Hi, Ladys! I Love You

Hi, Ladys! I Love You
Bab 43 Benih-benih Cinta


__ADS_3

Jenny masih bengong dengan serangan fajar yang dilancarkan oleh Gian.


"Apa aku sedang mimpi?" lirih Jenny.


Gian tersenyum dan mencubit kedua pipi Jenny membuat Jenny tersadar.


"Ih, berarti barusan benar dong kalau kamu cium aku?" seru Jenny.


"Maaf."


"Kenapa tiba-tiba kamu jadi agresif? bukanya selama ini kamu dingin banget sama aku? aku kira kamu tidak tertarik sama aku?" ledek Jenny.


"Hanya pria bodoh yang tidak tertarik kepada wanita cantik seperti kamu," sahut Gian.


"Terus, kalau kamu tertarik sama aku, kenapa selama ini kamu cuek dan dingin banget?" tanya Jenny.


"Awalnya aku berpikir kalau kamu hanya ingin menggodaku saja, karena aku berpikir mana mungkin seorang Bos menyukai karyawannya, apalagi aku kan orang miskin yang tidak punya apa-apa," sahut Gian.


"Kamu itu terlalu minder pada diri kamu sendiri, belum tentu semua orang kaya seperti yang kamu bayangkan dan kamu pikirkan."


"Maklumlah, aku memang sedikit trauma dengan yang namanya orang kaya. Dari kecil aku sudah ditinggal oleh kedua orangtuaku, dan aku di asuh sama Nenekku. Sejak SD, SMP, dan SMA, aku sama sekali tidak punya teman karena mereka tidak mau temenan sama orang miskin kaya aku. Jadi, di saat kamu menggodaku, aku hanya berpikir kamu ingin main-main saja tapi di saat Nenek aku meninggal, kamu benar-benar menunjukan kalau kamu peduli sama aku dan aku mulai kagum sama kamu," seru Gian.


"Jadi, apa sekarang kita sudah menjadi pasangan kekasih?" tanya Jenny.


"Bisa dikatakan seperti itu."


"Hai, barusan kamu sudah mencuri ciuman dari aku jadi kamu harus bertanggung jawab," kesal Jenny.


Gian terkekeh dan mengusap kepala Jenny. "Oke, aku akan bertanggung jawab," seru Gian.


Akhirnya Jenny dan Gian pun tertawa bersama.


Sementara itu, di hotel Vincent tampak bahagia dia terus saja menggandeng tangan Vlo. Vlo menarik tangan Vincent ke tempat sepi.


"Hai, berani sekali kamu memutuskan sesuatu tanpa bilang sama aku? Memangnya kamu pikir, kamu siapa?" kesal Vlo.


Vlo melepaskan genggaman tangan Vincent dan melipat kedua tangannya di dada.


"Aku tunanganmu," sahut Vincent santai.


"Memangnya aku mau apa, tunangan sama kamu?" sentak Vlo.


Vincent menghampiri Vlo membuat Vlo memundurkan langkahnya, Vincent menatap Vlo dengan senyuman penuh arti hingga punggung Vlo pun terbentur dinding dan Vincent memerangkap tubuh Vlo.


"Yakin kamu tidak mau menikah dengan pria tampan sepertiku?" seru Vincent.


"Cih, percaya diri sekali kamu," sahut Vlo dengan memalingkan wajahnya.

__ADS_1


Tidak bisa dipungkiri kalau saat ini jantung Vlo sudah tidak bisa terkendali lagi, padahal setiap hari dia bertemu dengan Vincent tapi entah kenapa kali ini jantungnya tiba-tiba saja berdetak tak karuan.


Vincent mencium pipi Vlo, membuat jantung Vlo semakin ingin loncat saja bahkan saat ini wajah Vlo sudah sangat memerah.


"Hai, main cium-cium saja," kesal Vlo.


"Habisnya aku gemas sama kamu, sudah sejak dulu aku ingin melakukannya."


"Menyebalkan sekali."


Vlo mendorong tubuh Vincent dan berjalan meninggalkan Vincent, tapi tiba-tiba Vlo menghentikan langkahnya karena terdengar suara notif pesan.


Vlo segera membacanya, dia menghembuskan napasnya karena itu merupakan pesan dari Jenny yang tidak bisa pulang bareng dengannya.


Vlo membalikan tubuhnya, dan terlihat Vincent masih memperhatikannya dengan senyuman.


"Antarkan aku pulang," ketus Vlo dengan segera pergi meninggalkan Vincent.


"Ishh..ishh..ishh..wanitaku menggemaskan sekali, akhirnya kamu akan segera mendapatkan rumahmu, Bruno," gumam Vincent.


Di kediaman Shenna....


Shenna mulai menggerakkan tubuhnya, demamnya sudah sembuh bahkan tubuhnya sudah kembali segar. Shenna bangun dan terduduk di atas tempat tidur, lalu tatapan Shenna tertuju ke sofa. Di sana, terlihat Ken tertidur dengan lelapnya.


Perlahan Shenna bangkit dan menghampiri Ken, diperhatikannya wajah tampan Ken yang tampak tenang dalam tidurnya.


Beberapa saat kemudian, Shenna keluar dari dalam kamar mandi dengan memakai handuk kimono dengan panjang hanya sebatas paha dan tidak lupa rambutnya dia lilit dengan handuk.


"Ah, segar sekali," gumam Shenna.


Ken mengendus-ngendus, harum sabun mandi Shenna berhasil menusuk hidung Ken yang sedang terlelap tidur.


Ken mulai membuka matanya, betapa terkejutnya dia saat melihat paha mulus itu lagi terpampang nyata di depan wajahnya. Kebetulan sekali sofa itu berhadapan dengan lemari baju Shenna dan saat ini Shenna sedang mencari baju yang akan dia pakai.


"Sial, kenapa dia selalu bisa menggodaku mana si Cogan langsung berdiri lagi," batin Ken dengan mengusap si Cogan yang sudah menyembul di balik celananya.


Shenna sudah menemukan baju yang akan dia pakai, Ken pura-pura memejamkan matanya walaupun jantungnya sudah tidak bisa di kompromi lagi.


Shenna melirik ke arah Ken. "Sepertinya dia masih terlelap tidur, aku ganti baju di sini sajalah," gumam Shenna.


Pluukkk....


Handuk kimono itu terlepas dari tubuh Shenna, membuat Ken molotot.


"Aduh, Shenna kali ini kamu sudah menyiksaku," batin Ken dengan susah payah menahan salivanya.


Tubuh Shenna memang sangat sempurna, dibilang kurus tidak, dibilang gendut juga tidak, tubuhnya begitu bohay dan kencang karena Shenna, Vlo, dan Jenny rutin berolahraga.

__ADS_1


Shenna menggunakan baju tidur tanpa lengan, setelah selesai memakai baju, perlahan Shenna menghampiri Ken yang saat ini sedang pura-pura tertidur.


"Ken, bangun!"


Ken pura-pura menggerakkan tubuhnya, seakan-akan dia baru bangun.


"Ada apa?" kesal Ken.


"Ishh, kamu belum mandi ya? kok masih baju kerja, sana mandi dulu aku gak mau ya satu ranjang sama orang yang tidak mandi," ketus Shenna.


"Aku gak bawa baju ganti, sudahlah aku tidur di sini saja," seru Ken dengan membalikan tubuhnya membelakangi Shenna.


"Kalau begitu, kita pulang."


Ken sedikit kaget dengan Shenna mengajaknya pulang.


"Tapi ini sudah malam," sahut Ken.


"Masih jam 11, lagipula aku sudah terbangun dan bakalan susah tidur lagi jadi lebih baik kita pulang saja," ketus Shenna.


Shenna segera mengambil kardigannya dan mengambil tasnya juga.


"Ayo, aku mau pamit dulu sama Mama dan Papa."


Shenna keluar dari dalam kamarnya, sedangkan Ken masih terdiam dia tidak percaya dengan ucapan Shenna.


Setelah pamitan, Shenna dan Ken pun akhirnya memutuskan pulang. Selama dalam perjalanan tidak ada pembicaraan sama sekali, hingga beberapa saat kemudian mobil Ken sampai di rumahnya.


Keduanya langsung masuk ke dalam kamar mereka, Ken menyambar handuk dan segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Shenna memeriksa ponselnya dan terdapat beberapa pesan dari Sherly yang memberitahukan kalau para pemegang saham kembali menjalin kerjasamanya dengan perusahaan Shenna, dan mereka juga akan melaporkan Romi atas tindakan penipuan.


Setelah cukup lama terdiam, Shenna membuka lemari baju dan mengambilkan baju untuk Ken setelah itu dia naik ke atas tempat tidur. Shenna mulai merebahkan tubuhnya dan kembali memejamkan matanya.


1 jam kemudian....


Ken baru saja keluar dari dalam kamar mandi. "Gara-gara Shenna, aku jadi susah menidurkan si Cogan butuh waktu lama akhirnya si Cogan tidur juga," batin Ken dengan kesalnya.


Ken melihat kalau Shenna sudah tertidur kembali. "Astaga, katanya tidak ngantuk tapi pas ketemu bantal langsung tepar dia," gumam Ken.


Ken hendak mengambil baju, tapi sudut matanya melihat ke atas tempat tidur. Ken menghampiri tempat tidur dan ternyata itu baju ganti buat dia.


"Apa dia yang menyiapkan ini?" batinnya.


Ken kembali melihat ke arah Shenna yang sudah terlelap tidur, lalu Ken tersenyum.


"Dasar, rubah kecil yang licik. Kadang menyebalkan, kadang bikin emosi, kadang juga susah ditebak apa yang akan dia lakukan," gumam Ken dengan senyumannya.

__ADS_1


Ken pun segera memakai baju, perlahan dia pun naik ke atas ranjang dan tidur di samping Shenna. Mungkin karena efek kelelahan, tidak membutuhkan waktu lama, Ken pun mulai terlelap dan masuk ke alam mimpinya.


__ADS_2