
Sesampai di singapura Hafizah dan yang lain langsung menuju ke tempat peristirahatan yang sudah disiapkan oleh Frans.
Walaupun Hafizah sangat khawatir dengan keadaan ayahnya,tapi dia tak mau membuat orang di sekitarnya menderita,dia tau kalau Abraham dan yang lain sangat kecapean dan butuh istirahat.
Hafizah dan Abraham tidur di lantai dua sedangkan Vivin dan martin tidur di lantai bawah,tetapi mereka berbeda kamar. Mereka semua memutuskan untuk istirahat untuk malam ini.
___________
Pagi hari, Abraham yang baru bangun dari tidur nyenyaknya dia melihat ke sisi tempat tidurnya dia tidak menemukan keberadaan Hafizah,dia melihat di atas meja sudah tersedia kopi dan makanan yang sudah di siapkan.
Abraham dan Martin yang sudah rapi dia mencari keberadaan Hafizah,dia menanyakan keberadaan Hafizah ke pelayan disana.
" Bibik lihat isti saya gak?" Tanya Abraham.
"Ohhh non Fizah ada di belakang tuan sedang latihan dengan non Vivin." Ucap pelayan tersebut.
Martin dan Abraham menuju ke ruangan yang mana sudah di tunjukan oleh pelayan tersebut. Dia melihat Hafizah sedang latihan menembak,tembakannya semua tepat pada sasarannya.
Abraham dan Martin bertepuk tangan,sedangkan Vivin hanya fokus dengan layar komputernya saja.
"Mas sudah bangun?" Ucap Hafizah.
"Sudah.... Makasih ya sarapannya." Ucap Abraham sambil tersenyum.
Tembakanmu keren,semuanya tepat sasaran" Lanjut Abraham.
"Ahh... Biasa saja...Mas mau coba? Ah... sebaiknya kalian harus coba." Ucap Hafizah.
"Gak usah, biar nyonya sada yang latihan." Ucap Martin.
"Bilang aja kalau takut." Sahut Vivin yang terus fokus dengan layar komputernya.
"Sialan ni cewek...jutek amat." Ucap Martin dalam hati.
__ADS_1
"Siapa bilang takut,aku berani." Ucap Martin.
"Jangan banyak omong buktikan jadi cowok." Sahut Vivin.
"Ok,aku akan akan tunjukan kalau aku bisa." Ucap Martin.
Jujur dalam hati Martin,dia baru pertama kali dia memegan senjata api,dirinya sangat gugup,tapi karena dia gak mau diremehkan oleh Vivin, gadis yang menurutnya tengil dan menyebalkan dia memberanikan dirinya. Dengan kosentrasi yang tinggi,dia membidik semua sasaran dengan tepat.
"Gimana aku bisa kan." Ucap Martin menyombongkan dirinya.
"Alahhh kebetulan aja tu." Sahut Vivin sambil pergi meninggalkannya.
Siang itu Abraham yang sedang pergi ke dapur ingin mengambil minuman,dia melihat Hafizah yang dengan pakaian rapi dia mengenakan kaos dalaman putih,jaket kulit warna hitam,celana panjang warna hitam dan sepatu knee high boots warna hitam dan rambut di kuncir kuda dia terlihat sangat berbeda dari biasanya, Abraham melihatnya dan menghampirinya.
"Fizah mau kemana kamu?" Tanya Abraham.
"Aku mau keluar mas,aku ada janji dengan seseorang." Ucap Hafizah.
Saat mereka sedang ngobrol Martin dan Vivin keluar dari kamar mereka,Vivin yang melihat saudaranya pun tau dia akan pergi kemana.
Abraham yang mendengar itu sontak menatap istrinya itu dengan tatapan taham,Hafizah sebenarnya bukan tak ingin menceritakan ini kepada suaminya,dia hanya tak ingin merepotkan suaminya saja.
Abraham langsung menarik lengan Hafizah dan membawanya ke kamar,dia geram atas sikap istrinya yang sudah tak menghargai dirinya sebagai seorang suami.
"Apa maksudmu ingin pergi sendiri ke markas mafia itu sendiri?" Tanya Abraham dengan nada meninggi.
Hafizah yang tak pernah melihat Abraham berbicara kasar kepadanya dia merasa takut.
"Aku cuma tak ingin merepotkan mas saja,aku ingin berusaha mencari keberadaan ayah dengan caraku sendiri." Ucap Hafizah dengan nada bergetar.
Abraham yang mendengar penjelasan istrinya itu,dia mencoba menahan amarahnya dan dia duduk di samping istrinya itu. "Ingat Fizah,walaupun kita menikah karena perjodohan,bukan berarti aku akan lepaskan tanggung jawabku sebagai seorang suami,aku tau kamu sangat khawatir kepada ayahmu dan ingin cepat - cepat menemukannya."
Abraham menarik tubuh Hafizah kedalam pelukannya,dengan lembut dia membelai punggungnya sembari berkata, "dengarkan ini baik - baik ucapanku,kamu jangan pernah mengambil keputusan sendiri,aku tak akan membiarkanmu dalam bahaya sendirian,ayahmu adalah ayahku juga sekarang,jadi izinkan aku menemani dan membantumu. Aku tak akan memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu yang buruk kepadamu,aku tau kamu masih belum bisa menerima aku sebagai suamimu,tapi biarkan aku melaksanakan tugasku sebagai suamimu." Ucap Abraham.
__ADS_1
Hafizah mendengarkan semua ucapan Abraham dia langsung melepaskan pelukan Abraham dan menatap dalam - dalam tatapan mata Abraham,dia melihat kejujuran dan ketulusan disorot matanya. Dia merasa ada kenyamanan,ketenangan dan kebahagiaan ketika berada di dekat suaminya itu.
Entah dorongan dari mana Hafizah tiba - tiba dia memeluk tubuh suaminya itu. "Makasih ya mas,kamu sudah mau mengerti perasaanku." Ucap Hafizah.
"Iya sama - sama, walaupun aku gak sehebat istriku yang cantik ini dalam bertarung paling gak aku berusaha untuk membantumu." Goda Abraham.
"Aaahhh mas bisa saja." ucap Hafizah sembari memukul pelan dada suaminya itu.
"Kok mas dipukul sih,seharusnya dicium dong." ucap Abraham.
"Ihhhh,mas kok jadi genit gini sih?" ucap Hafizah sembari berdiri dan hendak pergi. Ketika Hafizah ingin meninggalkan Abraham tiba - tiba tangannya di tahannya.
"Ada apa mas.?" tanya Hafizah.
"E - - mmm sebelum itu mas boleh minta sesuatu gak?" tanya Abraham sembari tersenyum malu.
"Mangnya mas mau minta apa? kok tumben sikap mas aneh kayak gini." Sahut Hafizah.
"Mas mau minta ciuman dari istriku yang cantik ini." Ucap Abraham yang ragu - ragu.
Abraham ragu - ragu memintanya,karena dia takut hafizah menolaknya. Dia kapan terakhir kali dia mencium istrinya.
Wajah Hafizah menjadi merah merona mendengar permintaan Abraham. Dengan wajah yang tersipu malu,Hafizah menganggukan kepalanya.
Wajah Abraham seketika sumringahsetelah melihat Hafizah menganggukan kepala tandanya memberikan izin kepadanya,dia langsung berdiri,dipandangnya wajah istrinya itu dengan seksama,dia mulai mendekatkan wajahnya kepada istrinya, Hafizah yang gugup dia memejamkan matanya,jantungnya berdetak dengan kencang,begitupun dengan Abraham,dia tak pernah merasa segugup ini ketika dekat dengan wanita,termasuk dengan Bella mantan kekasihnya dulu. Ketika bibir Abraham baru akan menyentuh bibir Hafizah tiba - tiba.
Tok...Tok... Tok...
Pintu kamarnya di ketok,ternyata Martin sedang mengetok dari luar kamar.
Sontak Hafizah dan Abraham mengurungkan niatnya untuk mencium istrinya itu. Wajah mereka sama - sama memerah dan suasana menjadi canggung.
Bersambung.....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya.....LIKE,KOMENTAR DAN VOTE YA.... TERIMAKASIH