Hi, Ladys! I Love You

Hi, Ladys! I Love You
Bab 10 Perkelahian Di Malam Pertama


__ADS_3

Malam pun tiba...


Resepsi pernikahan Ken dan Shenna berjalan dengan sangat meriah, bahkan banyak wartawan yang datang untuk meliput pernikahan dua pengusaha sukses itu.


Rekan bisnis maupun teman Shenna dan Ken, datang berbondong-bondong membuat Shenna merasa sangat kesal karena harus berdiri terus menyambut tamu yang hadir.


Bagi Shenna dan Ken menyalami tamu undangan, tidaklah begitu menyusahkan tapi berpura-pura bahagia dan tersenyum lebar adalah hal yang sangat sulit dan begitu sangat menyebalkan.


"Astaga sungguh sangat melelahkan," gumam Shenna.


Ken hanya melirik sekilas ke arah Shenna, sebenarnya dia juga sangat lelah dan ingin segera merebahkan tubuhnya.


Sementara itu, Vlo dan Jenny asyik makan makanan yang tersedia di sana. Banyak tamu undangan yang memperhatikan kedua wanita cantik itu tapi sayangnya, Vlo dan Jenny tidak memperdulikan tatapan-tatapan dari para pria itu.


"Jenn, aku merasa kesal tahu, kenapa semua pria harus memperhatikan kita," seru Vlo.


"Itu kan, sudah biasa Vlo, jadi biarkan saja. Selama mereka sopan dan tidak mengusik kita, jangan pedulikan mereka," sahut Jenny.


Keduanya kembali makan dengan asyiknya, Vlo tidak tahu kalau dari kejauhan ada seorang pria yang dari tadi menatapnya dengan tatapan kagum.


"Zul, cari tahu siapa wanita itu," seru pria tampan sembari menunjuk ke arah Vlo.


"Baik Bos, saya akan segera mencari tahunya."


Pria tampan itu tidak lain adalah Vincent yang merupakan pemilik show room mobil mewah. Vincent datang karena diundang oleh Papanya Ken yang merupakan sahabat Papanya, jadi Vincent sama sekali tidak mengenal Ken.


"Wanita itu sungguh sangat cantik, bahkan mampu menggetarkan hatiku. Pokoknya aku harus mendapatkannya, bagaimana pun caranya," batin Vincent.


Zul yang merupakan asistennya, memperlihatkan ponselnya kepada Vincent.


"Ini Bos, data wanita itu."


Vincent melihatnya. "Vlora Valencia, pengusaha kecantikan. Pantas saja cantik banget, ternyata dia pemilik klinik kecantikan terkenal itu," gumam Vincent.


Vincent langsung jatuh cinta kepada Vlo pada pandangan pertama, dan dia berniat akan mendapatkan cinta Vlo bagaimana pun caranya.


Vlo dan Jenny duduk di kursi yang sudah disediakan khusus untuk mereka.


"Maaf Nona, apa Nona-nona mau minum," seru salah satu pelayan.


Vlo dan Jenny menoleh sebentar kepada di pelayan, lalu mengambil minuman masing-masing.


"Terima kasih," seru Jenny.


"Sama-sama, Nona."


"Pelayan itu tampan juga," seru Vlo.


Jenny hanya tersenyum, tidak menanggapi ucapan Vlo.

__ADS_1


"Gian, kamu beruntung sekali bisa memberikan minuman kepada kedua wanita cantik itu. Apa kamu tidak kena semprot?" tanya salah satu rekan kerjanya.


"Tidak, mereka biasa-biasa saja. Memangnya kenapa dengan mereka?" tanya Gian.


"Mereka itu sahabatnya Nona Shenna pengantin wanitanya, mereka bertiga terkenal sangat dingin dan kejam kepada semua orang."


"Oh begitu ya, kalau aku gak terlalu peduli sih, karena aku di sini hanya kerja dan tidak memikirkan siapa tamu-tamu yang ada di sini," sahut Gian.


Malam pun semakin larut, pas di jam 12 malam, pesta pun berakhir. Keluarga Shenna dan Ken memutuskan untuk menginap di hotel itu.


Shenna dan Ken pun berjalan menuju kamar pengantin yang sudah disiapkan khusus untuk pengantin baru.


Ken berjalan di depan dengan santainya sembari mengotak-ngatik ponselnya, sedangkan Shenna tampak kesusahan dengan gaun yang dia pakai.


"Astaga, kakiku sakit banget ini," gumam Shenna.


Shenna pun melepaskan heelsnya dan memutuskan berjalan tanpa menggunakan heels.


Hingga beberapa saat kemudian, mereka pun sampai di depan kamar pengantin mereka.


"Kamu pesan kamar satu lagi, aku gak mau ya satu kamar denganmu," ketus Shenna.


"Kamu tidak lihat apa, itu ada cctv di depan kamar kita, orangtua kita saat ini sedang memantau dan kalau malam ini kita pisah kamar, kamu dengar kan ancaman mereka kalau kita akan di hapus dari kartu keluarga," sahut Ken.


Shenna hanya bisa menghembuskan napasnya secara kasar, dia benar-benar tidak mau satu kamar dengan orang asing. Ken memang sudah menjadi suaminya saat ini, tapi Shenna tidak menginginkannya.


"Apa-apaan ini?" seru Shenna dan Ken bersamaan.


Keduanya pun langsung menghancurkan riasan kamar pengantin yang terlihat indah itu. Shenna menghempaskan kelopak bunga yang berbentuk love di atas ranjang.


"Astaga, apa-apaan ini norak banget, bisa-bisa badanku gatal-gatal ini. Bagaimana kalau dalam bunga itu ada ulat bulunya," gerutu Shenna.


Shenna menghempaskan bunga-bunga itu, sedangkan Ken menghancurkan balon-balon yang menjadi hiasan itu.


"Kurang kerjaan banget mereka," gerutu Ken.


Shenna mengambil handuk dan baju ganti, lalu masuk ke dalam kamar mandi. Tidak membutuhkan waktu lama, Shenna pun sudah mengganti baju dengan baju tidur.


Ken mendelikan matanya ke arah Shenna, dia pun segera mengambil handuk dan baju ganti kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


"Ya ampun, nyaman sekali akhirnya aku bisa merebahkan tubuhku juga," gumam Shenna dengan senyumannya.


Shenna tertidur dengan cara terlentang, tapi tidak dengan posisi yang benar, dia terlentang menyilang karena Shenna tidak mau berbagi tempat tidur dengan Ken.


Beberapa saat kemudian, Ken pun keluar dari dalam kamar mandi dan tampak melotot saat melihat gaya tidur Shenna.


"Hai, kenapa tidurnya seperti itu?" sentak Ken.


"Memangnya kenapa? aku gak mau berbagi kasur denganmu, jadi mohon maaf kamu tidur di sofa saja," seru Shenna.

__ADS_1


"Apa? enak saja, seumur hidupku, aku tidak pernah tidur di sofa. Jadi, lebih baik kamu saja sana yang tidur di sofa," kesal Ken.


Shenna tidak mendengarkan ocehan Ken, dia justru berguling-guling di kasur seolah-olah meledek Ken. Ken yang kesal, menarik kedua kaki Shenna sampai Shenna jatuh ke lantai.


"Aw, pinggangku!" teriak Shenna.


Ken pun segera melompat ke atas kasur dan melakukan yang sama seperti Shenna.


"Aku tidak suka tidur berdua dengan orang asing, jadi kamu saja yang tidur di sofa," seru Ken.


"Kurang ajar, masa sama wanita aja kamu gak mau ngalah sih," kesal Shenna.


Sekarang giliran Shenna yang menarik kedua kaki Ken dan menyeretnya ke lantai.


"Aduh, sakit," keluh Ken.


Dari sanalah, perkelahian pun tidak bisa terelakan. Shenna dan Ken saling berebut kasur dan keduanya tidak ada yang mau mengalah.


Pukulan, jambakan, tendangan, mereka lakukan. Di saat Ken dalam posisi telungkup, Shenna segera naik ke atas tubuhnya dan menjambak rambut Ken membuat Ken meringis kesakitan.


"Dasar wanita gila, lepaskan! sakit!" teriak Ken.


"Minggir gak, dari kasur ini?" seru Shenna.


"Tidak akan," sahut Ken.


Shenna melipat satu kaki Ken dengan sekuat tenaga membuat Ken berteriak kesakitan.


"Ampun, ampun, sakit bodoh!" teriak Ken.


"Apa kamu bilang? kamu bilang aku bodoh?" geram Shenna.


Shenna semakin menekan kaki Ken membuat Ken semakin berteriak.


"Aaaa...oke-oke, aku akan tidur di sofa. Lepaskan aku."


Shenna pun akhirnya melepaskan kaki Ken, dan dia langsung tepar dengan napas yang masih ngos-ngosan. Shenna adalah tipe orang yang gampang sekali tertidur, mungkin karena efek kecapean juga.


Sementara itu, Ken masih dalam posisi tengkurap. Napas Ken pun sama ngos-ngosan, namun saat ini kakinya terasa sangat ngilu akibat kelakuan Shenna barusan.


"Dasar Rubah licik, ternyata tenaga kamu benar-benar kuat juga," seru Ken.


Ken membalikan tubuhnya karena merasa tidak ada pergerakan sama sekali dari Shenna. Ken menendang-nendang kecil kaki Shenna tapi Shenna tidak bergerak sama sekali, Ken pun bangun dan menghampiri Shenna.


"Astaga, si Rubah ternyata sudah tidur, cepat sekali dia tidur," gumam Ken.


Ken merebahkan tubuhnya, mata Ken sudah mulai sayu. Dia lupa kalau dia harus tidur di sofa, hingga beberapa saat kemudian Ken pun tidur di samping Shenna.


Keduanya tidur di dalam satu ranjang, sungguh mereka adalah pasangan yang sangat unik. Di saat sebagian besar, semua pasangan mendambakan malam pertama, Shenna dan Ken malah berkelahi memperebutkan kasur.

__ADS_1


__ADS_2