
"Selamat datang untuk para tamu undangan dan terima kasih hadirin semua karena sudah berkenan datang di acara pertunangan putra tunggal saya yaitu Vincent Volker. Vincent, Lusi, silakan kalian bertukar cincin terlebih dahulu," seru Pak Danu.
Vincent dan Lusi maju ke depan, lalu Mama Vincent menyerahkan kotak cincin berlian kepada Vincent.
"Tunggu Ma, sebelum Vincent bertukar cincin dengan Lusi, bisakah Vincent menunjukkan sesuatu dulu kepada Mama dan Papa," seru Vincent.
"Apa itu?" tanya Pak Danu.
"Zul, tolong nyalakan layarnya!" teriak Vincent.
"Baik, Bos."
Seketika semua tamu undangan langsung melihat ke arah layar besar yang sengaja Vincent pasang.
Layar mulai menyala, dan akhirnya semua video mengenai Lusi dan Boni terpampang nyata di sana. Bahkan kemesraan Lusi dan Boni yang berciuman di bar itu terlihat jelas, membuat semua orang membelalakkan matanya.
Hingga akhirnya video itu ditutup dengan Lusi dan Boni yang masuk ke sebuah kamar hotel.
"Vlo, bukannya itu si Boni? brengsek juga dia, ya," bisik Jenny.
"Dia memang sudah brengsek dari dulu," sahut Vlo dengan ketusnya.
Kedua orangtua Vincent sampai terkejut dengan kelakuan calon menantunya itu, begitu pun dengan Lusi dan kedua orangtuanya yang tak kalah terkejutnya.
"Mama dan Papa bisa lihat kan, bagaimana kelakuan wanita yang kalian jodohkan untuk Vincent?" seru Vincent dengan senyumannya.
Kedua orangtua Lusi merasa sangat malu, Papa Lusi menarik tangan Lusi dan membawa Lusi pergi dari hotel itu.
"Kamu sungguh sangat memalukan, Lusi!" bentak Papanya.
Seketika suasana di dalam hotel menjadi ricuh.
"Terus sekarang bagaimana, Vincent? Mama dan Papa malu kalau pesta ini harus diakhiri seperti ini," bisik Mama Vincent.
"Tenang saja Ma, Vincent sudah punya calon yang sangat sempurna dan dijamin Mama dan Papa tidak akan kecewa," sahut Vincent dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Siapa?"
Vincent melangkahkan kakinya menghampiri Vlo, dan Vincent menarik tangan Vlo membuat Vlo sangat terkejut.
"Ini calon istri, Vincent."
"Hah."
Vlo tampak membelalakkan matanya, sedangkan Mama dan Papa Vincent saling pandang satu sama lain.
__ADS_1
"Bukanya ini Nona Vlo? pemilik klinik kecantikan? bahkan Mama pun sudah menjadi member di sana," seru Mama Vincent.
"Iya Ma, selama ini Vincent menyamar menjadi sopir pribadinya Vlo supaya Vincent bisa dekat dengan Vlo. Dari awal bertemu, Vincent memang sudah jatuh cinta kepada Vlo dan sekarang Vincent ingin Vlo menjadi istri Vincent."
Lagi-lagi ucapan Vincent membuat Vlo terkena serangan jantung dadakan.
"Kalau begitu, kita setuju kamu menikah dengan Nona Vlo," sahut Papa Vincent.
Vlo masih melongo dengan situasi malam ini, kejutan yang diberikan Vincent sungguh membuat jantung Vlo seakan melompat dari tempatnya. Vincent yang merasa tidak sabaran, segera menyematkan cincin ke jari manis Vlo dan Vlo tersentak.
"Apa-apaan ini?" tanya Vlo bingung.
Vincent segera menyerahkan cincin miliknya kepada Vlo. "Ayo, pasangkan cincin itu ke jari aku," seru Vincent.
"Tapi-----"
Vincent memaksa Vlo untuk memasangkan cincin ke jarinya, seketika suara tepuk tangan terdengar riuh begitu pun Mama dan Papa Vincent sangat bahagia.
Mama Vincent memeluk Vlo saking bahagianya. "Selamat ya sayang, Mama sangat bahagia mempunyai calon menantu wanita hebat sepertimu."
Vlo lagi-lagi hanya tersenyum dipaksakan, dia masih bingung dengan semua ini.
"Cium...cium...!" teriak Jenny.
"What, jangan macam-macam kamu, Jenny," geram Vlo.
Ternyata para tamu undangan mengikuti Jenny dengan berteriak seperti itu, sehingga Vlo semakin kesal dan gugup.
Vincent menarik pinggang Vlo sampai tubuh Vlo menempel sempurna dengan tubuh Vincent.
"Ka-mu mau nga-pain?" tanya Vlo gugup.
"Kamu sekarang sudah menjadi tunanganku, jadi aku gak mau melihat kamu memakai baju seksi seperti ini lagi."
"Apaan sih? lepaskan aku!" bisik Vlo.
Jenny memprovokasi semua tamu undangan, sehingga mereka terus saja berteriak supaya Vincent mencium Vlo, tentu saja Vincent sangat bahagia.
"Jangan macam-macam kamu Vincent, atau aku akan-----"
Ucapan Vlo terhenti karena Vincent dengan cepat menyambar bibir seksi milik Vlo, Jenny dan para tamu undangan sampai bersorak melihat adegan romantis itu. Sedangkan Vlo tampak melotot dan diam membeku.
"Ya ampun sweet banget mereka," gumam Jenny.
Cukup lama Vincent menempelkan bibirnya ke bibir Vlo, hingga Vincent pun melepaskan pungutannya.
__ADS_1
"Itu sebagai stempel, kalau mulai saat ini kamu adalah milikku," bisik Vincent.
Vlo tidak bisa berkata apa-apa, sungguh malam ini Vlo merasa sangat kaget dengan semua perlakuan Vincent.
Sementara itu saking bahagianya Jenny melihat sahabatnya, dia sampai tidak sadar kalau dari tadi ada seorang pria yang mendekati Jenny dan berusaha memanfaatkan situasi.
Setelah pria itu dekat dengan Jenny, tangannya mulai bergerak, pria itu hendak memegang pa*tat Jenny yang terlihat padat berisi.
Sedikit lagi tangan nakal itu menyentuh pa*tat Jenny, tapi sebuah tangan menahannya.
"Mau ngapain kamu?"
Jenny tersadar dan menoleh. "Gian, kok kamu ada di sini?" tanya Jenny kaget.
"Lihatlah, tangan ini barusan hampir saja menyentuh tubuhmu, untung aku cepat datang," sahut Gian.
Jenny menatap pria hidung belang itu dan melayangkan tamparan kepadanya.
"Brengsek, berani sekali kamu ingin melecehkan ku!" bentak Jenny.
Gian menarik tangan Jenny untuk pergi dari tempat itu.
Sesampainya di luar. "Mana kunci mobilmu?" seru Gian dingin.
Jenny menyerahkannya kepada Gian. "Tapi aku datang ke sini sama Vlo, kalau aku pergi nanti Vlo pulang sama siapa?" seru Jenny.
"Kamu tidak lihat, temanmu itu sudah tunangan jadi dia akan pulang dengan tunangannya. Ayo masuk!" kesal Gian.
Jenny menurut dan masuk ke dalam mobilnya, Gian melajukan mobilnya dengan lumayan kencang membuat Jenny merasa ketakutan.
"Gian, kamu apa-apaan sih? jangan kencang-kencang, aku takut!" teriak Jenny.
Gian tidak mendengarkan teriakan Jenny, hingga di sebuah jalan sepi, Gian menghentikan mobilnya. Napas Jenny sampai tersengal saking kagetnya, sedangkan Gian memperlihatkan wajah yang emosi.
"Kamu itu kenapa sih? bagaimana kalau kita celaka?" bentak Jenny.
"Aku tidak suka kamu memakai baju seksi seperti itu, karena akan mengundang kejahatan," seru Gian dingin.
"Apa hak kamu melarang aku? memangnya kamu siapanya aku? status aku itu single, jadi aku mau pakai baju apa pun terserah aku," seru Jenny.
Gian menarik Jenny dan membalikan wajah Jenny, dengan cepat Gian mencium bibir Jenny membuat Jenny melotot dan diam membeku seperti Vlo.
Perlahan Gian melepaskan pungutannya dan menatap Jenny yang masih bengong itu.
"Mulai malam ini kamu adalah wanitaku, jadi menurutlah kepadaku," seru Gian.
__ADS_1
Jenny benar-benar tidak percaya dengan sikap Gian, yang menurutnya malam ini sangat bar-bar dan tidak mencerminkan Gian yang selama ini Jenny kenal.