Hi, Ladys! I Love You

Hi, Ladys! I Love You
Bab 16 Serba-serbi Di Malam Hari


__ADS_3

Jenny pun kembali ke dapur dengan raut wajah yang tidak bersahabat, membuat semua karyawannya memilih diam daripada harus menerima amukan dari singa betina.


Gian hanya melirik sebentar ke arah Jenny, setelah itu dia kembali memasak.


"Sungguh sangat menyebalkan mereka, orang kaya KW saja sombongnya minta ampun apalagi kalau kaya beneran," batin Jenny dengan geramnya.


Jenny terkenal dengan ramah dan baik hatinya, tapi semua karyawan akan bungkam saat Jenny sedang marah karena emosinya sungguh tidak terbaca dan akan meledak kapan saja.


Jenny pun melepaskan appron nya dan kembali menuju ruangannya, moodnya kali ini sungguh anjlok dan Jenny tidak akan benar melakukan pekerjaannya kalau kondisinya sedang emosi berat.


***


Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, saat ini waktu sudah menunjukan pukul 21.00 malam dan waktunya restoran Jenny tutup.


Tok..tok..tok..


"Masuk."


"Malam Bu, maaf mengganggu sebentar," seru Pak Remon.


"Ada apa, Pak?"


"Ini, bagaimana dengan Chef baru kita?"


Jenny mengangkat kepalanya dan terlihat Pak Remon datang bersama Gian.


"Silakan kalian duduk."


"Terima kasih, Bu."


Pak Remon dan Gian pun duduk di hadapan Jenny.


"Gian, apa kamu betah bekerja di sini?" tanya Jenny.


"Insya Allah betah, Bu."


"Jam operasional restoran ini dari jam 8 pagi sampai jam 21.00 malam, apa kamu masih sanggup? bahkan kalau week end, bisa lembur sampai jam 12 malam. Kalau kamu merasa tidak sanggup, mending bilang dari sekarang jangan sampai nanti kamu bilang gak sanggup di tengah-tengah dan aku pusing harus cari Chef baru," seru Jenny.


"Insya Allah Bu, saya sanggup. Soalnya saya butuh sekali dengan pekerjaan ini," sahut Gian mantap.


"Baiklah, Pak Remon urus saja semuanya dan dia tanda tangan kontrak dulu selama 1 tahun, nanti kalau kerjanya bagus aku akan pertahankan dia."


"Baik Bu, kalau begitu kita pamit pulang."


Jenny hanya menganggukkan kepalanya, Jenny pun segera merapikan barang-barangnya dan langsung mengambil tas, lalu keluar dari ruangannya.

__ADS_1


Jenny terlihat sangat lelah sekali, dia pun segera masuk ke dalam mobilnya setelah sebelumnya dia mengunci restorannya itu.


Jenny melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, hingga di pertengahan jalan, dia melihat Gian berjalan kaki sendirian menyusuri trotoar. Jenny yang memang pada dasarnya baik hati, mulai memelankan mobilnya dan menekan klakson membuat Gian menoleh dan menghentikan langkahnya.


"Kamu mau pulang ke mana? biar aku antar," tanya Jenny dengan senyumannya.


"Tidak usah, terima kasih."


Gian pun kembali melanjutkan langkahnya dan Jenny pun melajukan mobilnya mengikuti Gian. Gian merasa sangat kesal, dia pun kembali berhenti dan menghampiri mobil Jenny. Jenny pun menurunkan kaca mobilnya.


"Bu, tolong jangan ikuti aku, aku sudah dewasa dan aku juga seorang pria, jadi aku bisa pulang sendiri. Lagipula, aku memang sudah biasa jalan kaki. Aku tidak butuh belas kasihan dari siapa pun, terima kasih atas tawarannya," seru Gian dingin.


Gian pun segera melangkahkan kakinya meninggalkan Jenny, sedangkan Jenny hanya bisa terdiam dengan reaksi Gian yang seperti itu.


"Maksudnya apa sih? aku cuma nawarin tumpangan saja, kalau memang dia tidak mau, ya sudah emang aku pikirin," gerutu Jenny.


Jenny pun segera menginjak gasnya dan pergi meninggalkan Gian, Gian hanya bisa geleng-geleng kepala melihat cara Jenny melajukan mobilnya.


Berbeda dengan Jenny dan Gian, di kediaman Vlo, Vincent tampak senyum-senyum sendiri sembari rebahan di atas tempat tidur.


"Awal yang bagus, baru pertama bekerja saja sudah ditawarin tidur di rumahnya," gumam Vincent kegirangan.


Vincent ingat sesuatu, dia pun menghubungi asistennya untuk mengirim pakaian dan celana yang biasa-biasa saja karena Vlo bisa tahu kalau barang-barang yang dipakai Vincent itu asli apa palsu.


"Ah, aku semakin jatuh cinta sama Vlora. Dia benar-benar sudah membuatku gila," gumam Vincent.


Vlo sangat benci kepada orangtuanya karena baik Papi mau pun Maminya, keduanya sama-sama egois dan hanya mementingkan kepentingan mereka sendiri tanpa memikirkan perasaan Vlo.


Papi dan Mami Vlo sama-sama selingkuh di saat mereka masih status suami istri dan itu yang membuat Vlo muak melihat kelakuan kedua orangtuanya yang sangat menjijikan. Hingga akhirnya mereka menikah dengan selingkuhan mereka masing-masing dan Vlo memilih hidup sendiri tanpa ingin ikut Papinya mau pun Maminya.


Sedangkan di kediaman Ken, saat ini Ken masih sibuk di ruangan kerjanya mengurus pekerjaannya. Sementara itu, Shenna tampak mondar-mandir di kamar Ken karena dia tidak mau sampai satu ranjang dengan Ken.


"Astaga, mau tidur saja ribet banget sih. Mana si kuda Nil belum masuk juga ke kamar, kalau aku tidur duluan, takutnya dia ngapa-ngapain aku secara aku nyadar kalau aku sudah tidur, aku suka tidak ingat apa-apa," gumam Shenna.


Shenna terus saja berpikir, hingga ide pun muncul di otak cantik Shenna. Shenna membuka lemari milik Ken dan mencari bad cover, setelah menemukan bad cover Shenna pun menggulung tubuhnya dengan bad cover itu sehingga tubuhnya tertutup rapat bahkan saat ini Shenna sudah tidak bisa bergerak sama sekali.


Ceklek...


Pintu kamar terbuka, Shenna memejamkan matanya berpura-pura, sedangkan Ken mengerutkan keningnya saat melihat Shenna yang sudah terbungkus oleh bed cover.


"Dasar wanita aneh," gumam Ken.


Ken hendak naik ke atas ranjang, tapi tiba-tiba otak jahilnya berfungsi dengan cepat. Ken menghampiri Shenna dan berdiri di samping Shenna, terlihat sekali kalau Shenna pura-pura memejamkan matanya.


"Kamu gak pegal apa, pura-pura memejamkan mata seperti itu?" seru Ken.

__ADS_1


Merasa kelakuannya bisa terbaca Ken, akhirnya Shenna pun membuka matanya.


"Ngapain kamu menggulung tubuh kamu dengan bed cover seperti itu?"


"Hanya untuk jaga-jaga saja, takutnya kamu memanfaatkan situasi buat pegang-pegang aku," ketus Shenna.


"Cih, jangan ngaco buat apa aku pegang-pegang kamu, tubuh kamu itu tidak seksi dan tidak menarik," ledek Ken.


"Apa kamu bilang?" sentak Shenna.


Ken tersenyum penuh arti, hingga akhirnya Ken menarik ujung bed cover yang menggulung tubuh Shenna. Dengan sekali sentakan bed cover itu terbuka dan Shenna pun berguling.


Bruuukkk....


Shenna jatuh dari atas tempat tidur membuat Ken tertawa terbahak-bahak, Ken puas dengan apa yang dia lakukan.


"Akhirnya aku bisa balas dendam juga," seru Ken dengan tawanya.


"Kuda Nil menyebalkan!" teriak Shenna.


Ken pun naik ke atas ranjang dan mulai merebahkan tubuhnya, tidak lupa guling yang dia simpan di tengah-tengah.


Shenna pun bangkit dan dia juga mulai naik ke atas ranjang, Shenna kembali menutupi tubuhnya dengan selimut. Shenna melirik ke arah Ken yang sudah memejamkan matanya dan tidak bergerak sama sekali.


Perlahan Shenna mengangkat kepalanya untuk memastikan kalau Ken benar-benar sudah tidur, tapi tanpa di duga Ken justru mengagetkan Shenna sehingga Shenna kembali terjungkal ke bawah ranjang dan lagi-lagi Ken tertawa lepas melihat Shenna.


"Awas kamu kuda Nil, tunggu pembalasanku!" teriak Shenna.


"Sudah jangan teriak-teriak, aku mau tidur jangan lupa matikan lampunya," seru Ken dengan menahan tawanya.


Shenna benar-benar sangat kesal kepada Ken, dengan wajah yang cemberut, Shenna pun bangun dan segera mematikan lampunya.


Shenna kembali naik ke atas ranjang, dia memiringkan tubuhnya membelakangi Ken dan tidak membutuhkan waktu lama, Shenna pun terlelap masuk ke alam mimpinya. Begitu pun dengan Ken, yang sama-sama sudah terlelap.


*


*


*


Yuk yang mau ikutan event votenya, edisi 1-28 Februari...


Juara 1 : 75k


Juara 2 : 50k

__ADS_1


Juara 3 : 35k


Kalian juga bisa memberikan komen terbaik kalian karena akan ada pulsa untuk 5 orang komen terbaik dan masing-masing mendapatkan pulsa 20k....


__ADS_2