
Mata itu kini berkerutan, rasa lelah karna terus menangisi keluarga kecilnya sudahlah pasti. kini Santoso hanya bisa terbujur kaku, tak ada harapan lagi untuknya mencari sang istri dan buah hati.
walaupun dia tahu kalau istrinya sudah wafat, tapi hatinya yakin dia masih disini, namun waktu dan tempatnya tidak menentu.
pria paruh baya itu mencoba bangun dari tidurnya, meraih foto yang disimpan didalam laci, Santoso mengelus foto itu lembut, seorang wanita hamil itu nampak bahagia, walaupun kehamilan-nya itu membawa sebuah petaka, tapi dia tak ingun mengugurkan bayinya.
masih teringat saat dimana mereka dipertemukan, dulu Feilin pergi dari rumah, tak berselang lama Sinta datang menjadi pegawai diperusahaanya.
dengan hadirnya wanita itu, Santoso kembali tersenyum, hingga suatu hari mereka memutuskan untuk menikah, awalnya kehidupan mereka baik-baik saja, namun setelah Feilin kembali semuanya berubah.
Feilin terus menerus mempitnah Sinta sebagai wanita malam, dan anak yang dikandungnya bukan anak Santoso. dipertemukan karna sebuah takdir apakah itu salah?.
setelah pitnahan keji itu terlontar dari mulutnya, tangan-nya mulai bermain kasar memukul dan menjambak sudahlah biasa. namun dengan tangan itu, Feilin menenggelamkan Sinta kedasar lautan.
__ADS_1
apa yang salah dari Sinta?, apakah menggantikan posisi sama dengan merebut?, wanita tak tahu apa-apa itu tak bersalah, wanita yang tak tahu kalau suaminya telah beristri, wanita yang rela menikahi bosnya karna cinta, bukan karna harta, apa sebenarnya salah Sinta?.
Santoso kembali menangis tersedu, rasa rindu yang mendalam terlukis jelas diwajahnya.
sementara itu dihajatan aqikah, Rezi terus berkeliaran didalam rumah, menjadi pusat perhatian beberapa tamu yang datang, dikerumuni banyak orang membuatnya sangat bahagia.
dengan kicrikan ditangan, bayi itu terus berceloteh, seakan-akan dia sedang bernyanyi mengikuti lantunan kasidah yang ditampilkan penyanyi diatas panggung.
setelah puas menjadi idola, Rezi merangkak mendekati Yuriel, bayi perempuan itu tengah tertidur lelap diatas kasur kecil yang disimpan ditengah rumah.
setelah sampai, tangan mungil Rezi membelai wajah Yuriel lembut, lalu menepuk-nepuk badan Yuriel agar bayi itu terbangun, namun usahanya tetap tak berhasil, Rezi kembali menepuk-nepuk badan Yuriel, kini bukan dengan tangan kosong, melainkan dengan kicrikan yang ada ditangan-nya.
tak berselang lama, Yuriel benar-benar menangis kencang. Anna dan Zidan yang sedang berbincang dengan tamu seketika menoleh, melihat kearah putra mereka.
__ADS_1
Anna segera berlari mengangkat putranya agar menjauh dari bayi yang tengah menangis.
Eliza juga segera mendekat kearah putrinya. mencoba menenangkan Yuriel yang menangis kencang.
sedangkan Rezi, bayi itu tertawa melihat Yuriel akhirnya bangun. sambil mengeprok-ngeprok tangan-nya, bayi kecil itu memberontak agar bisa turun dari pangkuan Anna.
"bak Eliza maaf ya" ujar Anna mewakili kesalahan putranya. "Rezi minta maaf sama tante Eliza" ujar Anna sambil mengulurkan sebelah tangan Rezi agar bayi itu mau bersalaman.
tangan kecilnya mengelus wajah Eliza lembut. "ini adek Rezi, lain kali adeknya jangan dimainin, adeknya disayang ya" ujar Eliza sambil tersenyum cerah.
Rezi hanya tersenyum, seakan-akan dia mengerti apa yang dikatakan Eliza.
terkadang keaktifan Rezi membuat Anna pusing sendiri, bayi yang kini sudah mampu merangkak itu butuh banyak sekali perhatian dari Anna dan Zidan.
__ADS_1