
Tepat setelah makan malam Ajeng dan Tio berpamitan pada Via dan anak nya. Sepanjang perjalanan pulang, pikiran Ajeng tak pernah tenang dan sangat penasaran.
Ting.
Ponsel Ajeng berdenting tanda ada pesan, ia mengernyitkan dahi nya saat Bunda memberitahu bahwa besok lusa adalah pertunangan Al dan Fira.
"Kenapa mendadak sekali, bukannya bulan depan Abang akan menikah" gumam nya dengan bingung.
Ajeng hanya bisa beegumam tanpa ada nya jawaban yang dapat membuat nya tenang.
"Aku harus memastikan sesuatu sebelum Abang menikah dengan Mbak Fira" gumam Ajeng kembali.
Dia lalu menelpon Suami nya yang ternyata sudah ada di Rumah, dia akan menanyakan sesuatu pada Suami nya nanti.
Sehingga tak berselang lama mobil yang membawa mereka sampai juga di halaman luas mansion Ajeng dan Daffa.
"Kalian baru kembali hem?" tanya Daffa saat melihat Anak dan Istri nya masuk.
"Mom , Dadd , Tio langsung ke kamar ya sudah ngantuk" ucap Tio pada kedua nya.
"Ya sayang pergilah" balas Daffa dan Ajeng hanya menganggukan kepala saja.
Daffa menghampiri Istri nya, dia lalu memeluk nya dengan hangat.
"Dadd, ayo kita ke kamar" ajak Ajeng.
"Kenapa sih buru-buru? Sudah rindu ya" goda Daffa yang melangkah mengikuti Istri nya.
Ck.
Ajeng hanya berdecak saja, dia lalu mengajak Daffa ke balkon kamar nya.
"Ada apa, hmm?" tanya Daffa lembut saat melihat wajah bingung sang Istri.
"Apa wanita yang kalian jadikan taruhan dulu nama nya Via?" bukannya menjawab, Ajeng justru bertanya dengan sorot mata yang tajam dan menahan gejolak amarah.
Hemm.
Daffa berdehem sebelum akhir nya dia menganggukan kepala nya, dia sedikit bingung karena Ajeng tahu nama wanita itu.
"Ya dia nama nya Via, atau lebih tepat lagi Selvia Nugraha" jawab Daffa.
Deg.
"Apa Bang Al sampai menghamili nya dan mereka mempunyai anak?" sentak Ajeng dengan nafas memburu.
__ADS_1
"Emm untuk itu aku tidak tahu, sayang" jawab Daffa terbata.
Ajeng menatap Daffa dengan tajam, dia tahu bahwa Suami nya menyembunyikan sesuatu dari nya.
"Jawab yang jujur, Mas" ucap Ajeng dengan dingin.
"Hei kenapa kamu jadi begini sayang? Lagian aku gak tahu kok, kenapa juga kamu nanyain hal yang sudah lampau" tegas Daffa.
Brak.
"Lihat poto itu baik-baik" sentak Ajeng pada Daffa sambil melemparkan poto yang dia ambil dari Rumah Via.
"Anak perempuan itu sangat mirip dengan Bang Al, bukan hanya mirip tetapi dia sudah seperti replika nya Bang Al" teriak Ajeng penuh emosi.
"Kalian bertiga tidak punya perasaan, kalian merusak mental dan fisik wanita baik-baik demi hal gila kalian" ucap nya lagi dengan sorot mata kecewa.
"Sekarang kalian diam saja, happy-happy dan tanpa kalian sadar ada sosok wanita dan anak yang berjuang dari keras nya hidup? Dari gunjingan masyarakat dan bahkan mereka bisa saja tidak mendapatkan makanan di luaran sana" lirih Ajeng.
"Aku kecewa pada kamu, Mas. Kamu dan Abang berbohong padaku selama ini, kalian semua sangat jahat" ucap Ajeng kembali dengan melangkah pergi dari Daffa yang masih syok.
Deg.
Deg.
"Sayang hei dengarkan aku dulu" teriak Daffa sambil menyusul Ajeng yang sudah di dalam kamar.
"Oke oke, nanti aku akan jelaskan di jalan dan aki mohon dengarkan penjelasan ku" balas Daffa dengan lembut.
Ajeng hanya diam saja, dia keluar kamar dan langsung menuju ke kamar Tio untuk menyuruh nya bersiap.
"Aargghh" teriak Daffa dengan prustasi.
Daffa langsung menyusul sang Istri, dia tidak ingin kalau Ajeng sampai marah besar pada nya.
Dan malam itu juga Ajeng, Tio dan Daffa pergi ke Jakarta. Mereka tidak akan langsung ke mansion orangtua Daffa ataupun Ajeng, tetapi mereka akan langsung ke Apartemen milik Daffa.
Selama perjalanan , Daffa menjelaskan bagaimana dia juga baru saja tahu kalau Via hamil anak Al dari Al sendiri sewaktu di Club.
Ajeng hanya diam dan tak merespon apapun, dia masih merasa sangat marah akan Abang dan teman-teman nya.
"Lihat saja Bang, aku akan memberikan mu pelajaran jika memang wanita itu adalah Via sekertaris ku" batin Ajeng mengepalkan tangannya.
"Sayang" panggil Daffa lembut.
"Diam Mas, aku saat ini tidak ingin bicara apapun padamu sebelum semuanya jelas" tegas Ajeng tanpa menoleh pada Suami nya.
__ADS_1
Sedangkan di kursi belakang, Tio pura-pura tidur karena tidak ingin Mommy dan Daddy nya khawatir kalau dia terlihat masih bangun.
Tepat jam 01 dini hari mereka sampai di Apartement Daffa. Ajeng langsung saja menyuruh Tio untuk istirahat di kamar nya.
"Jeng" panggil Daffa lirih.
Huh.
Ajeng membuang nafas kasar, dia lalu membalikan tubuh nya dan menatap Suami nya yang terlihat lelah dan menyesal.
"Tidurlah dulu Mas, aku tahu kamu lelah. Besok pagi panggil Arion dan Bang Al kemari" ucap Ajeng dengan lembut.
Daffa mengangguk, lalu ia meraih ponsel nya dan mengabari kedua sahabat nya agar datang besok pagi ke Apartement.
Setelah itu, Daffa ikut merebahkan tubuh nya di samping Ajeng yang sudah memejamkan mata nya.
"Aku mohon jangan marah, aku tidak bisa jika kamu begini, sayang" gumam Daffa sambil memeluk erat tubuh Ajeng.
Daffa memejamkan mata nya dan ikut terlelap, dia memang lelah karena baru saja pulang dari Jakarta dan dia harus kembali ke Jakarta dengan keadaan perasaan tak menentu.
Ajeng membuka mata nya, dia mengusap lembut pipi Daffa yang sudah terlelap.
"Maafkan aku Mas, aku hanya kecewa pada kalian saja. Aku takut bahwa wanita yang kalian sakiti adalah Via sekertaris ku yang sangat baik dan lugu" gumam Ajeng dengan meneteskan air mata nya.
"Dan jika memang dia wanita itu, berarti dia sudah punya keponakan dan bagaimana dengan reaksi kedua orangtua ku" gumam nya lagi.
Ajeng menangis dalam diam, dia sama sekali tidak menyangka bahwa Abang yang selama ini membuat nya merasa nyaman, terlindungi dan paling menyayangi nya adalah seorang yang jahat.
Puas dengan menangis, Ajeng terlelap dalam dekapan Suami nya. Ia menyenderkan kepala nya di dada bidang Daffa.
*
Al dan Arion yang kebetulan sedang di Club pun di buat penasaran karena Daffa menyuruh nya untuk datang besok pagi.
Bahkan Daffa baru saja pulang ke Bandung namun dia sudah menyuruh nya datang karena ada hal penting mengenai Ratu. Ratu yang di maksud mereka adalah Ajeng, karena dia selalu di ratu kan oleh ketiga nya.
"Al, aku menginap di Apartemen mu saja agar besok kita langsung kesana" ucap Arion sebelum mereka masuk ke dalam mobil masing-masing.
"Baiklah, ayo pulang" ajak Alvredo.
Lalu kedua nya pun pulang dari sana, Al menerka hal penting apa yang sampai Daffa saja terdengar prustasi.
"Ah aku tunggu saja besok agar tau" batin Al dengan helaan nafas kasar.
.
__ADS_1
.
.