
Vlo pun mulai menggerakkan tubuhnya, dia memegang kepalanya yang terasa masih pusing.
"Shhhh...kepalaku pusing banget," gumam Vlo.
Vlo bangun secara perlahan dan melangkahkan kakinya secara sempoyongan masuk ke dalam kamar mandi.
Sementara itu, Vincent yang sudah mandi dan siap terlihat mondar-mandir di kamarnya.
"Vlo sudah bangun apa belum ya?" gumam Vincent.
Butuh waktu 30 menit untuk Vlo memulihkan kondisinya, hingga akhirnya Vlo pun segera menyelesaikan ritual mandinya. Vlo pun dengan santainya berjalan menuju lemari untuk mencari baju.
Tok..tok..tok..
"Nona, apa Nona sudah bangun!" teriak Vincent.
"Iya, ada apa?"
"Ini aku buka kunci kamarnya ya, soalnya tadi malam aku kunci dari luar."
Vlo mengerutkan keningnya, belum sempat Vlo menjawab ucapan Vincent, Vincent pun membuka pintu kamar Vlo. Seketika keduanya saling tatap satu sama lain, Vincent terkejut karena melihat Vlo hanya memakai handuk saja, sedangkan Vlo terkejut karena Vincent main masuk ke kamarnya begitu saja.
"Aaaaaaaa....."
Vlo berteriak dengan menyilangkan tangannya di dada, membuat Vincent panik dan justru menghampiri Vlo dan membekap mulut Vlo.
"Nona jangan berteriak, nanti di sangkanya aku melakukan hal yang tidak-tidak sama Nona. Janji, Nona jangan berteriak lagi."
Vlo pun menganggukkan kepalanya, dan perlahan Vincent melepaskan tangannya yang sudah membekap mulut Vlo. Namun sayang, tanpa aba-aba Vlo menendang si Bruno sehingga Vincent langsung memegang si Bruno itu dengan meringis kesakitan.
"Aduh, sakit Nona."
"Berani sekali kamu main masuk ke kamarku sembarangan, keluar!"
Vincent tampak tidak bisa berjalan sama sekali, si Bruno terasa sangat ngilu. Tapi Vlo dengan paksa mendorong tubuh Vincent untuk keluar dari dalam kamarnya, dengan kerasnya Vlo membanting pintu.
Sementara itu, Vincent terduduk di depan pintu kamar Vlo dengan masih meringis kesakitan.
"Astaga, tendangannya kuat banget sepertinya aku harus memeriksakan kondisi si Bruno, takutnya si Bruno mati bisa gawat aku," batin Vincent.
Tidak lama kemudian Mami Vlo dengan si brondong keluar dari dalam kamar tamu, dan tampak mengerutkan keningnya saat melihat Vincent terduduk di lantai.
"Ngapain kamu di situ? jangan-jangan kamu lagi ngintip Vlo, ya?" sentak Sammy.
Vincent tidak mendengarkan ocehan Sammy, dia pun segera menetralkan rasa sakitnya, lalu Vincent pun bangkit dan pergi dengan langkah yang tergopoh-gopoh.
__ADS_1
"Dasar pria aneh, tapi kalau di lihat-lihat dia tampan juga sih," seru Mami Vlo.
"Oh, jadi sekarang kamu sudah bosan sama aku," seru Sammy dengan pura-pura ngambek.
Mami Vlo kaget dan dia langsung merangkul lengan Sammy dan memeluknya dengan manja.
"Jangan marah dong sayang, aku cuma bercanda."
Kedua orang tidak tahu diri itu pun menuruni anak tangga untuk sarapan bersama, dan di sana Vincent sudah duduk dengan santai.
"Hai, kamu itu hanya sopir di sini, jadi ngapain kamu makan di sini? sana, makan di dapur," sinis Sammy.
"Lah, memangnya kamu siapa? Nona Vlo saja tidak melarang ku makan di sini kok," sahut Vincent santai.
"Kamu berani melawan kepadaku, aku itu suaminya Maminya Vlo dan itu artinya aku Papinya Vlo juga dan Tuan rumah di sini," kesal Sammy.
"Setahuku, ini rumah Nona Vlo bukan rumahmu jadi yang Tuan rumah di sini itu Nona Vlo dan aku akan mengikuti semua yang diperintahkan oleh Nona Vlo."
Sammy bangkit dari duduknya karena terpancing emosi oleh ucapan Vincent, Sammy menarik kerah baju Vincent hendak memukul Vincent tapi Vlo tiba-tiba datang.
"Apa-apaan kamu, kasar kepada sopirku!" sentak Vlo.
"Vlo, sopirmu itu sudah berkata tidak sopan kepada Papimu," seru Mami Vlo.
"Lepaskan dia!"
"Aku bilang, lepaskan Vincent. Kamu tidak berhak melakukan apa pun dan ikut campur dalam masalah pribadiku karena kamu bukan siapa-siapa aku!" bentak Vlo.
"Vlo, berani sekali kamu bentak Papimu, jadi kamu lebih membela sopir itu dibandingkan orangtuamu sendiri!" bentak Mami Vlo.
"Kalau iya, memangnya kenapa?"
Vlo membuka tasnya dan merogoh amplop dari dalam tasnya lalu Vlo melempar amplop coklat itu ke hadapan Maminya.
"Itu uang terakhir yang bisa aku berikan, jadi mulai sekarang dan seterusnya jangan pernah mengganggu hidupku lagi atau pun datang ke rumah ini lagi. Sekarang juga, kalian pergi dari rumahku!" tegas Vlo.
"Vlo kamu-----"
"Pergi sekarang juga, atau aku panggil sekuriti komplek untuk mengusir kalian berdua!" teriak Vlo.
Kali ini kesabaran Vlo sudah habis, dia sudah muak dengan kelakuan Maminya itu bahkan Vlo sangat menyesal sudah lahir dari rahim wanita seperti itu.
Mami Vlo dan Sammy pun akhirnya pergi dari rumah Vlo, begitu pun Vlo yang langsung pergi dan masuk ke dalam mobilnya. Tentu saja, Vincent pun ikut masuk ke dalam mobil.
Vincent mulai melajukan mobilnya, selama dalam perjalanan tidak ada pembicaraan sama sekali bahkan raut wajah Vlo tampak tidak bersahabat dan Vincent tidak berani mengajak ngobrol Vlo.
__ADS_1
Sesampainya di klinik kecantikannya, Vlo langsung keluar dari dalam mobil dan masuk ke dalam. Sedangkan Vincent memutuskan untuk membeli sarapan untuk Vlo dan dirinya.
Beberapa saat kemudian, Vincent pun kembali ke klinik. Dia membeli sarapan di sebuah restoran terkenal.
"Pagi, Mas Vincent."
"Pagi."
Semua karyawan Vlo tampak ramah kepada Vincent, bahkan banyak sekali yang tebar pesona kepada Vincent tapi sayang, hati Vincent sudah terpaut kepada Vlo.
Tok..tok..tok..
"Masuk."
"Nona, aku belikan sarapan untuk Nona soalnya tadi Nona belum sempat sarapan."
Vincent menyimpan sebuah paperbag yang bertuliskan salah satu restoran ternama.
Vlo mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dan memberikannya kepada Vincent.
"Apa ini, Nona?"
"Buat mengganti uang kamu."
"Tidak usah Nona, uang aku masih ada kok."
"Jangan begitu, aku tahu makanan di restoran ini mahal-mahal, mana gajihan kamu masih lama. Tenang saja, aku tidak akan memotong gaji kamu."
"Seriusan Nona tidak apa-apa aku masih ada uang kok, kalau begitu aku pamit dulu."
Akhirnya Vlo pun menganggukkan kepalanya, Vincent duduk di salah satu kursi tunggu kebetulan ini masih pagi jadi Vincent bisa sarapan dulu di sana.
Baru saja beberapa suap, pintu klinik terbuka menampilkan wanita yang cantik dan seksi.
"Selamat datang di klinik kami," sapa Nina dengan ramahnya.
Vincent tampak membelalakkan matanya, dia kenal dengan wanita itu. Akhirnya Vincent pura-pura tidak melihatnya dan membelakangi wanita itu, tapi sayang wanita itu melihat wajah Vincent.
"Vincent, kamu Vincent kan? ngapain kamu di sini?" tanya wanita yang bernama Lusi itu.
Lusi terus saja mendekati Vincent tapi Vincent menghindar.
"Maaf, kamu salah orang," seru Vincent gugup.
"Tidak, kamu benar Vincent aku tidak akan salah orang."
__ADS_1
Lusi adalah salah satu putri pengusaha yang terkenal, dia adalah wanita yang dijodohkan dengan Vincent tapi Vincent tidak pernah mau dijodohkan dengan Lusi karena Lusi terkenal sebagai wanita bebas dan kebiasaannya juga sangat buruk, hampir setiap malam dia pulang di antar dengan pria yang berbeda-beda dalam kondisi mabuk berat.
Maka dari itu, orangtuanya menjodohkan Lusi dengan Vincent karena orangtua Lusi berharap putrinya akan berubah jika menikah dengan Vincent.