
Malam pun tiba...
Hari ini Vlo membawa mobilnya sendiri karena Vincent tiba-tiba izin, katanya ada kepentingan dan Vlo mengizinkannya.
Vlo menuju kantor Shenna untuk menjemputnya, sedangkan Shenna sudah menunggu di lobi kantor. Shenna sudah mandi dan ganti baju juga, dan Shenna terlihat sangat cantik dengan mini dress yang dia pakai.
Vlo pun sampai di depan kantor Shenna dan Shenna langsung masuk ke dalam mobil Vlo.
"Lama banget kamu, Vlo."
"Sorry Shen, tadi aku ada sedikit masalah di klinik."
Vlo mulai melajukan mobilnya menuju sebuah restoran mewah.
"Sopirmu mana? kok, kamu bawa mobil sendiri?" tanya Shenna.
"Entahlah, tadi sore dia minta izin pulang katanya Mamanya sakit."
"Oh, tapi kok aku merasa si Vincent itu bukan orang biasa-biasa deh. Penampilan dia beda banget."
"Aku juga sih mikirnya kaya gitu, tapi kenyataannya dia melamar jadi sopir aku. Kalau dia memang anak orang kaya, buat apa coba, dia bekerja jadi sopir aku," sahut Vlo.
"Iya juga sih."
Vlo dan Shenna langsung menuju restoran mewah itu, sedangkan Jenny menyusul dan saat ini katanya sedang berada di jalan.
Sementara itu di lain sisi, Vincent tampak cemberut dia sama sekali tidak mau melaksanakan perintah kedua orangtuanya itu.
Vincent malam ini sedang berada di sebuah restoran bersama kedua orangtuanya karena orangtuanya akan mengadakan pertemuan dengan Lusi dan juga orangtuanya Lusi.
"Ma, Pa, Vincent sudah bilang kalau Vincent tidak mau dijodohkan, apalagi Lusi itu wanita gak benar. Memangnya Mama dan Papa mau apa, punya menantu seperti itu?" kesal Vincent.
"Astaga Vincent, kalau ngomong itu harus dijaga, bagaimana kalau Lusi dan orangtuanya dengar, bisa marah mereka?" sentak Papa Vincent.
"Iya sayang, lagipula dari mana kamu tahu kalau Lusi wanita seperti itu? jangan ngada-ngada deh, apa jangan-jangan ini alasan kamu saja supaya kami tidak jadi menjodohkanmu," seru Mama Vincent.
"Ya ampun Ma, ngapain Vincent ngada-ngada. Oke, lihat saja Vincent akan membuktikan kalau Lusi memang bukan wanita baik-baik."
Tiba-tiba pintu restoran terbuka, terlihat Lusi dan kedua orangtuanya datang.
"Diam kamu Vincent, awas saja kalau nanti kamu bahas masalah itu," bisik Papa Vincent.
"Selamat malam, maaf kami terlambat," seru Papa Lusi.
"Ah, tidak apa-apa, silakan duduk Tuan."
__ADS_1
Lusi tersenyum, dia sampai tidak berkedip melihat penampilan Vincent malam ini yang terlihat sangat tampan.
Dua keluarga itu memesan makan, dan setelah makanan datang, mereka langsung melahapnya. Vincent begitu sangat tidak bersemangat, di otaknya hanya ada Vlo dan saat ini Vincent sangat merindukan Vlo.
Vincent tersentak saat merasakan kakinya geli-geli tidak karuan, dan ternyata Lusi yang menggerayangi kakinya dengan kakinya sendiri.
"Sial, wanita ini sungguh sangat menjijikan," batin Vincent.
Vincent menatap tajam ke arah Lusi, tapi Lusi malah mengedipkan sebelah matanya membuat Vincent bergidik ngeri.
Beberapa saat kemudian, mobil Vlo pun datang di depan restoran bersamaan dengan Jenny yang juga baru datang.
"Masuk yuk, girls!" seru Shenna.
"Let's go!"
Ketiga wanita cantik itu pun masuk ke dalam restoran dengan anggunnya, sungguh malam ini mereka bertiga sangat cantik dengan mini dress mereka yang terlihat sangat elegan.
Pelayan langsung membawa ketiga wanita cantik itu ke meja kosong, Vincent yang sedang minum melotot dan hampir tersedak melihat kedatangan Vlo dan kedua sahabatnya.
"Mampus aku, kenapa Vlo ada di sini sih?" batin Vincent.
Vincent mulai kelabakan, dia tidak mau sampai Vlo tahu siapa dia sebenarnya.
"Maaf, aku ke toilet sebentar," seru Vincent gugup.
"Terserah Mama, Vincent ikut saja," seru Vincent dengan cepat-cepat pergi ke toilet.
Vincent segera berlari menuju toilet dengan menutup wajahnya dengan jas dia.
Sementara itu, ketiga wanita cantik itu berbincang-bincang sembari melahap makanan yang tersaji di hadapan mereka.
"Shen, bagaimana apa sudah ada tanda-tanda muncul keponakan kita?" tanya Jenny.
"Kamu gila Jen, keponakan apaan? bikin aja kagak," sahut Shenna.
"Astaga Shenna, terus kamu sama Ken menikah itu buat apa?" seru Vlo bingung.
"Entahlah, bahkan setiap hari aku sama dia bertengkar terus. Kalian tahu, setiap malam mau tidur kita selalu saja bertengkar rebutan tempat tidur. Capek tahu, makanya mudah-mudahan saja sepulang dari sini dia sudah tidur biar aku gak harus bertengkar lagi," sahut Shenna.
Vlo dan Jenny menepuk jidat mereka sendiri, mereka benar-benar gak habis pikir dengan kelakuan para jomblo tua itu.
"Kalian sendiri bagaimana? apa kalian sudah dapat pasangan?" tanya Shenna.
"Pasangan apaan? aku malah pusing sama Mami dan brondongnya itu, mereka selalu saja minta uang sama aku. Memangnya mereka pikir, cari uang itu gampang apa," kesal Vlo.
__ADS_1
"Sumpah, Mami kamu memang bodoh kalau menurut aku, karena dia mau aja di bodohin sama si Sammy sialan itu," kesal Shenna.
"Entahlah, Mami aku lihat apanya dari si Sammy? aku sudah berbusa menjelaskan kalau si Sammy hanya ingin uang Mamiku saja, tapi tetap saja Mami lebih mencintai si Sammy brengsek dibandingkan anaknya sendiri," sahut Vlo.
"Mami mu sudah cinta banget sama si Sammy."
"Jijik aku."
Sementara itu, Jenny terlihat diam saja dan dia hanya fokus kepada makanannya membuat Shenna dan Vlo saling pandang satu sama lain.
"Kamu kenapa Jen? tumben diam saja?" tanya Shenna.
"Ah, tidak. Aku tidak apa-apa kok," sahut Jenny.
"Jangan bohong, kamu itu tidak pandai berbohong. Lagipula, kamu tidak akan bisa membohongi kita berdua," seru Vlo.
"Bicaralah, ada masalah apa? siapa tahu kita bisa membantu, iya kan Vlo?"
"Iya dong."
Jenny menghembuskan napasnya kasar, dia awalnya tidak mau bercerita karena malu dan pasti dia akan menjadi bahan tawaan para sahabatnya, tapi setelah dipikir-pikir, dia juga tidak bisa memendamnya sendirian.
"Tapi kalian janji ya, jangan ketawain aku."
"Oke, kita janji," sahut Vlo.
"Aku lagi suka sama seseorang," seru Jenny.
"Hah."
Vlo dan Shenna saling pandang satu sama lain, hingga akhirnya keduanya tertawa terbahak-bahak membuat Jenny kesal.
"Tuh kan, katanya kalian janji gak bakalan ketawa tapi nyatanya kalian malah ketawa, ishh kalian sungguh menyebalkan," kesal Jenny.
"Bagaimana kita tidak ketawa, diantara kita bertiga, hanya kamu satu-satunya wanita yang susah move on, tapi sekarang tiba-tiba kamu bilang, kalau kamu suka sama seseorang. Siapa pria beruntung yang bisa membuatmu jatuh cinta itu?" seru Shenna.
"Pria itu namanya Gian, Chef baru di restoran aku," sahut Jenny.
"Wuidih, mudah-mudahan kamu gak ketipu untuk kedua kalinya sama seorang Chef," seru Vlo.
"Apaan sih Vlo, jangan samakan Gian sama si brengsek itu soalnya mereka beda jauh," kesal Jenny.
Vlo dan Shenna pun tersenyum. "Jen, kita sebagai sahabat kamu selalu mendukung apa pun yang kamu lakukan selama itu baik dan bisa membuatmu bahagia, asalkan tidak ada rahasia diantara kita," seru Shenna.
"Betul sekali, pokoknya kalau pria itu berani macam-macam sama kamu, aku orang pertama yang akan memberinya pelajaran," seru Vlo.
__ADS_1
Ketiganya pun akhirnya tertawa bersama, malam itu mereka habiskan dengan saling curhat satu sama lain.