
Hari ini Vio sudah bisa pulang, dengan senyuman yang tak pernah surut itupun Vio meminta sang Ayah untuk mengantarkannya.
Via mengemasi beberapa helai pakaian milik nya dan Vio, dia juga membereskan beberapa berkas yang selalu dia bawa jika pulang dari perusahaan.
"Ayah, nanti aku ingin beli Cake dulu" ucap Vio dalam gendongan Alvredo.
"Siap Tuan Putri" balas Al mengecup pipi Putri nya.
Mereka melangkah keluar dari ruangan, semua barang-barang milik mereka akan di bawa oleh anak buah Al.
Via merasa bahagia melihat raut wajah Vio yang selalu tersenyum dengan adanya Al.
"Silahkan masuk Bunda" ucap Al membukakan pintu mobil untuk Via.
"Terimakasih, Mas" balas Via tersenyum kecil.
Al mengangguk, dia lalu meletakan Vio di atas pangkuan Bunda nya yang sudah duduk rapih di samping kemudi.
"Kita beli dimana Cake nya?" tanya Al.
"Sebelum belok ke Rumah di sebelah kanan, disana ada Toko Cake yang Vio suka" jawab Via.
"Hmm baiklah" ucap Al.
Kemudian Al fokus kembali pada jalanan, selama di Rumah sakit dia selalu melakukan pendekatan pada Via dan tentu saja atas bantuan Putri nya, Vio.
1 Jam berlalu, Al menghentikan laju mobil nya tepat di depan Toko yang sudah Via sebutkan tadi.
"Bunda disini saja, aku sama Ayah yang akan beli" ucap Vio dengan lancar.
__ADS_1
"Baiklah, jangan ambil terlalu banyak oke" balas Via dengan penuh nasihat.
"Siap, Bunda" patuh Vio.
Kemudian Vio dan Al masuk ke dalam Toko, Al hanya mengikuti kemana arah telunjuk mungil milik Putri nya menyuruh.
Setelah mendapat apa yang Vio mau Al bergegas kembali ke mobil. Dia takut Via lama menunggu disana.
"Sudah?" tanya Via pada kedua nya.
"Sudah, lihatlah dia sangat lahap" jawab Al menunjuk pada Vio yang asyik makan Cake di jok belakang.
Via menggelengkan kepala nya, dia lalu membiarkan Putri nya yang sedang fokus.
Hingga tak berselang lama mereka sampai di Rumah Via yang dulu, disana sudah ada 2 pelayan dari mansion.
"Ayo, Nak" ajak Via pada Putri nya
Mereka melangkah masuk ke dalam Rumah, Vio ingin tidur siang namun di temani oleh Ayah dan Bunda nya.
Mau tak mau Via dan Al ikut serta merebahkan tubuh nya di samping Vio yang sudah lebih dulu rebahan.
"Bunda, Ayah" panggil nya dengan sorot mata yang terlihat memohon.
"Kenapa, Nak?" tanya Via lembut.
Vio lalu menatap Ayah dan Bunda nya bergantian, dia kemudian memegang tangan Ayah dan Bunda nya.
"Vio ingin sekali kita selalu bersama, tidur bareng, terus tinggal bareng. Vio ingin kayak Abang Tio yang Ayah dan Bunda nya kemana-mana bareng" ucap Vio dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
"Aku sudah lama menginginkan sosok Ayah, meski Bunda juga selalu berlaku seperti Ayah. Aku ingin kalian bersama" pinta nya lagi dengan menyatukan tangan kedua orangtua nya dan dirinya.
Deg.
Via dan Al saling tatap, lalu Al menggelengkan kepala tanda bukan dia yang meminta nya.
"Bunda, bisakah Bunda menikah dengan Ayah?" tanya Vio penuh harap.
"Ya Allah, aku harus bagaimana?" batin Via.
Vio melepaskan pegangan tangannya, dia lalu menyeka air mata nya dan memejamkan mata nya.
"Tidak apa kalau tak bisa, Bunda" lirih Vio.
Hufh.
"Sayang, Bunda dan Ayah akan menikah dan kita akan bersama-sama" ucap Al dengan sangat yakin.
Via memejamkan mata nya dan membuang nafas kasar. Dia lalu mengangguk seraya tersenyum saat manik mata Putri nya menatap ke arah diri nya.
"Vio sayang kalian" ungkap nya dengan penuh bahagia.
.
.
.
.
__ADS_1
.