
Mentari pagi sudah menampakan ke indahan nya, begitupun dengan Ajeng yang sudah berkutat di dapur sejak pagi sekali.
Tio dan Daffa pun sudah berada di ruang keluarga menunggu kedua sahabat Daffa.
Sehingga tak lama kemudian bel Apartemen tersebut berbunyi.
"Tio saja yang buka ya, Dadd" ucap Tio pada sang Daddy.
"Yasudah sana, nanti langsung saja ajak kedua Uncle mu ke ruang makan" balas Daffa yang ikut beranjak dari duduk nya.
Daffa melangkah menuju ke ruang makan dimana sang Istri sudah duduk disana.
"Sayang, jangan begini terus hemm" lirih Daffa memeluk Ajeng dengan sayang.
"Duduklah dulu, Mas. Kita sarapan pagi dan nanti Tio akan di jemput oleh sopir Mama untuk ikut mereka berlibur ke dufan" ucap Ajeng tanpa menatap Suami nya.
Huh.
Daffa menganggukan kepala, dia saat ini hanya bisa menurut saja agar tidak membuat Istri nya lebih murka.
Tap.
Tap.
Terdengar derap langkah yang menuju kesana dengan lumayan tergesa.
"Ratu" panggil Arion dengan tersenyum.
"Hei kenapa tidak memberi kabar jika pulang, hem" ucap Alvredo lembut.
Sedangkan Tio sudah duduk di samping Daddy nya, dia tau bahwa Mommy nya sedang dalam mood jelek.
"Duduk dan kita mulai sarapan nya" tegas Ajeng pada kedua pria tersebut tanpa mengalihkan pandangannya dari makanan.
Glek.
Arion dan Al menelan ludah kasar, kedua nya kompak menatap Daffa yang diam saja sejak tadi.
Daffa fokus akan makanannya, dia tidak mengindahkan kedua sahabat nya yang sudah menatap nya meminta penjelasan.
"Cepat makan, aku tunggu kalian di ruang keluarga" ucap Ajeng dingin.
Glek.
Glek.
Ketiga nya menelan makanan mereka dengan susah payah, sedangkan Tio mengikuti Mommy nya karena memang dia sudah selesai makan.
Ajeng mengantarkan sang Putra sampai loby Apartemen, dia memastikan kalau Tio ikut bersama dengan Mama mertua nya.
Setelah itu, Ajeng kembali naik ke lantai dimana unit Apartemen Daffa berada.
Ceklek.
Glek.
__ADS_1
Ketiga pria yang sedang berada di ruang keluarga pun menelan ludah nya kasar saat melihat wajah dingin Ajeng.
Pluk.
Ajeng melemparkan poto Vio ke hadapan mereka, dan sontak saja Arion dan Al melotot tajam.
Deg.
Deg.
"Siapa ini, Jeng?" tanya Al dengan jantung berdetak kencang.
"Ini sudah seperti Al kecil namun persi cewe" ucap Arion masih dalam keterkejutannya.
"Jeng, jawab" sentak Al.
"Daf, kamu tau kan dia siapa?" tanya Al dengan mengcengkram tangan sahabat nya.
Daffa diam , dia menatap Ajeng dengan seksama.
"Apa Abang merasakan persaan berbeda saat melihat wajah anak yang di dalam poto itu?" tanya Ajeng dingin.
Al diam, lalu tak lama kemudian menganggukan kepala nya.
"Apa wanita yang menjadi taruhan Abang dulu hamil?" tanya Ajeng kembali.
Deg.
Al menatap Adik nya dengan seksama, dia tidak menyangka bahwa Adik nya akan tahu rahasia besar ini.
"Abang menghamili nya kan?" sentak Ajeng dengan mata memerah.
Arion dan Daffa tak mampu berkata ataupun membela Al, karena mereka juga baru tahu kemarin-kemarin bahwa Via hamil anak Al.
"Jawab Bang" bentak Ajeng kembali dengan air mata yang sudah menetes.
Daffa langsung memeluk Ajeng, dia mengusap punggung Istri nya yang sedang bergetar menahan tangis nya.
"A abang abang-"
"Iya kan Abang menghamili nya" ucap Ajeng memotong ucapan sang Abang.
"Apa jadi nya kalau Bunda dan Ayah tahu? Dan bagaimana jika Fira tahu bahwa Abang pernah menghamili wanita lain?" tanya Ajeng dengan nada tinggi.
"Apa kalian memikirkan hal itu sebelum melakukan taruhan? Apa kalian tidak pernah berpikir pada korban nya, hah?" teriak Ajeng kembali.
Nafas Ajeng memburu, dia menekan dada nya yang terasa sesak.
"Sayang hei, duduk dulu" ucap Daffa khawatir.
Ajeng menurut, dia mengatur nafas nya. Daffa memberikan air minum untuk Istri nya dan Ajeng menerima nya.
"Maafkan Abang, Abang sudah berusaha mencari nya namun tidak menemukan Via" jelas Al.
"Abang juga tidak tahu dia menggugurkan anak itu atau tidak" ucap Al kembali dengan menatap poto Vio yang ada di tangannya.
__ADS_1
"Kita juga sudah menyebar anak buah kita agar mencari Vio, Jeng" ucap Arion ikut menimpali.
Ajeng diam saja, dia bungkam dengan seribu bahasa bahkan Ajeng terkesan acuh dengan semua penjelasan dari Al maupun Arion.
Untung saja semalam ia sudah menyuruh orang kepercayaannya untuk memindahkan Via ke perusahaan pusat di Jakarta. Dia juga menyuruh anak buah nya untuk menjaga dan mengecoh orang-orang Suami dan Abang nya.
"Untung saja aku gerak cepat" batin Ajeng dengan tenang.
"Apa kamu tahu dimana Via, Jeng?" tanya Al dengan penuh selidik.
"Tidak" jawab Ajeng dengan santai.
"Jangan bohong, kamu pasti tahu karena kamu memberikan poto anak ini pada Abang. Kasih tahu Abang Vi, dimana mereka sekarang?" tanya Al lagi dengan cepat.
"Kalaupun aku tahu, aku tidak akan memberitahu mu Bang" ucap Ajeng dengan tegas.
Ajeng lalu pergi dari sana, dia ingin meredakan emosi nya dan menenangkan pikirannya.
Al awal nya akan mengejar Ajeng, namun Daffa segera mencegah nya dengan gelengan kepala tegas.
"Biarkan dia sendiri dulu, Al. Kau tahu bukan bagaimana bungkam nya Adik mu itu" ucap Daffa.
"Yang di katakan Daffa benar Al, kita sabar dulu saja" timpal Arion dengan tenang.
"Coba kau suruh anak buah mu mencari ke bandung dan berikan poto tersebut pada nya, aku yakin bahwa dia salah satu karyawan di perusahaan Ajeng" bisik Daffa dengan pelan.
Al mengangguk pasti, dia dengan cepat mengirim pesan pada anak buah nya agar bergerak dengan cepat.
Mereka bertiga berdiam diri di sana dengan kecemasan dan kegelisahan.
Ceklek.
"Sayang" panggil Daffa dengan lembut.
"Hemmm" balas Ajeng tanpa mengalihkan tatapannya.
Daffa menghela nafas, dia mencoba sabar dan terus membujuk Ajeng agar berbicara pada nya dan para sahabat nya.
**
Sedangkan Via dan kedua anak nya baru saja tiba di Jakarta. Mereka langsung di bawa ke tempat yang sudah di siapkan Ajeng.
"Bunda, kenapa kita pindah kesini?" tanya Yogi bingung.
"Bunda di pindahkan kerja ke perusahaan pusat, jadi kita harus ikut pindah juga" jawab Via lembut.
"Lalu Rumah Bunda yang di Bandung?" tanya Yogi kembali sambil membantu Via beberes.
"Nanti Bunda akan jual, Nak. Karena takutnya tidak akan terawat"jelas Via tersenyum.
Yogi mengangguk kepala mengerti, dia lalu membereskan pakaian nya sendiri di kamar yang sudah Bunda nya tunjukan.
.
.
__ADS_1
.