
Gian terpaku memperhatikan Jenny secara seksama.
"Kenapa dia mau melakukan semua ini?" batin Gian.
Perlahan Gian menghampiri Jenny, menatap Jenny dari jarak dekat membuat jantung Gian berdebar tak karuan.
Tiba-tiba Jenny menggerakkan tubuhnya dan itu membuat Gian kaget, Gian langsung meloncat ke tempat tidurnya dan pura-pura tertidur.
"Astaga, leherku pegal banget," gumam Jenny.
Jenny melihat ke arah Gian yang masih memejamkan matanya padahal Gian pura-pura. Jenny menghampiri Gian dan memeriksa suhu tubuhnya.
"Alhamdulillah panasnya sudah turun," gumam Jenny.
Jenny memperhatikan wajah Gian yang sudah tidak terlihat pucat lagi.
"Sepertinya dia sudah mulai membaik, aku pulang sajalah," gumam Jenny.
Jenny pun mengambil tasnya, dan segera pergi dari kontrakan Gian. Perlahan Gian membuka matanya, tatapannya lurus ke atas langit-langit kontrakannya.
"Kenapa jantungku berdebar seperti ini ya," gumam Gian dengan memegang dadanya.
Sementara itu, Jenny mengendarai mobilnya menuju rumahnya karena dia sudah tidak tahan ingin mandi dan mengisi perutnya yang sudah sangat lapar itu.
Sesampainya di rumah, Jenny langsung mandi dan menyuruh ART untuk membuatkan makan siang.
"Ah, segar sekali," gumam Jenny saat keluar dari dalam kamar mandi.
Jenny dengan cepat memakai baju dan turun ke bawah untuk makan siang, baru saja dua suap, ponsel Jenny pun berbunyi dan tertera nama Chef Arnold di sana.
__ADS_1
📞"Halo Chef, ada apa?" tanya Jenny.
📞"............"
Seketika Jenny terdiam mendengar ucapan Chef Arnold, bahkan saat ini nafsu makannya sudah menghilang.
📞"Chef usir saja dia."
📞".........."
📞"Baiklah, aku segera ke restoran sekarang."
Jenny pun memutuskan sambungan teleponnya, dan segera beranjak dari duduknya. Jenny dengan cepat mengambil tas dan kunci mobilnya, lalu Jenny segera meluncur ke restorannya.
"Ngapain dia muncul lagi?" batin Jenny dengan kesalnya.
Jenny dengan sangat kesal melajukan mobilnya dengan sangat kencang karena Jenny ingin cepat-cepat sampai di restoran. Dan benar saja, tidak membutuhkan waktu lama, Jenny pun sampai di restoran dan segera menuju ruangannya karena menurut Chef Arnold orang itu menunggu di ruangan Jenny.
"Ngapain kamu ke sini, Chef Ragil?" seru Jenny dengan wajah yang tidak bersahabat.
Pria yang dipanggil Chef Ragil itu bangkit dari duduknya dan menghampiri Jenny dengan senyumannya.
"Dua tahun tidak bertemu, kamu semakin cantik saja, Jenny," seru Ragil.
Ragil hendak menyentuh wajah Jenny tapi Jenny dengan cepat menepis tangan Ragil.
"Jangan sentuh aku!"
"Kamu kenapa Jen? apa kamu tidak merindukanku?"
__ADS_1
"Jangan banyak basa-basi, cepat katakan apa tujuan kamu datang ke sini?"
"Sabar dong Jen, jangan galak-galak seperti itu. Aku datang ke sini hanya ingin bertemu denganmu, karena aku sangat merindukanmu Jen," seru Ragil dengan tidak tahu malunya.
"Cih, aku masih ingat saat kedua orangtuamu menghinaku di depan banyak orang dan kamu hanya diam saja tanpa mau membelaku. Dan sekarang, kamu tiba-tiba datang ke sini dan mengatakan kalau kamu merindukanku? sungguh tidak tahu malu," geram Jenny.
Ragil adalah seorang pengusaha restoran, Ragil seorang Chef terkenal dan sukses. Dulu Jenny bekerja sebagai Chef di restoran milik Ragil karena Jenny ramah dan baik hati, Ragil pun jatuh cinta kepada Jenny dan tidak membutuhkan waktu lama mereka pun akhirnya menjalin hubungan.
Dulu Jenny hanyalah gadis sederhana yang belum mempunyai pekerjaan. Namun sayang, hubungan mereka diketahui oleh kedua orangtua Ragil dan mereka tidak merestui hubungan Jenny dan Ragil. Sehingga orangtua Ragil menghina Jenny sebagai anak miskin yang sengaja menggoda Ragil, melihat Jenny dihina seperti itu, Ragil bukannya membela tapi malah diam saja karena Ragil takut dengan ancaman orangtuanya.
"Selama dua tahun ini aku tidak bisa melupakanmu, dan sekarang kamu sudah menjadi pengusaha restoran jadi aku yakin kalau kedua orangtuaku pasti akan merestui hubungan kita," seru Ragil.
Lagi-lagi Jenny tersenyum sinis ke arah Ragil. "Iya, mungkin saja saat ini orangtua kamu akan merestui hubungan kita karena sekarang aku sudah menjadi pengusaha bahkan bisnis restoran ku sudah melebihi milikmu, tapi maaf aku sudah tidak tertarik sama kamu dan aku sudah tidak mau lagi berhubungan denganmu," sahut Jenny.
Ragil terlihat emosi dan mencengkram lengan Jenny membuat Jenny meringis kesakitan.
"Jenny, aku tidak akan membiarkan pria mana pun mendapatkanmu karena kamu hanya akan menjadi milikku," ancam Ragil.
"Jangan mimpi Ragil, sampai kapan pun aku tidak mau bersamamu lagi."
Ragil menghempaskan Jenny dengan raut wajah yang tidak bersahabat.
"Ingat Jenny, aku akan terus mengganggu kamu sampai kamu bersedia menikah denganku."
Ragil keluar dari ruangan Jenny dengan membanting pintu.
"Dasar orang gila, tidak tahu malu," geram Jenny.
Jenny menghempaskan tubuhnya ke kursi kebesarannya, Jenny memejamkan matanya dengan memijit keningnya yang tiba-tiba terasa berdenyut.
__ADS_1
"Orang itu sungguh gila, kenapa dia harus muncul kembali di kehidupan aku," gumam Jenny dengan kesalnya.