
Di tempat lain Erik yang sudah terobsesi akan kecantikan Hafizah berusaha keras mencari kelemahan dan segala informasi tentang Hafizah.
Tok... Tok....Tok...(Suara pintu di ketok )
"Tuan saya sudah mendapatkan informasi tentang wanita yang anda minta." ucap suruhan Erik.
"Wanita itu bernama Hafizah,berapa hari yang lalu dia baru dia melangsungkan pernikahannya dengan laki - laki bernama Abraham." sambung nya lagi sembari menyerahkan beberapa berkas yang menjadi kelemahan Hafizah.
Erik yang sedang duduk dengan menyilangkan kakinya membaca berkas yang baru saya di berikan oleh orang suruhannya itu. Senyum tipis muncul di bibir Erik.
" Cepat lakukan rencana ini,dan segera bawa orang ini kehadapanku." ucap Erik.
☆☆☆☆☆
Hafizah dan Abraham memutuskan untuk tinggal di rumah Abraham,tetapi mereka tidur di kamar yang berbeda,keputusan ini di ambil Abraham,karena dia tak mau membuat kesalahan seperti waktu itu.
Hafizah tak rela di cium oleh Abraham karena Hafizah tau Abraham masih mencintai Bella.
Sedangkan Abraham takut tak mampu menahan naluri lelakinya jika harus terus menerus tinggal sekamar dengan Hafizah,siapa yang tak kan tergoda dengan Hafizah,selain dia memiliki mata yang indah,hidung mancung,kulit putih,body yang seksi dan wajahnya yang imut membuat semua laki - laki akan bertekuk lutut memohon cintanya.
Pagi hari itu Hafizah yang menggunyaka tanktop warnah putih,bawahan hotpan dengan rambut di sanggul sembarang membuat terlihat jelas leher jenjang putihnya membuat dia nampak sangat seksi,dia terlihat sibuk menyiapkan makanan untuk suaminya.
Abraham yang hendak berangkat ke kantor dengan pakaian yang sudah rapi,tiba - tiba terpaku melihat Hafizah yang sibuk sendiri menyiapkan makanannya,dipandangnya Hafizah dari atas sampai bawah,saat ini Abraham dengan susah payah dia menelan ludahnya,ingin rasanya dia segera memeluk dan menciumnya tetapi dia takut Hafizah menolaknya,cukup lama Abraham berdiri di bawah tangga sampai akhirnya Hafizah yang sadar akan kehadiran suaminya itu.
"Lhooo mas,kok cuma berdiri saja di sana,sini ayo cepat sarapan." ajak Hafizah sembari menata makanan di meja makan.
"Fizah." panggil Abraham.
__ADS_1
"Iya mas,ada apa?" sahutnya
"Besok kamu ikut aku ya?" ajak Abraham.
"Kemana mas?" tanya Hafizah.
"Udah gak usah nanya nanti kamu akan tau sendiri, oh iya siapkan barang - barang kita buat beberapa hari di sana, hari ini kamu gak usah kerja kamu siap - siap aja." ucap Abraham.
"Iya mas." jawab Hafizah.
"Ya sudah mas berangkat kerja dulu ya." Pamit Abraham.
" Lhooo, mas gak sarapan dulu?" tanya Hafizah.
" Gak usah mas sarapan di kantor saja, ini dah kesiangan." jawab Abraham.
Abraham dengan senang hati mengambil bekal yang di berikan istrinya. Sembari tersenyum dan membelai pipi mulus Hafizah,ketika Abraham hendak pergi.
"Mas..." Panggil Hafizah lagi.
"Apa lagi?" tanya Abraham.
"Salim dulu." ucap Hafizah dengan malu - malu.
Abraham gemas melihat sikap Hafizah yang malu - malu di tambah wajahnya yang terlihat jelas memerah. Dia megulurkan tangannya dan Hafizah mencium punggung tangan Abraham. Ketika Hafizah hendak melepaskan tangannya, Abraham menarik tangan Hafizah sehingga tubuhnya mendekat ke Abraham,dengan cepat Abraham mencium pipi Hafizah dan langsung masuk kedalam mobil. Sedangkan Hafizah yang mendapatkan ciuman mendadak Abraham,dia hanya mematung sembari terus memegang pipinya yang tadi di cium Abraham.
"Makasih ya atas bekalnya dan morning kissnya." ucap Abraham sembari mengedipkan salah satu matanya.
__ADS_1
Sontak membuat wajah Hafizah merah merona,Hafizah terpaku terus melihat mobil Abraham yang terus pergi keluar dari halaman rumahnya.
"Kenapa mas Abraham menjadi mesra seperti itu ya? dan kenapa lagi jantungku berdetak tak beraturan seperti ini." ucap Hafizah sembari memegangi dadanya.
Sebelumnya walaupun pernikahan Hafizah dan abraham terjalin karena perjodohan dan Abraham yang masih mencintai kekasihnya,mereka sudah memutuskan mencoba untuk membuka hatinya satu sama lain,dan bersikap layaknya suami istri pada umumnya. Tapi satu pinta Hafizah,selama Abraham masih belum melepaskan dan mencintai Bella, Hafizah melarang Abraham untuk menyentuhnya.
Di kantor Martin yang melihat bosnya baru keluar dari mobil,matanya tertuju ke sebuah kotak makanan yang di jinjing oleh bosnya dengan senyum merekah diwajahnya. Ketika Martin hendak bertanya di dahului oleh Abraham. Seakan Abraham tau apa yang ada di dalam kepala Martin.
"Kamu gak perlu tanya apapun,ada yg perlu aku bicarakan denganmu." ucap Abraham yang terus berjalan dan di ikuti Martin di belakang.
Abraham duduk di kursi kebesarannya. Martin sudah duduk di kursi di depannya menunggu Abraham berbicara kepadanya.
"Aku mau tanya kepadamu, dulu sebelum aku menikah dengan Hafizah kamu kan sempat menyukainya dan mengejar - ngejarnya. Apa sekarang kamu masih menyukainya?" tanya Abraham.
Mendengar pertanyaan bosnya di tiba - tiba menanyakan itu.
"Kalau bos bertanya kepada saya apakah saya masih suka kepada nyonya dengan jujur saya bilang masih menyukainya karena saya tak ada alasan untuk tak menyukainya,menurut saya nyonya Fizah adalah wanita yang hampir mendekati kata sempurna buat saya. Hanya laki - laki bodoh yang menyia - nyiakannya."
"Aku tau bos sekarang lagi bingung milih antara nona Bella dan nyonya Hafizah,kalau saranku ya bos lebih baik bos lupakan nona Bella dan buka hati bos buat nyonya Fizah,kalau sampai nyonya lepas dari genggamanmu bakalan banyak yang ngantri untuk dapatin nyonya termasuk aku." ucap Martin.
Tapi jangan khawatir bos,aku mulai mengiklaskan nyonya buat bos kok,masalah cintaku kepadanya,aku percaya suatu saat nanti akan ada wanita lain yang akan bisa membuat jantungku berdebar bahkan lebih dari saat aku mencintai nyonya dan wanita itu yang akan menggantikan posisi nyonya di hatiku." lanjut Martin.
"Bagus dah kalau kamu berfikiran kayak gitu,soalnya sepertinya hatiku sudah mulai menerima Hafizah walaupun sedikit demi sedikit." ucap Abraham.
Hari ini Abraham curhat masalahnya kepada Martin tak ada yang dia tutupi. Abraham percaya dengan Martin karena buat Abraham,Martin bukan hanya asisten saja tapi sudah dia anggap sebagai saudara.
Martin yang mendengarkan cerita Abraham Ketawa terbahak - bahak sampai tawanya sampai sakit perut. Abraham melihat Martin yang sedang tertawa dia terus melihatnya dengan tatapan tajam dan mematikan.
__ADS_1
Martin yang melihat tatapan tajam Abraham sontak langsung menghentikan tawanya walaupun dengan susah payah.