
Hari minggu yang cerah, setelah hujan badai kemarin, udara dikota menjadi sangat segar, siang yang sangat cocok untuk bersantai sambil menikmati hangatnya mentari.
keluarga kecil itu kini sedang bermain dialun-alun kota, menikmati hari minggu yang tak akan datang dua kali dalam satu minggunya.
bayi kecil itu terus merangkak diatas rumput hijau yang lembut, bermain sambil sesekali mendatangi keluarga pengunjung yang duduk dekat dengan-nya.
Rezi nampak sangat senang, bayi kecil itu tak henti-hentinya tertawa.
begitu pula dengan Zidan dan Anna, mereka sangat menikmati masanya menjadi orang tua muda, apalagi Anna, gadis belia yang harusnya sedang senang bermain itu kini menjadi seorang ibu. banyak yang menatapnya dengan tatapan sinis, banyak pula yang menatapnya dengan tatapan kagum.
namun pria bertopi itu mendekat kearah Rezi, lalu memangku Rezi.
seketika Anna dan Zidan langsung berdiri, namun nampaknya pria itu mendekat kearah Zidan dan Anna sambil memangku putra mereka.
"jaga anakmu baik-baik" bisik pria itu sambil memberikan Rezi pada Anna.
"apa maksudmu?" tanya Zidan tak mengerti dengan ucapan pria itu.
"kita sedang diawasi" ujar pria bertopi itu lalu duduk didekat Zidan dan Anna.
__ADS_1
namun sudah hampir satu jam mereka disana, tak ada sesuatu yang mencurigakan.
"siapa sebenarnya kau?" tanya Anna.
sambil melihat sekeliling, pria itu membuka topinya. "namaku Yudha, mungkin kau tak akan kenal tapi ibumu mengenaliku" kenal Yudha.
Yudha nampak membuka ponselnya, keningnya berkerut kala melihat isi pesan, cucu Santoso sudah ada ditangan Feilin, bagaimana mungkin?, bukankah kini Anna dan putranya sedang ada bersamanya.
"apa disekitar rumah kalian ada yang memiliki seorang bayi?" tanya Yudha, wajahnya nampak serius mengunggu jawaban dari Anna dan Zidan.
"tentu, sebrang rumah kami ada yang memiliki seorang bayi, usianya belum sampai satu bulan, memangnya apa yang terjadi?" tanya Anna penasaran.
"kita harus segera kembali" ujar Yudha.
…
Eliza menangis tersedu kala melihat box bayinya kosong, sambil ditemani Ardi disisinya, Eliza hanya bisa terduduk kaku, air matanya terus menerus keluar, rasa sedih karna kehilangan bayinya sangat terasa.
"sudahlah jangan menangis, warga dan beberapa polisi sedang mencari Yuriel, bayi kita pasti akan segera diketemukan" ujar Ardi sambil mengelus punggung Eliza lembut, mencoba menenangkan Eliza.
__ADS_1
"kenapa harus bayi kita?, apa salahku?" sesal Eliza, rasa bersalahnya sangat besar, sebagai seorang ibu, tak seharusnya Eliza meninggalkan putrinya tampa pengawasan.
"putri kita pasti akan selamat" ujar Ardi sambil menyeka air mata yang terus keluar itu.
"aku telah gagal sebagai seorang ibu, sampai aku lalai karna telah meninggalkan putriku tidur sendirian, aku tak pantas" ujar Eliza, rasa penyesalan dan kesedihan itu bercamput menjadi satu.
"itu bukan salahmu, kau hanya tidak sengaja meninggalkan-nya" ujar Ardi terus mencoba menenangkan istrinya.
tak lama pintu rumah mereka terbuka, disana ada Anna, Zidan dan Yudha, berdiri sambil menatap Eliza dengan tatapan prihatin.
"bak Eliza yang sabar ya, Yuriel pasti ketemu" ujar Anna sambil mendekat kearah Eliza.
"Anna, aku udah gagal jadi ibu" ujar Eliza makin bersedih.
"tenang, putrimu baik-baik saja, jangan terlalu menyalahkan diri" ujar Yudha.
"memangnya dimana putriku?" tanya Ardi.
"putrimu sedang menjadi tawanan, namun tenang saja, putrimu akan baik baik saja, aku telah menyimpan mata-mata untuk menjaga putrimu" ujar Yudha.
__ADS_1
"lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Zidan.
"kita harus buat rencana" ujar Yudha penuh arti.