
Kini mereka beralih duduk di kursi, disana Zidan duduk sambil memperhatikan dokter Mirna menjelaskan.
"gini ya pak, karna bundanya masih muda, tolong dijaga lebih lagi ya pak, jangan sampai bunda stres, pokonya bunda harus terus bahagia." ujar dokter cantik itu sambil mengasongkan resep vitamin untuk menambah asupan gizi Anna.
hamil di usia muda memang sangat rentan, karna pola makan yang tidak baik dan mudah untuk stres, Zidan sebenarnya juga sangat khawatir dengan itu, tapi perlahan Anna menunjukan sisi dewasanya, walaupun usianya masih terbilang sangat muda untuk menjadi seorang ibu, tapi kini Zidan yakin, Anna adalah ibu terbaik untuk anaknya kelak.
…
kini mereka sudah ada diperjalanan pulang, setelah mampir dari apotik, mereka melanjutkan perjalanan-nya.
namun suara gemuruh itu terdengar nyaring, "laper" keluh Anna sambil memegangi perut yang sudah keroncongan, Zidan hanya tersenyum, lalu memarkirkan mobilnya didepan sebuah rumah makan yang menyediakan masakan laut, sudah lama sejak terakhir kali Zidan berjelajah menikmati olahan ikan.
Zidan turun lalu mengeluarkan kursi roda Anna, pintu itu dibuka lebar, Zidan merentangkan tangan-nya, berniat memindahkan Anna dari mobil.
Anna hanya terdiam, "ayo katanya laper" ujar Zidan, Anna sekejap berpikir, olahan laut itu harganya lumayan mahal, harusnya mereka menabung untuk kelangsungan hidup sang buah hati, Anna terus mempertimbangkan apa yang terbaik untuk dia lalukan.
__ADS_1
"katanya lapar, gak mau makan?" tanya Zidan, "bukan gitu, yakin kita makan disini?, mendingan kita cari warteg aja, biar irit sekalian bisa nabung buat si bayi" balas Anna lembut, meyakinkan Zidan agar tak menghamburkan uang untuk makanan yang mahal namun kurang mengenyangkan.
Zidan hanya bisa menggelengkan kepalanya, istri polos yang sangat irit itu tak mau diajak makan makanan enak, namun Zidan bersyukur mendapatkan Anna sebagai istrinya, walaupun usianya masih sangat kecil, tapi Anna berpikir maju, memikirkan masa depan keluarga kecil mereka.
"gak perlu khawatir soal itumah gampang" ujar Zidan sambil mengangkat Anna paksa.
kini mereka sudah ada didalam restoran, seorang pelayan mendekati mereka lalu mengajak mereka ketempat yang masih kosong.
memang tempat itu terbilang ramai, restoran yang cukup besar itu penuh, Zidan dan Anna mendapatkan tempat yang cukup jauh dari keramayan. dengan suasan menghadap kerarah taman belakang restoran yang indah.
"pak mau pesan apa?" tanya pelayan itu ramah.
"selain ikan bakar, udang tumis, kepiting, sama makanan paling enak disini ya" timpal Zidan, pelayan itu langsung menunduk hormat dan pergi meninggalkan Anna dan Zidan.
"mas makanan tadi mahal loh, kita itu harusnya hemat, bentar lagi aku lahiran , pastinya kita butuh uang banyak" ujar Anna nampak cemas.
__ADS_1
"gak usah khawatir, uang bisa dicari, tapi kebahagiaan adek jarang dapetnya, lagi pula usia kandungan adek masih empat bulan, waktunya masih lama sampai adek lahiran nanti" ujar Zidan.
"kebahagiaan adek gak perlu dicari, karna kebahagiaan adek ada di depan adek sendiri" ujar Anna
tak lama pesanan mereka datang, tak lama juga makanan itu raip tanpa sisa, kini waktunya mereka membayar, pelayan itu memberikan sebuah note.
disana tertulis total makanan yang mereka makan lebih dari harga dua ratus ribu, Anna membelalakan mata kala melihat harga disana.
Zidan segera mengeluarkan uang dari dalam dompetnya, lalu memberikan-nya pada si pelayan. "bapak gak usah bayar" ujar pelayan itu.
"kenapa gak usah dibayar?" tanya Anna heran.
"maaf pak, bukan-nya saya lancang, namun ini adalah restoran bapak, kapanpun bapak ingin makan disini, bapak tidak perlu membayar karna bapak adalah pemiliknya" ujar pelayan itu.
pemilik?, batin Anna terkaget, Anna baru mengetahui tentang pekerjaan Zidan, selain menjadi seorang guru, ternyata Zidan juga memiliki usaha restoran, pantas saja, Zidan tak berpikir dua kali untuk makan disana, karna tempat itu adalah miliknya.
__ADS_1
"justru karna itu, kalau saya makan disini tanpa membayar, usaha saya bisa bangkrut" ujar Zidan.
para kariawan-nya selalu kagum pada Zidan, walaupun dia adalah pemiliknya, namun Zidan tak pernah tidak membayar makanan disana.