
Sudah lebih 1 minggu Al dan team nya mencari Via, bahkan Al mengerahkan semua anak buah nya untuk ke berbagai Negara ataupun Kota.
Namun sampai saat ini pun mereka belum sama sekali menemukan Via dan kedua anak nya, yang mana membuat Al sangat frustasi.
Di perusahaan semua nya di tangani oleh Ajeng dan Daffa, sedangkan Al, Arion dan Max fokus pada pencariannya.
Seperti saat ini, Al bersama Arion sedang menuju ke Apartemen Daffa. Mereka akan menghentikan pencariannya karena sudah hampir larut malam.
"Besok weekend, bagaimana kalau kita pergi ke Danau di Kota X" ajak Ajeng pada yang lainnya.
"Hmm boleh juga, sekalian kita mencari disana dan juga piknik" ucap Daffa.
Arion mengangguk setuju, dia juga rasanya sudah penat dan ingin mengrefresh otak nya sejenak.
"Kalian saja yang pergi, aku harus berangkat ke luar negeri besok pagi" ucap Al yang baru kembali dari arah kamar.
"Loh memangnya kenapa?" tanya Ajeng.
"Perusahaan cabang di Swiss sedang bermasalah, jadi aku akan kesana bersama dengan Max" jawab Alvredo.
"Pergilah, jangan khawatirkan disini. Kita akan terus mencari Via dan juga Putrimu" ucap Arion mengusap pundak Al dengan pelan.
"Terimakasih, kalian memang terbaik" balas Al.
Mereka hanya mengangguk saja, kemudian mereka memutuskan untuk kembali ke unit Apartemen yang memang bersebelahan dengan Daffa.
__ADS_1
**
Alvredo mendudukan dirinya di kursi santai yang ada di balkon kamar nya. Dia menatap langit yang sedang menampilkan taburan bintang yang sangat indah.
"Vi, dimana pun kamu berada aku harap kalian baik-baik saja. Maafkan aku yang terlalu egois sehingga kalian pergi kembali dari genggaman tanganku" ucap Al dengan lirih.
"Aku janji Vi, aku akan membawa kembali kalian dan akan bertanggung jawab atas semuanya" ucapnya lagi.
"Jujur saja Vi, aku sangat mencintai mu sejak kita melakukan hubungan badan. Di saat itu aku benar-benar mencintaimu, namun belum juga aku mengungkapkan kamu sudah lebih dulu pergi" gumam Al memejamkan mata nya.
Hembusan angin menerpa tubuh lelah Al, dia tetap memejamkan mata dengan berbagai penyesalan yang ada di dada nya.
Sesak yang dia terus rasakan saat ke egoisan nya membuat Via kembali jauh dari jangkauannya, 5 Tahun dia mencarinya namun karena gengsi dan egois yang tinggi membuat wanita yang di cintai nya pergi entah kemana.
"Semoga saja esok ada kabar bahagia tentang kalian" gumam Al sebelum akhir nya memejamkan mata di ranjang king size nya.
***
Ke esokan pagi nya, Al bersama Max pergi menggunakan jet pribadi milik Al. Mereka memang sengaja melakukan perjalanan pagi sekali agar tidak terlalu larut malam sampai disana.
"Selamat pagi Tuan muda" sapa para pengawal yang sudah berbaris rapih di dekat pesawat.
"Hmmm" balas Al dingin.
Al dan Max langsung masuk ke dalam, mereka akan membahas beberapa permasalahan yang sedang di hadapi oleh perusahaan di Swiss.
__ADS_1
Tak berselang lama, pesawat yang membawa mereka pun lepas landas dari Jakarta.
"Max, mana berkas nya" ucap Al.
"Ini Tuan, disana ada pengkhianat yang menggelepkan uang perusahaan" balas Max sambil memberikan berkas pada Al.
"Orang kepercayaan kita baru saja kembali setelah melakukan cuti pernikahannya, dia baru menemui kendala ini minggu lalu dan memastikannya kemarin" jelas Max kembali.
"Bagaimana dengan pelaku nya?" tanya Al.
"Sudah diamankan oleh anak buah kita, aset dan semua nya juga sudah di sita. Namun kita perlu bertindak agar para investor tidak berpikir bahwa kita diam saja" jawab Max.
Al hanya mengangguk dengan pandangan fokus pada berkas, memang bukan uang sedikit yang di gelapkan disana.
Cukup pantastic sampai harus Al sendiri yang turun tangan langsung.
Selama perjalanan berlangsung, Al dan Max terus saja membahas pekerjaan. Walaupun mereka lelah, namun tanggung jawab yang mereka pikul sangat besar.
Keduanya akan berhenti saat akan makan atau istirahat saja.
.
.
.
__ADS_1