
"Via, Vio" teriak Al saat sudah berada di dalam mansion.
"Maaf Tuan muda, Nona Via membawa Nona Vio ke Rumah sakit x" ucap kepala pelayan yang baru kembali dari belakang.
"Tapi itu mobil Via ada di depan, Bi?" tanya Al dengan bingung.
"Nona Via menggunakan taxi dan mereka juga membawa koper pakaiannnya" jawab kepala pelayan dengan menundukan kepala nya.
Deg.
"Maksud Bibi?" tanya Al kembali memastikan.
"Nona Via membawa koper miliknya dan Nona kecil, Vio. Katanya mereka akan menempati Rumah nya yang dulu" jawab kepala pelayan dengan terbata.
"Ya Tuhan, Via" gumam Al dengan prustasi.
Al langsung saja keluar dari mansion, dia masuk ke dalam mobil dan melajukannya dengan kecepatan tinggi. Al melajukan mobil nya ke Rumah sakit yang di sebutkan oleh kepala pelayan mansionnya.
Tak berselang lama, Alvredo sampai juga di Rumah sakit dimana sang Putri sedang di rawat. Al mencoba menghubungi Via namun tak sama sekali di jawab oleh nya.
"Shitttt" geram nya.
Al melangkah ke arah resepsionis dan langsung bertanya disana, setelah mendapatkan apa yang dia mau dia langsung saja pergi ke ruangan Vio.
Langkah lebar Al sangat tergesa, dia sangat khawatir akan keadaan Putri nya yang memang sejak pagi tadi sudah panas.
Ceklek.
__ADS_1
"Ayah" ucap Vio dari arah ranjang Rumah sakit.
"Sayang, mana yang sakit hmm?" tanya Al dengan langkah cepat nya menghampiri Vio.
Vio hanya menggelengkan kepala, dia lalu memeluk Ayah nya dengan erat.
"Kenapa Ayah lama sekali" rajuk nya dengan wajah yang sangat pucat.
"Maaf sayang, Ayah tadi ada kendala" jelas Al dengan penuh kelembutan.
Al lalu duduk di samping Vio, dia memangku Putri nya agar lebih nyaman untuk di peluk. Lalu ekor mata nya menatap Via yang sama sekali tak mengeluarkan sepatah kata apapun, kemudian dia juga melihat koper yang ada di sudut ruangan.
"Vi" panggil Al dengan lembut.
Via mendongkak dengan tatapan yang lurus ke mata Al yang sedang menatapnya sendu.
"Maaf, aku dan Vio akan tinggal di Rumah yang dulu. Aku mohon jangan melarang kami" jawab Via dengan menundukan kepala nya.
"Aku akan membeli makanan lebih dulu, tolong jaga Vio" ucap Via bangkit dari duduk nya.
Al hanya menghembuskan nafas kasar nya, dia lalu memeluk Vio dan mengusap lembut punggung Putri nya.
"Hmm baru juga mulai udah ada pengganggu saja" gumam Al sambil menghela nafas kasar.
Terdengar helaan nafas teratur dari mulut mungil Vio, lalu Al merebahkan tubuh Putri nya dengan nyaman di atas ranjang.
Kriet.
__ADS_1
Ceklek.
"Vi, kemarilah" ucap Al dengan menepuk sofa yang di samping nya.
Via mengangguk, lalu dia duduk di samping Al dengan meletakan beberapa makanan yang dia beli.
"Jangan salah paham dulu dengan kejadian tadi di kantor, Fira hamil bukan anakku. Aku juga punya bukti nya" jelas Al langsung to the point.
"Aku tak perduli, jika memang itu bukan anakmu harus nya kau bisa tegas" ucap Via dengan sorot mata tajam nya.
"Iya iya, jangan marah begitu" balas Al dengan memegang tangan Via lembut.
"Tapi, aku akan tetap pindah ke Rumah dulu agar terhindar dari gosip yang tak enak" putus Via dengan tegas.
Al menghembuskan nafas pelan, ia lalu mengangguk dengan pasrah.
"Baiklah, asal bawa pelayan dari mansion dan tak ada penolakan sama sekali" ucap Al lebih tegas.
"Hmmm" pasrah Via dengan menganggukan kepala nya.
.
.
.
.
__ADS_1
.