anna bangga, setiap kali Anna pergi kepasar, saat ia pulang selalu saja ada barang yang dilelang murah.
"buat apa dek?, dikamar kitakan udah ada AC, kalau ditambah kipas angin bisa masuk angin nantinya" ucap Zidan tak mengerti dengan jalur pikir istrinya.
__ADS_1
"siapa bilang mau disimpen dikamar?, ini buat disimpen diruang tengah, kan kasian kalau Rezi lagi main terus udaranya panas" jelas Anna sedetail detailnya.
Zidan hanya bisa menurut, kalau Anna sudah berkata, Zidan berarti sudah kalah telak, tak ada lagi yang bisa Zidan perbuat.
"terus kenapa baru pulang sekarang?, dari tadi mas nungguin loh, kan perjanjian-nya jam segini jadwal adek ngurus Rezi, mas bisa bantu hajatan dirumah Ardi" ujar Zidan mengintrogasi istrinya.
"tadi dipasar adek liat kemeja," ujar Anna mengalihkan pembicaraan, tangan-nya mulai berjelajah biantara kantong kresek yang tersusun rapi.
"nih mas lucu kan, tapi kayaknya kalau buat Rezi masih kegedean deh" ujar Anna sambil mengasongkan kemeja kotak-kotak warna biru muda.
mendengar itu Zidan mengerti, kenapa istrinya lama berbelanja, itu pasti tawar menawar yang cukup panjang, mana mungkin kemeja dari merek terkenal bisa turun harga sampai dua ratus ribuan.
"adek beli ngak?" tanya Zidan, Anna menggeleng, itulah yang Zidan sukai dari Anna, wanita yang kini menjabat sebagai istrinya itu lebih mementingkan orang lain dari pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"tapi adek beli ini" serunya sambil mengangkat gamis warna senada dengan kemeja Zidan, baru saja dipuji, ternyata Anna punya rencana lain. sudahlah, yang terpenting uang bulanan yang Zidan berikan tidak kurang.
"adek kekamar dulu, mas tolong bawain barang-barangnya kedapur," timpal Anna sambil melenggang pergi, namun telapak kakinya merasakan sesuatu, Anna menunduk melihat benda apa yang ia injak. benda hijau lengket itu ada dikakinya dengan segera Anna membersihkan-nya dengan tisu.
"ini apa?" tanya Anna penasaran.
"muntahan Rezi" jawab Zidan santai
dengan segera Anna berlari mencari putranya, "ya ampun sayangku, kamu diapain sama ayahmu nak?, maafkan bundamu ini" seru Anna langsung mengangkat putranya, Rezi hanya tertawa.
"dek gak usah lebay deh, itu bolu pandan yang dikasih Eliza kemarin" jawab Zidan.
mendengar itu Anna langsung berlari menghampiri lemari esnya, disana hanya tersisa tiga potong bolu pandan yang Anna sengaja simpan karna malam ini ibunya akan menginap.
__ADS_1
"mas kok dimakan sih?, ini itu buat ibu" ujar Anna saat mendapati bolunya hanya tersisa tiga potong.
Zidan menepuk keningnya, ceramah yang akan didengarkan nanti malam sudah dimulai belum waktunya.