
Al melangkah dengan pasti, dia sudah ingin menghempaskan tubuh nya di atas ranjang. Emosi nya benar-benar meluap saat mengingat Via, wanita yang dia sakiti.
Bruk.
"Aarrghh, kemana lagi gue harus nyari dia" teriak Al dengan sangat menggema di kamar Apartement nya.
Bugh.
Al menjatuhkan tubuh nya di atas ranjang, dia memukul bantal dengan tangan mengepal erat.
**
-Bandung.
Weekend tiba, dan hari ini Via sangat sibuk bersama dengan Yogi. Mereka membuat camilan, masakan dan berbagai menu lainnya untuk menyambut Ajeng.
Ya, hari ini Ajeng akan datang kesana bersama dengan Suami dan Putra nya.
Mereka berencana akan menghabiskan waktu di Rumah Via dengan piknik di halaman belakang Rumah.
"Bun, ayo kita ke pasar" ajak Yogi yang sudah siap bersama dengan Vio.
"Ayo sayang, Bunda juga sudah selesai mencatat semua nya" balas Via tersenyum.
Yogi mengangguk, kemudian mereka langsung keluar dari Rumah tersebut. Via dan kedua Anak nya pergi ke pasar yang tidak jauh dari Rumah nya.
"Nda, bubul" ucap Vio menunjuk kedai bubur ayam langganan mereka ketika ke pasar.
"Kamu temani Adik kamu makan bubur dulu ya, Bang. Bunda akan ke tempat biasa belanja dan nanti kamu bisa menyusul kesana" ucap Via lembut.
"Siap Bun" balas Yogi patuh.
Via melangkah ke dalam pasar, dia akan stand yang biasa dia belanja bersama dengan Yogi.
"Kenapa aku gugup gini saat Bu Ajeng akan ke Rumah ya" gumam Via sambil memegang dada nya yang berdetak cepat.
Huh.
Via membuang nafas kasar, dia lalu melanjutkan membeli beberapa bahan dapur yang sudah habis. Via juga membeli beberapa buah, daging, ikan dan yang lainnya.
Sehingga tak lama kemudian, Vio datang bersama Yogi yang menggendong nya.
"Bun, sudah?" tanya Yogi menurunkan Vio lalu mengambil alih keranjang belanjaan Bunda nya yang sudah penuh.
"Sudah Nak, kita beli bahan buat bikin bakso ya" jawab Via.
"Ye ye bakso" pekik Vio dengan bahagia.
Via tersenyum, dia mengecup wajah Vio dengan lembut dan berlalu dari sana.
Setelah selesai, Via membawa kedua nya untuk pulang karena sudah lengkap yang mereka butuhkan.
*
Sedangkan di Rumah Ajeng, dia sedang menyiapkan beberapa kebutuhan dirinya dan Putra nya selama di Rumah Via.
"Sayang" ucap seorang pria tampan yang baru saja keluar dari dalam kamar.
"Loh kamu mau kemana, Mas?" tanya Ajeng yang melihat Suami nya sudah rapih.
"Maaf sayang, hari ini Mas akan kembali ke Jakarta karena Abangmu yang rese" jawab Suami Ajeng dengan raut wajah kesal.
__ADS_1
Ajeng terkekeh dan menghentikan pekerjaannya, dia lalu menghampiri Suami nya yang sedang kesal.
"Ada apa memang nya? Jadi kamu tidak akan menemani ku ke Rumah Sekertaris ku?" tanya Ajeng lembut.
"Maaf ya sayang, weekend besok saja kita rencanakan ulang bertemu teman mu itu. Kau tau bukan jika Abang mu akan terus saja meneror ku jika tidak pergi" jawab Suami nya mengusap lembut pipi Ajeng.
Huh.
"Baiklah, pergi saja Mas Daffa" ucap Ajeng dengan membuang nafas kasar.
Yap, pria tersebut adalah Daffa sahabat dari Alvredo.
Daffa mengecup puncak kepala Ajeng sebelum dirinya pergi, dia dengan berat hati melangkah kan kaki nya menuju ke dalam mobil.
Ajeng menggelengkan kepala nya saat lagi dan lagi sang Suami malah berhenti dan menengok ke arah nya.
"Ck, kenapa Bang Al mengganggu waktu istirahat Mas Daffa sih" gerutu Ajeng dengan hentakan kaki nya yang kesal.
"Mom, kenapa?" tanya Putra yang berusia 7 tahun.
"Tidak apa, Bang" jawab Ajeng dengan tersenyum.
Ajeng kembali menyiapkan beberapa barang nya, sebentar lagi mereka akan meluncur ke Rumah Via untuk menikmati weekend.
"Bang, ayo pergi" ajak Ajeng pada sang Putra.
"Oke Mom" balas Tio pada sang Mommy.
Lalu keduanya pergi bersama dengan sang sopir, tak lupa juga Ajeng singgah dulu ke Mall untuk membeli beberapa mainan dan makanan untuk Anak Via.
Sehingga tak berselang lama Ajeng dan Tio sang Putra sampai juga di halaman Rumah Via yang terbilang kecil.
"Pak, nanti saya akan telepon jika sudah akan pulang" ucap Ajeng pada sang sopir ketika dia sudah turun.
Setelah kepergiang sopir nya, Ajeng dan Tio pun melangkah ke Rumah Via.
Tok
Tok
Ceklek.
"Silahkan masuk Bu, Bunda lagi menidurkan Adik dulu" ucap Yogi dengan sopan dan ramah.
"Terimakasih Nak" balas Ajeng ramah.
Lalu Yogi menyuruh tamu Bunda nya untuk menunggu lebih dulu di ruang tengah, karena dia akan mengambil makanan dan minuman lebih dulu.
Tap.
Tap.
"Ah anda sudah tiba, Bu, Tuan muda" ucap Via dengan senyuman manis dan keramahannya
"Heem, tadi Putra mu yang membawa kami masuk" balas Ajeng terkekeh kecil.
"Salam dulu sama Tante Via, Tio" ucap Ajeng pada Putra nya.
Tio mengangguk patuh, dia lalu menyalami Via dengan tersenyum sopan.
"Bunda, semua nya sudah siap di belakang" ucap Yogi yang baru saja tiba.
__ADS_1
Via menganggukan kepala nya, dia lalu mengajak Ajeng dan Putra nya ke halaman belakang. Sedangkan Yogi, dia langsung saja mengajak Tio bermain bersama nya di kamar.
"Jangan terlalu berisik ya, nanti Vio bangun" ucap Ajeng pada Putra nya.
"Siap Mom" balas Tio patuh.
Dan disinilah mereka, di halaman belakang sedang duduk di atas karpet sederhana dan di temani berbagai makanan ringan dan minuman.
"Bu, kemana Suami anda?" tanya Via.
"Dia tidak jadi ikut karena ada pekerjaan di Jakarta, Vi. Tapi minggu besok dia mengajak kamu untuk datang ke Rumah kami" jawab Ajeng ramah.
"Insya allah jika tidak ada halangan ya, Bu" balas Via tersenyum.
Ajeng mengangguk , kemudian mereka bercerita tentang anak-anak nya. Ajeng sempat kaget karena Yogi bukan anak kandung Via melainkan anak angkat, namun ia merasa salut akan Via.
Hingga tiba jam makan siang, Via memanggil Tio dan Yogi untuk makan terlebih dulu.
"Bun, Adik Vio masih tidur" ucap Yogi pada sang Bunda.
"Tidak apa sayang, kita makan berempat saja" balas nya tersenyum.
Yogi mengajak Tio duduk di samping nya, dia menawarkan beberapa lauk pada Tio.
"Cobalah Tio, ini hasil Yogi semua" ucap Via tersenyum kecil.
"Wah benarkah Tante? Ini terlihat sangat lezat" balas Tio dengan berbinar.
"Vi, benarkah ini masakan Anak mu?" tanya Ajeng yang sudah lebih dulu menikmati makanannya.
Via mengangguk pasti, bahkan ia tersenyum kecil saat melihat Ajeng berbinar.
"Ini sangat lezat, Nak" puji Ajeng dengan mengusap kepala Yogi lembut.
"Terimakasih Bu, nanti aku bungkuskan bakso buatan ku ya" balas Yogi tersenyum malu.
"Boleh, Nak" ucap Ajeng.
Lalu mereka makan dengan tenang, terlihat Tio dan Ajeng sangat menikmati makanan tersebut.
"Undaaaa" teriak Vio dari pintu dapur.
Ajeng dan yang lainnya langsung saja mengalihkan atensi nya pada anak perempuan yang sangat menggemaskan itu.
Deg.
Uhuk uhuk.
"Mommy minum" ucap Tio menyodorkan air minum pada Ajeng.
"Ibu tidak apa?" tanya Via dengan khawatir.
Ajeng menggelengkan kepala nya, dia tersenyum agar Via tidak khawatir.
"Kenapa wajah anak Via sangat mirip dengan Abang Al" batin Ajeng menatap lekat Vio.
Ajeng terus saja menatap Vio dengan lekat, dia tidak salah lagi bahwa Vio sangat mirip dengan Abang nya saat kecil.
.
.
__ADS_1
.