Hi, Ladys! I Love You

Hi, Ladys! I Love You
Bab 36 Para Mantan Tidak Tahu Diri


__ADS_3

Vlo sampai di klinik kecantikannya...


"Terima kasih ya Jen, sudah mau nganterin aku."


"It's oke, santai aja kali Vlo, kaya sama siapa aja."


"Awas saja, nanti kalau si Vincent datang, aku marahi dia abis-abisan," geram Vlo.


"Jangan gitu Vlo, kasihan. Kali aja dia lupa, atau dia ketiduran gitu."


"Masa ketiduran sampai gak kedengaran suara ponselnya sendiri, dia tidur apa pingsan," kesal Vlo.


Jenny terkekeh. "Ya sudah, aku kembali ke restoran dulu ya."


"Oke, hati-hati."


Jenny pun mulai melajukan mobilnya meninggalkan klinik kecantikan Vlo, baru saja Vlo ingin masuk ke dalam, tiba-tiba Vincent sampai.


"Nah, itu dia si curut," geram Vlo.


Vincent dengan cepat keluar dari dalam mobilnya dan segera menghampiri Vlo dengan perasaan yang tidak enak.


"Nona, maafkan aku tadi aku lagi ada perlu sebentar dan ponsel aku ketinggalan di mobil jadi aku gak bisa angkat telepon Nona," dusta Vincent.


"Hemm...terus apa lagi alasan kamu?" tanya Vlo dengan melipat kedua tangannya di dada.


"Serius Nona, itu bukan alasan dan aku minta maaf banget," seru Vincent.


Vlo menghembuskan napasnya kasar, Vlo hendak masuk tapi lagi-lagi tangannya di tarik membuat Vlo kesal.


"Apaan sih, Vincent!" sentak Vlo.


Vlo membalikan tubuhnya, ternyata itu bukan Vincent melainkan Sammy mantan pacar Vlo.


"Astaga, mau ngapain lagi sih kamu ke sini?" geram Vlo.


"Pokoknya aku akan terus gangguin kamu sampai kamu mau memaafkan aku," seru Boni.


"Sampai kapan pun aku gak bakalan maafin kamu, jadi buat apa kamu buang-buang waktu lebih baik sekarang kamu cari wanita saja biar lebih bermanfaat buat kamu," seru Vlo.


Vlo menghempaskan tangan Boni dan masuk ke dalam kliniknya, Boni hendak menyusul Vlo tapi Vincent dengan sigap menghadangnya.


"Kalau Vlo tidak mau memaafkanmu, lebih baik pergi. Soalnya mood aku sedang tidak baik-baik, jadi daripada kamu kena imbas dari moodku yang buruk ini, lebih baik sekarang kamu pergi dari sini," seru Vincent dingin.


"Apaan sih, gak jelas banget."


Boni masuk ke dalam klinik dan menyusul Vlo, begitu pun dengan Vincent yang ikut menyusul juga. Boni kembali menahan tangan Vlo membuat Vlo semakin kesal.


"Mau kamu apa sih, Bon?"


"Aku mau balikan lagi sama kamu."


"Tapi aku gak mau."

__ADS_1


"Kamu itu kenapa sih berubah seperti ini?"


Vlo berdiri di hadapan Boni dan menatap Boni dengan tatapan tajamnya.


"Kamu tanya kenapa aku berubah? woi, ultramen saja kalau berubah itu berarti ada masalah. Jadi, kamu gak usah naif pakai tanya-tanya hal bodoh seperti itu. Lama-lama aku ceburin juga tuh otak ke air comberan biar gak bodoh kaya kamu!" geram Vlo.


Vlo benar-benar merasa kesal kepada Boni, ingin rasanya dia tendang pria yang sudah menyia-nyiakan dirinya itu. Vlo pun segera menaiki anak tangga, dan lagi-lagi Boni ingin menyusul Vlo.


"Vlo, tunggu!"


"Sudahlah Bro, jangan kejar-kejar Vlo lagi karena aku yang akan membahagiakan Vlo. Lagipula aku heran sama kamu, sebenarnya kamu itu orang apa club' sepak bola? banyak banget cadangannya," ledek Vincent dengan tawanya.


Boni semakin emosi, dia mencengkram kerah baju Vincent.


"Kurang ajar, jangan mimpi, Vlo hanya milikku dan kamu itu bukan tandingan ku. Kamu hanya sopir dan aku seorang pengusaha, mana mungkin seorang sopir bisa membahagiakan Vlo. Wanita itu butuh pria yang berduit bukan pria yang pandai berkata cinta gak jelas."


Boni menghempaskan tubuh Vincent, sampai-sampai Vincent terjungkal ke atas sofa. Boni pun memilih pergi meninggalkan klinik Vlo dengan perasaan marah.


***


Sementara itu, Jenny baru saja sampai di restorannya. Jenny langsung menuju dapur tapi tiba-tiba ada seseorang yang memanggil Jenny.


"Jenny, tunggu!"


Jenny membalikkan tubuhnya dan seketika wajah Jenny berubah menjadi kesal, melihat kedatangan Ragil.


"Mau ngapain lagi kamu ke sini?" kesal Jenny.


Jenny melipat kedua tangannya di dada dan tersenyum sinis kepada Ragil.


"Tumben orangtuamu mau bertemu denganku? apa sekarang mereka tahu, kalau aku sudah menjadi pengusaha sukses?" sindir Jenny.


"Iya, mereka sangat menyesal dulu sudah menghinamu dan sekarang mereka ingin meminta maaf kepadamu, bahkan mereka bilang akan menikahkan mu denganku," seru Ragil antusias.


Seketika tawa Jenny pecah membuat Ragil mengerutkan keningnya merasa bingung.


"Kenapa kamu ketawa, Jen?" tanya Ragil.


"Bilang kepada orangtuamu, dari dulu aku sudah memaafkan mereka tapi maaf, aku sudah gak minat nikah sama kamu," seru Jenny dengan senyumannya.


Jenny pun membalikkan tubuhnya hendak pergi, tapi Ragil menahannya.


"Tunggu, Jen."


"Lepaskan aku, dan aku mohon pergi dari sini atau aku panggil sekuriti untuk mengusirmu!" geram Jenny.


Ragil melepaskan tangan Jenny. "Oke, aku akan pergi dari sini tapi aku tidak akan menyerah untuk bisa mendapatkan kamu, Jenny."


"Terserah."


Jenny segera pergi menuju ruangannya, begitu pun denga Ragil yang memutuskan untuk pergi dari restoran itu. Sementara itu, dari kejauhan Gian memperhatikan Jenny dan Ragil.


"Hayo, lagi lihatin apa?" goda Chef Arnold.

__ADS_1


"Ah, tidak apa-apa kok, Chef," sahut Gian gugup.


"Yakin, tidak ada yang mau ditanyakan?" goda Chef Arnold lagi.


"Tidak Chef."


Chef Arnold tersenyum melihat tingkah Gian yang menjadi salah tingkah itu, dia tahu kalau Gian ingin mengetahui siapa pria yang tadi berbicara dengan Jenny.


Chef Arnold menghampiri Gian. "Pria itu mantannya Bu Jenny, namanya Ragil dan dia seorang Chef juga," bisik Chef Arnold.


Gian langsung menatap Chef Arnold dan Chef Arnold hanya tersenyum.


"Sudah jangan banyak pikiran, ini antarkan sarapan untuk Bu Jenny."


"Ba-baik, Chef."


Gian pun mengambil nampan itu dan segera membawanya ke ruangan Jenny.


Tok..tok..tok..


"Masuk!"


"Permisi Bu, ini sarapan untuk Ibu."


"Ah, terima kasih, Chef."


Gian menyimpan sarapan Jenny di meja. "Kalau begitu, aku permisi dulu."


"Hai, kamu mau ke mana?"


"Mau kembali ke dapur, Bu."


"Duduk di sini, temani aku sarapan."


"Tapi Bu, aku sudah sarapan tadi," sahut Gian.


"Aku tidak minta kamu untuk sarapan, tapi minta temani aku sarapan."


"Ah, baiklah Bu."


Gian duduk di hadapan Jenny, Gian merasa sangat salah tingkah. Entah kenapa, sekarang dia suka merasa gugup kalau berhadapan dengan Bos cantiknya itu padahal dulu dia tidak seperti ini.


Jenny melirik sedikit dan Gian langsung memalingkan wajahnya dengan berpura-pura dingin.


"Sebenarnya kamu itu tampan, manis lagi. Bisa tidak kamu gak usah dingin-dingin gitu sama aku," goda Jenny.


"Hah...."


"Kamu itu harus baik-baik sama aku, sudah tampan, manis, dingin, nanti ketuker loh sama es buah," goda Jenny.


Uhuk..uhuk..uhuk..


Gian sampai terbatuk-batuk mendengar godaan receh Jenny, sedangkan Jenny tersenyum sendiri melihat Gian.

__ADS_1


__ADS_2