
Vlo baru saja selesai mencek semua pengeluaran dan pemasukan di klinik kecantikan miliknya.
"Astaga, sebentar lagi sudah mau jam makan siang," gumam Vlo.
Vlo pun bangkit dari duduknya dan mengambil tasnya, kemudian Vlo keluar dari dalam ruangannya.
Vlo mengerutkan keningnya saat melihat Vincent tertidur di atas sofa tempat para tamu menunggu.
"Astaga, kenapa dia tidur di situ sih?" gumam Vlo.
Vlo segera menghampiri Vincent dan membangunkan Vincent.
"Bangun."
Vincent mulai menggerakkan tubuhnya, Vlo berdiri di samping Vincent dengan melipat kedua tangannya di atas dada.
"Nyenyak tidurnya?" tanya Vlo dengan gemasnya.
"Astagfirullah, maaf Nona tadi aku ketiduran," sahut Vincent yang langsung bangun.
"Cepat cuci muka dulu sana, aku sudah lapar ingin makan."
"Baik Nona."
Vincent dengan cepat berlari menuju toilet dan beberapa saat kemudian, Vincent pun keluar dengan wajah yang lumayan segar.
"Ayo Nona."
Vincent pun membukakan pintu mobil untuk Vlo, Vincent mulai melajukan mobilnya ke sebuah restoran yang disebutkan oleh Vlo dan tidak membutuhkan waktu lama, mereka pun sampai.
"Aku tunggu di sini saja, Nona."
"Ngapain nunggu di sini? memangnya kamu tidak lapar? ayo ikut masuk, temani aku makan," seru Vlo.
Vincent pura-pura menolak, padahal dalam hatinya Vincent merasa sangat bahagia di ajak oleh Vlo.
Vlo dan Vincent masuk ke dalam restoran, Vlo segera memesan makanan untuk mereka berdua.
Setelah beberapa saat menunggu, makanan pesanan Vlo pun sampai. Mereka berdua langsung melahap makanannya karena sejujurnya Vincent pun sudah sangat lapar.
"Vlo."
Vlo dan Vincent menoleh bersamaan. "Boni," gumam Vlo.
Pria yang bernama Boni itu adalah seorang CEO di sebuah perusahaan, Boni merupakan mantan Vlo dulu. Boni seorang playboy, di saat Vlo pulang setelah menghadiri pembukaan klinik cabangnya, ternyata Vlo mendapati Boni sedang berselingkuh dengan wanita lain dan itu tidak hanya sekali saja, sehingga Vlo memutuskan Boni padahal Boni adalah cinta pertama Vlo dan saat itu Vlo sangat mencintai Boni.
Boni menarik tangan Vlo. "Vlo, bisakah kita bicara sebentar," seru Boni.
__ADS_1
Vlo menghempaskan tangan Boni. "Mau bicara apa lagi? sudah tidak ada yang perlu kita bicarakan, dan aku sudah tidak mau mengenal kamu lagi," geram Vlo.
"Tapi Vlo, aku harus menjelaskan semuanya. Aku menyesal sudah membuatmu sedih, dan sekarang aku ingin memulainya kembali bersama kamu, Vlo."
Vincent mengepalkan tangannya, dia begitu sangat geram mendengar ucapan pria yang bernama Boni itu.
"Jangan mimpi kamu, Boni. Aku sama sekali sudah tidak mau denganmu lagi!" sentak Vlo.
"Pokoknya sekarang kamu harus ikut aku, aku ingin menjelaskan semuanya kepada kamu."
Boni kembali menarik tangan Vlo, membuat Vincent sudah tidak bisa tinggal diam lagi.
"Maaf Bung, kalau dia tidak mau jangan dipaksa," seru Vincent dengan melepaskan tangan Vlo.
"Kamu siapa? berani sekali kamu ikut campur urusanku?" bentak Boni.
"Aku sopirnya Nona Vlo, dan aku tidak akan membiarkan siapa pun berbuat kasar kepada majikanku."
"Astaga, sopir saja belagu," ledek Boni.
Vlo mendorong tubuh Boni. "Jangan ganggu aku lagi, sampai kapan pun aku tidak akan pernah kembali lagi sama kamu!" sentak Vlo.
"Vlo, please beri aku kesempatan lagi, aku janji aku tidak akan menyakiti kamu lagi dan aku akan langsung menikahimu," rengek Boni.
Vlo melipat kedua tangannya di dada dan berdiri di depan Boni. "Makanya dulu aku maafin kamu, aku memberimu kesempatan, harusnya kamu itu berubah dan tobat bukannya malah lanjut part dua, Bos!" sentak Vlo dengan menunjuk-nunjuk dada Boni dengan jari telunjuknya.
"Preettt...bohong banget, gombalnya gak lucu," ledek Vincent.
"Diam kamu, aku tidak punya urusan sama kamu!" bentak Boni.
"Siap-siap, aku akan diam," sahut Vincent dengan senyumannya.
"Aku serius Vlo, aku sudah tidak pernah main-main lagi sama wanita, aku benar-benar sudah tobat sekarang dan aku ingin menikah sama kamu."
"Vincent, kita pergi! aku sudah tidak mood makan," seru Vlo sembari melangkahkan kakinya.
"Baik Nona. Yang sabar ya, seperti kata pepatah anak zaman sekarang, buanglah mantan pada tempatnya," ledek Vincent dengan menepuk pundak Boni.
"Sialan, berani sekali kamu pegang-pegang jas mahalku!" bentak Boni.
Vincent pun segera berlari menyusul Vlo dengan tawanya yang tengil membuat Boni semakin geram.
"Aku pastikan, aku akan mendapatkan kamu lagi, Vlo," gumam Boni.
Vlo sudah duduk di dalam mobil, dan Vincent mulai melajukan mobilnya.
"Apa kita mau makan di tempat lain, Nona?"
__ADS_1
"Entahlah, aku sudah gak mood buat makan," kesal Vlo.
"Tapi kan, Nona belum makan siang, tadi baru saja satu suap."
Vlo hanya diam saja tidak menjawab ucapan Vincent, hingga akhirnya Vincent punya ide.
"Nona, aku tahu tempat makan yang enak, bahkan suasananya pun sangat nyaman. Apa Nona mau mencoba ke sana?" tanya Vincent.
Vlo menatap Vincent dengan mengerutkan keningnya.
"Bagaimana, Nona?"
"Boleh di coba."
Vincent terlihat sangat bahagia, dia pun segera melajukan mobilnya menuju restoran yang dia rekomendasikan. Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya mereka sampai.
"Ayo Nona, kita masuk."
Vlo mengikuti langkah Vincent, dan ternyata apa yang dikatakan Vincent benar kalau tempat itu sangat nyaman sehingga membuat mood Vlo kembali bagus lagi.
Vincent segera memesan makanan, setelah beberapa menit menunggu, makanan yang Vincent pesan pun datang dan mereka langsung melahap makanan itu.
"Hmm...makanannya lumayan enak," seru Vlo.
"Apa Nona suka?"
"Suka."
"Maaf Nona, kalau aku sudah lancang, apa pria tadi mantan Nona?" tanya Vincent.
"Iya, dia pria brengsek yang pernah aku temui. Coba aku tanya sama kamu, apa aku kurang cantik? atau kurang seksi?" tanya Vlo.
"Tidak, justru menurut aku Nona adalah wanita sempurna. Cantik, seksi, pintar, dan mandiri, dianya saja yang bodoh sudah menyia-nyiakan Nona."
"Nah itu dia, banyak pria yang mendekati aku dan ingin menikahi aku, tapi dia malah menyakiti aku, sungguh tidak bersyukur sekali dia," kesal Vlo.
"Nona, kalau cari pasangan itu jangan yang bisa membuat hidup Nona berantakan, tapi harus cari pasangan yang bisa membuat lipstik Nona berantakan," seru Vincent.
"Hah, maksudnya?"
"Eh, maksud aku, cari pria yang suka ngajak Nona makan bakso, kalau makan bakso, otomatis kan lipstik Nona akan berantakan," sahut Vincent gugup.
"Apaan sih, kamu ada-ada saja."
Vlo melanjutkan makannya, sedangkan Vincent memukul bibirnya beberapa kali dengan tangannya.
"Astaga, kenapa otakku selalu mesum kalau dekat dengan Vlo," batin Vincent.
__ADS_1