He'S My Son'S Father!

He'S My Son'S Father!
Bab 6 Club.


__ADS_3

Yogi meletakan semua hasil masakannya di atas meja makan. Dan kebetulan Vio sudah bangun sehingga ia langsung menyajikannya untuk sang Adik.


"Kamu makan dulu disini ya, Abang nganterin dulu ini buat Bu Sulis" ucap Yogi setelah menyiapkan bakso untuk sang Adik.


"Siap Abang" balas nya dengan patuh.


Yogi kemudian membawa paperbag keluar, dia langsung saja menuju ke Rumah yang ada di samping Rumah Bunda nya.


**


-Bekasi.


Sedangkan di Bekasi, Via dan Ajeng baru saja selesai meninjau proyek yang ternyata bermasalah. Bahkan Ajeng di buat marah besar karena para tukang nya yang leha-leha dan terkesan lelet.


Sehingga dia langsung turun tangan untuk bertanya dan mengawasi nya bersama dengan Vio. Dan hal yang mengejutkan terjadi disana, karena sang mandor yang menggelapkan upah mereka sehingga mereka mogok.


Ajeng langsung mengurus sang mandor dan Via sendiri mengurus semua upah yang belum di bayar oleh mandor tersebut.


Sehingga sore hari mereka baru selesai dan menuju pulang kembali ke Bandung.


"Vi, kita akan lembur ya" ucap Ajeng setelah mereka duduk di dalam mobil.


"Baik Bu" balas Via dengan menganggukan kepala nya.


Kemudian Via membuka laptop dan berkas yang memang harus selesai hari ini juga, bahkan ia tak kenal lelah dan terus saja bekerja.


Hingga tak terasa 3 jam sudah mereka di perjalanan dan sampai di perusahaan tepat jam 7 malam.


Via memesan makan malam untuk mereka berdua, ia juga memesan beberapa camilan untuk menemani lembur mereka sesuai perintah Ajeng.


"Bu, ini laporan keuangan bulan besok dan juga bukti kecurangan mandor tadi" ucap Via sambil memberikan berkas pada Ajeng.


"Apa sudah di rangkum dan di tandai, Vi?" tanya Ajeng.


"Sudah semua Bu" jawab Via sopan.


Tok.


Tok.


"Masuk" ucap Via.


Ceklek.


"Maaf Bu, ini pesanan anda" ucap OB yang membawa beberapa pesanan Via.


"Terimakasih, tolong letakan di atas meja saja" balas Via ramah.


OB tersebut mengangguk patuh, lalu setelah nya ia pergi setelah semua nya beres.


"Bu, makan malam dulu nanti baru lanjutkan bekerja" ajak Via pada Ajeng.

__ADS_1


"Ayo, kebetulan juga saya sudah lapar" balas Ajeng terkekeh kecil.


Kedua nya lalu makan malam dengan sedikit berbincang.


Ajeng sangat penasaran akan kehidupan Via, namun ia tak ingin memaksa nya untuk bercerita.


"Vi, weekend besok boleh gak aku main ke Rumah mu?" tanya Ajeng penuh harap.


Uhuk.


"Ehh minum dulu" ucap Ajeng sambil menyodorkan air minum milik Via.


Via langsung saja meminum nya hingga tandas, ia terkejut dengan pertanyaan dari sang Atasan.


"Terimakasih, Bu" ucap Via.


"Ehem, saya sih silahkan saja namun Rumah saya kecil dan cukup berantakan" ucap Via kembali.


"Tak apa, saya ingin bertemu dengan kedua Anak mu" balas Ajeng tersenyum senang.


Via mengangguk, dia tidak mungkin menolak keinginan atasannya.


Setelah selesai makan malam, Via dan Ajeng kembali fokus pada pekerjaannya.


Bahkan Via ingin segera pulang takut Vio akan rewel, karena tidak pernah di tinggal sampai malam.


"Semoga saja Vio tidak rewel" gumam Via dengan gelisah.


***


Saat ini tepat jam 9 malam, 3 cowo tampan berkumpul di Club terbesar yang ada di Jakarta. Mereka akan menghabiskan waktu disana hanya untuk minum tanpa bermain wanita.


"Maaf gue terlambat" ucap Al.


"Sudah biasa, ayo duduk dulu Al" balas Daffa.


Lengkap sudah mereka, ada Alvredo , Daffa dan Arion. Mereka bersahabat sudah sejak lama, bahkan sejak mereka bersekolah menengah pertama.


"Gile lu Al, kerja mulu kerjaan nya" celetuk Arion dengan santai.


"Daripada gue foya-foya gak tentu, nanti malah di libas oleh bokap" balas Al enteng.


Daffa sendiri hanya menggelengkan kepala nya melihat kedua sahabat nya yang terus saja akan beradu mulut jika bertemu.


"Al, apa lu udah tahu kabar wanita itu?" tanya Daffa mulai serius.


Hufh.


Al menggelengkan kepala nya dengan membuang nafas kasar, dia juga menundukan kepala nya.


"Belum sama sekali, dia hilang bak di telan bumi tanpa jejak apapun" jawab Alvredo.

__ADS_1


"Semenjak kejadian itu dan dia tahu bahwa dia bahan taruhan kita, dia pergi entah kemana" jelas nya lagi.


"Apa lu udah coba cari tahu ke alamat Rumah nya?" tanya Arion.


"Sudah, namun semua nya nihil. Mereka pindah setelah wisuda dan gue gak tau kemana mereka pergi" jawab Al kembali.


Daffa dan Arion menghela nafas kasar, rasa sesal menderu di hati mereka apalagi Alvredo.


"Gue yakin, dia mendengar semua nya waktu itu" ucap Daffa.


"Ya gue juga begitu, tapi ada hal yang sampai saat ini gue sesali bahkan gue masih mencari keberadaannya" balas Al dengan memejamkan mata nya.


"Apa?" tanya Arion dan Daffa penasaran.


Huh.


"Dia hamil anak gue" jawab Alvredo dengan helaan nafas berat.


Brak.


"Apa kau bilang? Ha hamil?" tanya Arion dengan wajah terkejut nya.


"Ya, dia hamil anak gue, awal nya gue juga gak percaya tetapi gue lihat sendiri dia jatuhin surat dari Rumah sakit tepat ruangan gym dan gue lihat dari Cctv" jawab nya dengan meremas gelas yang ada di tangannya.


"Karena itu gue merasa sangat bersalah dan sesal, namun gue juga tidak bisa apapun saat ini, karena kalian tahu kan gue udah mau nikah bulan depan" ucap nya dengan sorot mata penuh penyesalan.


Arion dan Daffa bisa melihat jelas bahwa sahabat nya kini sedang di landa kebingungan.


Mereka juga tak kalah bingung dan sesal karena hal konyol mereka sampai membuat seorang wanita baik-baik terluka.


"Terus lu mau bagaimana sekarang?" tanya Daffa tenang.


"Gue ingin bertemu dia dan anak gue, sebelum gue menikah dengan Fira" jawab Al lirih.


"Lu tenang saja, gue dan Daffa akan bantu cari dia. Gue yakin dia masih ada di Indonesia" ucap Arion menepuk pundak Al pelan.


"Thanks, gue pulang dulu" balas Al bangkit dari duduk nya.


Kemudian mereka beranjak dari Club tersebut, karena memang sudah bising dan juga sudah hampir tengah malam.


Al membawa mobil nya dengan kecepatan cukup tinggi, dada nya terasa sesak dan ingatan dimana dia menikmati malam panas bersama dengan wanita polos dan baik.


Rasa sakit yang sudah sejak lama menggerogoti hati nya kini kembali mencuat, dia tidak bisa tenang dalam tidur maupun hari-hari nya.


Rasa bersalah dan penyesalan selalu saja menghantui nya selama ini, apalagi saat ia tahu bahwa malam panas itu membuahkan hasil di rahim sang wanita.


"Maafkan aku, ku mohon berilah aku petunjuk agar bisa menemukan mu, Via" gumam Alvredo dengan lirih.


Al mencengkram erat setir mobil, dia merasa sangat marah dan muak akan dirinya yang belum juga bisa menemukan wanita itu.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2