
Saking lelahnya menangis, Shenna sampai tertidur di pelukan Mamanya bahkan suhu tubuhnya kembali demam.
"Kenapa Shenna, Ma?" tanya Papa Miko.
"Mama juga tidak tahu, apa Mama hubungi Ken saja, ya."
"Ya sudah, Mama hubungi Ken dulu takutnya Ken juga khawatir dengan Shenna."
Mama Sintya pun segera menghubungi Ken, Ken yang sedang khawatir itu semakin khawatir saat Mama mertuanya menghubunginya.
Di saat Mama Sintya memberitahukan kalau Shenna menangis dan demam kembali, Ken segera berlari menuju mobilnya dan dengan cepat melakukannya menuju rumah Shenna.
"Keras kepala sekali kamu," batin Ken.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Ken sampai di rumah Shenna. Ken segera berlari menuju kamar Shenna.
"Bagaimana keadaan Shenna, Ma, Pa?" tanya Ken saat masuk ke dalam kamar Shenna.
"Masih demam, Ken," sahut Mama Sintya.
"Sebenarnya kemarin juga Shenna sakit Ma."
"Hah, kenapa kamu gak bilang sama Mama?"
"Maaf Ma, soalnya waktu itu sudah malam takut mengganggu juga jadi, Ken saja yang urus Shenna," sahut Ken.
"Ken, bisa Papa bicara sebentar?"
"Bisa, Pa."
"Ma, jaga Shenna dulu ya, ada sesuatu yang harus Papa bicarakan dengan Ken."
"Iya, Pa."
Papa Miko mengajak Ken ngobrol di halaman belakang.
"Duduk, Ken."
"Ah, Iya Pa."
"Begini Ken, Papa ingin bertanya kepadamu, sebenarnya apa yang sudah terjadi? apa kamu dan Shenna sedang bertengkar?"
"Kalau masalah bertengkar, jujur setiap hari kita berdua memang selalu bertengkar dan tidak pernah akur, Pa," sahut Ken.
Papa Miko menghembuskan napasnya. "Ternyata keputusan kami untuk menjodohkan kalian itu salah, kami pikir setelah kalian menikah, akan tumbuh cinta di antara kalian tapi kenyataannya sampai sekarang kalian masih belum bisa saling mencintai. Kalau kalian merasa tidak nyaman dan ingin berpisah, tidak apa-apa kami tidak akan menahan kalian lagi," seru Papa Miko.
Ken menoleh ke arah Papa Miko, entah kenapa hatinya merasa sakit dan tidak rela kalau harus bercerai dengan Shenna.
"Pa, apa Papa kenal dengan pria yang bernama Romi?" tanya Ken mengalihkan pembicaraan.
"Romi, mantannya Shenna? kenapa dengan dia? apa dia mengganggumu?"
__ADS_1
"Bukan mengganggu Ken, tapi mencoba menghancurkan perusahaan Shenna."
"Apa?"
Papa Miko terkejut dengan info yang diberikan Ken, kemudian Papa Miko pun menceritakan siapa Romi dan kenapa dulu Romi dan Shenna sampai berpisah.
Setelah cukup lama berbincang-bincang, akhirnya Romi pun memilih untuk masuk ke dalam kamar Shenna dan Mama Sintya juga sudah pergi dari sana.
Ken duduk di samping Shenna dan menatap wajah cantik Shenna.
"Kalau kamu sudah tidak mau hidup denganku, aku akan melepaskanmu Shenna. Aku tidak mungkin terus menahanmu sementara kamu tidak bahagia, carilah kebahagiaanmu sendiri," seru Ken.
Ken bangkit dari duduknya hendak pergi tapi tanpa disangka, Shenna menahan tangan Ken membuat Ken kaget.
Ken menoleh dan perlahan Shenna membuka matanya, sebenarnya dari tadi Shenna tidak tidur dan dia mendengar semua apa yang diucapkan Ken.
"Jangan pergi."
"Bukanya kamu ingin bercerai denganku? kali ini aku akan mengabulkannya," seru Ken.
"Maaf."
"Untuk apa?"
"Karena aku sudah tidak percaya kepadamu," sahut Shenna dengan deraian airmata.
"Papa sudah menceritakan semuanya kepadaku tentang kamu dan Romi, hubungan kalian memang pantas kalian perjuangkan karena kalian memang saling mencintai dan aku tidak mau menjadi penghalang antara hubungan kalian," seru Ken.
"Tunggu, Ken."
Baru saja Ken hendak membuka pintu kamar Shenna, tiba-tiba Shenna terjatuh dari tempat tidur dan jatuh tak sadarkan diri.
"Astaga, Shenna."
Ken kembali menghampiri Shenna dan mengangkat tubuh Shenna lalu merebahkannya di tempat tidur.
"Badannya panas banget."
Ken melepaskan jasnya dan segera mengambil air hangat untuk mengompres Shenna.
"Ken, jangan pergi," lirih Shenna.
Ken menghentikan gerakan tangannya saat mendengar Shenna mengigau.
"Sebenarnya apa mau kamu, Shenna? kenapa kamu selalu membuatku bingung," batin Ken.
Ken kembali merawat Shenna, dirasa Shenna sudah tertidur, Ken pun mulai menguap karena ngantuk. Ken bangkit dari duduknya, lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa dan tidak membutuhkan waktu lama, Ken pun terlelap.
***
Malam pun tiba...
__ADS_1
Vlo dan Jenny sudah tampil sangat cantik karena malam ini, mereka akan menghadiri undangan dari pemilik dealer karena putranya malam ini akan bertunangan. Awalnya mereka akan pergi bertiga bersama Shenna, tapi sayang Shenna sedang sakit jadi mereka datang hanya berdua.
"Vlo, ke mana sopir pribadimu?" tanya Jenny.
"Entahlah, akhir-akhir ini dia sering menghilang tanpa kabar. Terus, Chef pujaanmu mana?"
"Ah, jangan bicarakan Gian di sini waktunya tidak tepat. Dia adalah pria yang sangat menyebalkan, walaupun aku sering sekali menggodanya dan menunjukkan perhatianku, tetap saja dia dingin dan sama sekali tidak peka," sahut Jenny.
"Mungkin, kamu harus lebih agresif lagi, Jen."
Jenny memang sudah bercerita kepada Vlo mengenai perasaannya terhadap Gian.
"Sudahlah, kita masuk saja. Aku sudah penasaran tahu, seperti apa wajah putra Pak Danu itu."
"Sama, aku juga penasaran."
Vlo dan Jenny masuk ke dalam tempat pesta yang diadakan disebuah hotel berbintang lima itu, kedatangan Vlo dan Jenny membuat semua para pria melotot.
Vlo dan Jenny mengambil minuman dan menikmati minuman itu berdua sembari berbincang-bincang.
Tidak lama kemudian, suara pembawa acara mulai terdengar memanggil kedua orangtua yang akan bertunangan.
"Dan yang paling ditunggu-tunggu, kita sambut dengan meriah Tuan Vincent dan Nona Lusi."
Suara pembawa acara sangat nyaring dan membuat semua tamu undangan bertepuk tangan.
"Hah, Vincent," seru Vlo dan Jenny bersamaan.
Vincent dan Lusi berjalan dengan santainya di depan para tamu undangan, Lusi menggandeng lengan Vincent dan senyum keduanya tampak merekah. Hanya saja bedanya, kalau Lusi tersenyum bahagia dan jika Vincent, tersenyum karena malam ini dia akan membeberkan semua kebusukan Lusi.
"Vlo, bukannya itu Vincent sopir pribadi kamu?" seru Jenny.
Tangan Vlo mulai bergetar, hingga beberapa saat kemudian gelas yang Vlo pegang terjatuh membuat semua orang melihat ke arah Vlo termasuk Vincent.
Seorang pelayan segera datang dan membersihkan pecahan gelas itu.
"Maaf, aku gak sengaja," seru Vlo gugup.
"Tidak apa-apa, Nona."
"Kamu baik-baik saja kan, Vlo?" tanya Jenny.
Vlo menganggukkan kepalanya, tapi tatapannya tidak lepas dari Vincent. Entah kenapa Vlo merasa kesal dengan Vincent yang sudah membohongi dirinya selama ini.
Tapi ada hal yang lebih membuat Vlo kesal, yaitu melihat Vincent yang akan bertunangan dengan wanita lain.
"Ada apa denganku ini? kenapa rasanya sangat sakit melihat Vincent akan bertunangan dengan wanita itu," batin Vlo.
Vincent menyunggingkan senyumannya dan berdiri di hadapan semua tamu undangan bersama Lusi. Vincent tidak bisa melepaskan tatapannya kepada Vlo.
"Malam ini, kamu akan menjadi milikku, Vlo. Mau tidak mau pokoknya kamu harus menjadi milikku," batin Vincent dengan senyumannya.
__ADS_1