
Malam semakin larut, Eliza dan Ardi sudah pulang dari tadi sore, kini Anna tengah memainkan ponsel milik Zidan dikamarnya, seumur hidupnya Anna baru pertama kali memainkan benda pipih tersebut.
sedangkan Zidan, suaminya itu tadi pamit untuk membereskan bekas makan malam.
kini Anna tengah asyik memainkan ponsel Zidan, menggeser layarnya keatas dan kebawah, Anna sebenarnya tidak paham bagaimana cara menggunakan ponsel, namun hanya dengan melihatnya menyala saja sudah membuatnya bahagia.
namun tiba-tiba perutnya terasa sakit, Anna mengelus perutnya lembut karna sudah beberapa kali Anna merasakan kontraksi palsu namun tetap saja rasa sakit itu selalu mendadak hilang.
namun selang tiga puluh menit, rasa sakit diperutnya semakin bertambah, Anna yakin kalau ini bukan kontraksi palsu lagi.
"mas" teriak Anna memanggil suaminya, namun setelah beberapa lama menunggu, Zidan tak kunjung datang.
akhirnya Anna berdiri lalu mulai berjalan mendekat kearah meja, namun langkahnya sudah tak kuat, kakinya mendadak lemas dan tak berdaya, benar saja, Anna akhirnya terduduk kaku.
tangan-nya mencoba meraih vas bunga yang ada diatas meja, dengan kekuatan penuh Anna membanting vas bunga itu dan membuatnya pecah berkeping-keping.
__ADS_1
usaha Anna itu berhasil mengundang perhatian Zidan, pria itu segera mendekat kearah Anna.
"ya ampun dek," ujar Zidan panik lalu mulai mengangkat istrinya itu.
…
kini mereka sudah ada dalam perjalanan menuju rumah sakit, jarak rumah sakit yang cukup jauh membuat Anna dan Zidan panik.
"mas adek udah gak tahan" ujar Anna parau, tampa disengaja, Anna mengejan secara perlahan.
"sabar, ini juga udah paling cepet, kalau lebih cepet dari ini bisa bahaya" ujar Ardi tak kalah panik, Ardi yang sedang tertidur lelap mendadak dibangunkan dengan sebuah kepanikan, dengan mata yang belum terbuka sempurna, Ardi diperintahkan mengemudi dalam gelap.
"mas adek udah gak tahan" ujar Anna lagi, rasa yang mengganjal itu sudah ada dijalan lahir. Zidan memasukan tangan-nya kedalam daster Anna, tangan-nya mendapati kepala sibayi sudah hampir keluar.
"dek tahan sebentar, bentar lagi kita sampe" ujar Zidan makin panik.
__ADS_1
tak berapa lama, mereka sampai dirumah sakit, dengan segera Anna dibawa menuju ruang persalinan.
"bayinya sudah hampir keluar, ibu ikuti arahan saya, hitungan ketiga ibu baru boleh mengejan" ujar dokter yang menangani persalinan Anna.
rasa sakit yang Anna rasakan belum pernah ia rasakan sebelumnya, perlahan air matanya menetes, teringat akan sang ibunda yang telah berjuang keras melahirkan-nya dulu.
"bu tarik nafasnya panjang, dan saat saya hitung tiga ibu boleh mengejan" arah dokter itu.
Anna mengikuti segala arahan dari dokter, tangan-nya memegang erat tangan Zidan, "tiga, bu mengejan bu" hitung dokter itu, Anna segera mengerahkan segala tenaga yang ia punya, tak lama tangis bayi kecil itu memecah keheningan.
dengan peluh dan keringat yang bercucuran, Anna tersenyum haru, mendengar jerit tangis sang buah hati membuatnya sangat bahagia.
dan begitu pula dengan apa yang dirasakan Zidan, pria tampan itu tak hentinya mengecup wajah Anna, membisikan kata-kata cinta ditelinga Anna.
"selamat, bayinya sehat dan lengkap," ujar dokter wanita itu sambil memperlihatkan bayi laki-laki yang ada ditangan-nya, lalu dokter itu segera memberikan-nya pada suster untuk segera dibersihkan.
__ADS_1
bayi laki-laki yang menjadi pelengkap hidup Anna dan Zidan, lahir dengan sehat dan sempurna.