Hati Yg Terikat

Hati Yg Terikat
ke Jakarta


__ADS_3

Keesokan harinya mereka bertiga benar benar pindah ke Jakarta,Delia,nenek dan Rangga hanya perlu membawa barang seperlunya saja


Suasana hari itu sedikit mendung selaras dengan hati Delia saat ini,padahal Delia baru beberapa bulan saja tinggal di Surabaya,tapi kota ini telah memberikan begitu banyak kenangan untuknya


Rangga menggenggam tangan Delia begitu mereka akan lepas landas,Delia terlihat sedikit diam pagi ini


Nenek sangat bersyukur karena akhirnya dia bisa kembali ke Jakarta dengan membawa seorang menantu seperti impiannya dahulu


Nenek tidak akan iri lagi ketika teman teman seusianya berkumpul dan membanggakan menantu dan cucu mereka masing masing


walaupun hubungan Rangga dan Delia yang awalnya hanya sebuah paksaan,tapi nenek yakin mereka pasti akan menjadi pasangan yang saling mencintai dan tentu saja akan memberikan cicit untuknya ketika waktunya telah tiba


Sejam kemudian..


Akhirnya mereka tiba di Jakarta meskipun cuaca sedikit agak mendung tapi pesawat mereka melaju terbang tanpa kendala


Delia menghirup udara Jakarta dalam dalam,dan tak diketemukan kesegaran seperti udara yang ada di kampungnya


keluar dari bandara,mereka sudah disambut pak Yudi dengan kendaraan mewahnya


lama lama Delia mulai terbiasa dengan segala kemewahan yang dimiliki Rangga


Mobil melaju dengan cepat menuju kediaman mereka


Delia terpesona dengan rumah yang ada di depannya..besarrr...mewah dan megah dengan pelayan yang tak terhitung jumlahnya karena mereka saling berjejer ketika mereka memasuki rumah itu


Kalau Delia sih menganggap rumah ini seperti istana kali ya..semua pelayan menunduk hormat menyambut kedatangan mereka


Rangga masih tetap menggenggam tangan Delia ketika memasuki rumah,Delia bagai cinderella dalam dongeng


"Jangan terpesona dengan rumah nenek,cukup dengan cucunya saja"kata Rangga bercanda agar Delia tidak merasa rendah diri


Delia langsung mencubit pinggang Rangga


"Jangan keras keras..malu di dengar semua orang"

__ADS_1


"Mereka semua disini sudah dididik untuk buta dan tuli..mereka tidak akan pernah berani melanggar batasan mereka"


Delia yang mendengar ucapan Rangga heran,sungguh sangat berbeda dengan keadaan di Surabaya..disini Rangga bagaikan The King..tak tersentuh..


"Sayang..beristirahatlah..nenek juga lelah..Rangga ajak Delia ke kamar,tunjukkan dia situasi rumah ini agar dia nyaman"kata nenek memberi perintah


"Baik nek..beristirahatlah.."jawab Rangga sambil menggandeng Delia untuk naik ke lantai atas


mereka bergandengan menyusuri tangga yang berlantaikan marmer itu


Rangga membuka salah satu pintu dari beberapa pintu yang ada di lantai atas


"Ini ruang kerjaku..kalau mencari aku pasti kau akan menemukanku disini.."


"Kalau ini adalah kamar untuk memproduksi anak anakku nanti"kata Rangga dibalas pelototan oleh Delia


"La kan aku benar ya kan..ini kamar tempat produksi kita nantinya"katanya sambil melangkah masuk


Delia melihat kamar Rangga sangat rapi dan aroma maskulin tercium oleh hidung Delia yang mancung itu


"Hmmm...nyaman sih..tapi aku tidak suka dengan warna hitam dimana mana..tidak heran,sepertinya pemilik kamar yang dahulu orangnya mudah galau makanya suasana kamarnya pun sama sekali tidak hidup"kata Delia seperti penata interior yang mahir


Delia duduk di ayunan yang ada di balkon sambil tersenyum melihat pemandangan yang menyejukkan mata itu


Tiba tiba Rangga datang dan langsung merebahkan kepalanya di pangkuan Delia


"Aku ingin sekali melihatmu melepaskan hijab di depanku dan melihatmu membukanya untukku..boleh?"tanya Rangga yang suka melihat Delia tanpa hijab hanya di depannya saja


"Boleh...bukankah istri harus menuruti perintah suami?"kata Delia sambil tangannya hendak bergerak membuka hijabnya tapi tiba tiba Rangga bangun


"Biar aku saja..boleh?"tanyanya hati hati


Delia membalasnya dengan sebuah anggukan,Delia selalu berusaha untuk menuruti keinginan Rangga sebagai bentuk kepatuhannya,dan itu sudah merupakan hak Rangga padanya


Pelan pelan Rangga membuka hijab Delia..dia tersenyum,Delia sangat cantik ketika tidak mengenakan hijab dan perasaan Rangga sungguh sangat senang sekali ketika bisa melepaskan hijab Delia untuk pertama kalinya

__ADS_1


Delia menatap Rangga sambil tersenyum dan Rangga meraih wajah Delia dia mencium kening Delia..lalu hidungnya..lalu mengecup sekilas bibir Delia


Sekejap pandangan mereka bertemu,dan seperti sengatan listrik Delia membuang pandangannya ke arah lain,degup jantungnya tak menentu


Rangga meraih wajah Delia dan memandangnya,dia tersenyum lalu dengan lembut Rangga meraih bibir Delia,hingga napas mereka memburu


Rangga mulai menciumi lekuk leher Delia,wangi tubuh Delia menambah sensasi eksotis untuknya


Delia tanpa sadar mengalungkan tangannya ke leher Rangga


hatinya mengingatkannya untuk berhenti,tapi tubuhnya menolaknya


Tangan Rangga bergerak menyentuh gunung Delia yang masih sangat kenyal itu,dan Delia melenguh mendapati tangan Rangga menyentuhnya


Tetapi begitu Rangga mendengar lenguhan Delia dia seketika sadar akan yang terjadi,dia masih ingat dengan perjanjian mereka berdua


Lalu Rangga melepas ciumannya dengan pelan,sekali lagi dia mencium kening Delia


"Jangan sekarang..akan indah pada waktunya"katanya sambil mengelus pipi Delia yang kemerahan


Delia jadi kikuk sendiri dengan sikapnya..menolak tapi mau..memalukan..batin Delia


Lalu Rangga pamit untuk pergi ke ruang kerja sebentar untuk mengecek emailnya


Delia bernapas lega,dengan kepergian Rangga dia bisa menata napasnya kembali


apakah aku sudah mulai mencintainya?kenapa ketika aku disentuh olehnya tidak ada penolakan dalam diriku?malah hatiku merasa bahagia setelahnya?tanya Delia pada dirinya sendiri


Sedangkan Rangga yang ada di ruang kerjanya tidak henti henti merutuki sikapnya sendiri


kenapa aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri?bagaimana kalau Delia menganggap aku laki laki yang tidak bisa memegang janjinya?


apakah aku menyentuhnya karena nafsu atau aku mulai mencintainya?


tanya Rangga dalam batinnya

__ADS_1


...----------------...


...----------------...


__ADS_2