
Via melangkah mendekati Al, dia membiarkan Vio bersama dengan Yogi menunggu di luar sana.
"Aku tau kau itu memang Papa nya Vio. Tapi perlu kamu tau Al, aku yang mengandung nya, aku juga yang bertaruh nyawa untuk melahirkan dia. Bahkan aku juga yang menjaga nya saat semua orang menghina dia anak ha*am" ucap Via dengan tegas.
"Vi, aku mohon" mohon Ajeng yang memang masih merindukan sang keponakan.
"Vi, aku bisa saja merebut paksa Vio dari mu jika kamu terus seperti ini" bentak Al dengan terpancing emosi.
"Al" teriak Daddy Vir dengan keras.
"Cukup" bentak Via dengan emosi.
Via menatap Al dan yang lainnya bergantian, dia mengepalkan tangannya untuk menahan emosi.
"Al apa kau tahu? Aku dulu sangat bahagia bisa mengandung anak mu walaupun di luar nikah. Aku saat itu memang terpuruk dan sempat takut, namun aku selalu mengingat kata-kata mu yang katanya sangat mencintaiku tetapi semua nya hanya omong kosong belaka.
Hingga saat kalian berbicara di Restoran, aku mendengarkan semua, termasuk saat kau dengan gamblang nya berbicara tidak akan pernah menerima anak yang aku kandung bahkan kau akan menekanku agar menggugurkannya, padahal kau belum tau aku hamil" jelas Via dengan sorot mata tajam.
"Semua hancur karena kalian, karena kalian aku kehilangan cita-cita ku, masa depan ku dan juga kedua orangtua ku! Kalian menciptakan taruhan itu untuk kepentingan kalian? Namun bagiku itu awal kehancuran kehidupan ku" ucap Via kembali.
"Bahkan Ayah dan Ibu ku di pecat secara tiba-tiba karena aib ini! Bukan hanya itu saja, kami pun di usir dari tempat kami tinggal hanya karena mereka tidak mau ikut sial karena aku hamil di luar nikah.
Aku dan kedua orangtua ku berpindah-pindah hingga pada akhir nya Ibu meninggal karena terus di salahkan oleh keluarga Ayah, bahkan Ayah menjual semua aset dan warisannya hanya untuk memastikan kehidupan ku dan anakku nanti tercukupi" jelas Via.
Via menarik nafas nya dalam, dia tetap berdiri menatap Al yang terlihat sendu.
"Hingga pada akhir nya Ayah pun pergi meninggalkan aku bersama Vio, aku sangat terpukul karena semua nya pergi demi membuat aku dan Vio bahagia" ucap Via
__ADS_1
"Apa kalian tahu? Aku bermimpi bekerja di perusahaan besar dan akan membuat kedua orangtua ku bangga dan bahagia. Begitu banyak mimpi yang aku rajut untuk masa depan ku, termasuk bahagia denganmu Al. Namun, aku terlalu bodoh hingga mempercayai kamu yang nyata nya hanya menjadikan aku bahan taruhan saja" lanjut Via kembali dengan tatapan dingin.
"Dan sekarang kau meminta Vio?" tanya Via menatap Al dengan tajam.
"Kenapa kau kejam sekali, Al? Apa kurang yang selama ini kau ambil dari ku? Kau ambil kebahagian, masa depan ku dan sekarang kau akan mengambil Vio? Tidak akan!" teriak Via dengan emosi dan amarah yang memuncak.
"Tapi aku juga Papa nya, Vi" ucap Al.
Daddy Vir beranjak dari duduk nya, dia menghampiri Al dan mengusap pundak nya lembut.
"Tenangkan dirimu, Al" ucap Daddy Vir lembut.
Via membalikan tubuh nya dan pergi dari sana dengan segudang emosi.
"Aku akan merebut nya dari kamu, Vi. Lihat saja nanti" teriak Alvredo dengan tegas.
Plak.
"Al" panggil Via yang kembali bersama dengan Vio.
"Kau ingin mengambil Vio dariku? Silahkan, aku akan memberikannya padamu jika memang dia ingin bersama mu. Aku tak ingin membuat Putriku tertekan karena ke egoisan mu itu, kau tau aku akan kalah karena aku tak punya apa-apa" ucap Via dengan lirih.
"Pergilah pada Papa mu, Nak" ucap Via dengan lembut.
Vio menggelengkan kepala nya dengan cepat.
"Ndak mau, aku tak ingin belsama Paman jahat itu" tolak Vio dengan tegas.
__ADS_1
Vio lalu menatap Al dengan tajam.
"Paman jahat" teriak Vio memeluk tubuh Via sambil menangis.
"Pergilah Nak, bawa Putri mu. Aku jamin bahwa Al tidak akan memisahkan kalian" ucap Mommy Al dengan lembut.
Via lalu menatap Al dengan tersenyum tipis, dia lalu pergi dari sana dengan cepat.
*
"Aku kecewa padamu, Boy" ucap Daddy Vir.
"Ayo kita pergi dari sini, Dadd. Aku sudah muak dengan kelakuan Putra mu yang egois, bisa-bisa nya dia akan memisahkan seorang anak dengan Ibu nya" sarkas Mommy dengan dingin.
Al terpaku, dia lalu menghampiri sang Mommy dan memegang tangannya.
"Mom, aku mohon jangan pergi" mohon Al dengan mata sendu.
"Kau merasakan sakit saat akan berpisah denganku?" tanya sang Momny.
Al menganggukan kepala nya dengan cepat.
"Itulah yang akan di rasakan oleh Vio jika berpisah dengan Bunda nya" ucap Mommy Al dengan tegas.
Mommy Al lalu pergi dari sana dengan raut wajah yang kecewa, begitupun dengan sang Daddy yang ikut pergi.
.
__ADS_1
.
.