
"Tubuh kamu menggigil seperti itu, ayo masuk!" ajak Jenny.
Sekuriti rumah Jenny pun datang dan membukakan gerbang untuk Jenny.
"Pak, tolong masukan mobil aku."
"Baik Non."
"Maaf Bu, aku tidak akan lama. Aku hanya ingin minta tolong kepada Ibu, pinjamkan aku uang karena aku sudah bingung dan tidak tahu lagi harus meminta tolong kepada siapa," seru Gian dengan tubuh yang menggigil.
"Kamu mau minjam uang untuk apa?"
"Nenek aku sakit Bu, aku harus segera membawanya ke rumah sakit tapi aku sama sekali tidak punya uang maka dari itu, aku nekad meminta alamat rumah Ibu kepada Chef Arnold."
"Sejak kapan kamu berada di depan rumahku?"
"Dari pulang kerja Bu, aku pulang dan Nenek sudah dalam keadaan lemah karena Nenek mengalami muntah-muntah dan badannya sangat panas," sahut Gian dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ya Allah, lalu sekarang Nenek kamu dengan siapa di kontrakan?"
"Sendirian, Bu."
"Astaga, ya sudah sekarang kita ke kontrakan kamu dan bawa Nenek kamu ke rumah sakit."
Jenny pun kembali masuk ke dalam mobilnya bersama Gian, selama dalam perjalanan Gian hanya diam saja terlihat sekali kalau Gian sangat khawatir dengan keadaan Neneknya.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya mereka pun sampai di kontrakan. Gian dengan cepat keluar dari dalam mobil Jenny dan berlari masuk ke dalam kontrakan, terlihat wajah Nenek Puspa terlihat pucat dan tidak bergerak sama sekali membuat Gian dan Jenny panik.
"Nek, kita ke rumah sakit ya, biar Nenek diobati," seru Gian lembut.
Jenny hanya berdiri di depan mereka berdua, perasaan Jenny mulai tidak enak saat melihat Nenek Puspa tidak bergerak sama sekali.
"Nek, kok badan Nenek dingin sekali padahal tadi di saat Gian meninggalkan Nenek, badan Nenek sangat panas," seru Gian dengan menggenggam tangan Nenek Puspa.
Bibir Gian bergetar, dada Gian terasa sesak, bahkan hatinya terasa ngilu. Gian sudah merasakan sesuatu terjadi kepada Neneknya tapi Gian berusaha menepis pikiran itu.
Jenny mulai menghampiri Nenek Puspa, dan memeriksa urat nadi Nenek Puspa. Ternyata Nenek Puspa sudah meninggal karena urat nadinya sudah tidak terasa berdenyut lagi.
__ADS_1
"Gi, sepertinya Nenek kamu sudah meninggal," lirih Jenny.
"Nek, bangun Nek, Nenek pasti marah kan? karena Gian terlalu lama ninggalin Nenek, Gian sedang cari bantuan Nek, ayo bangun Nek, sekarang sudah ada Bos Gian yang akan nolongin Gian," seru Gian dengan bibir bergetar.
Airmata Gian mulai menetes, dan itu membuat Jenny merasa sangat kasian. Pundak Gian mulai bergetar hebat, menandakan Gian benar-benar sangat rapuh saat ini.
"Nek, bangun Nek. Kenapa Nenek ninggalin Gian, maafkan Gian karena belum bisa membahagiakan Nenek, Gian belum bisa membalas budi Nenek," seru Gian dengan deraian airmata.
Jenny yang melihat Gian serapuh itu, ingin sekali memeluknya dan memberikan kekuatan untuk Gian tapi Jenny tidak berani bahkan untuk menyentuk punggung Gian saja, Jenny masih belum berani.
Gian tidak menyangka kalau Neneknya akan pergi secepat ini, orang-orang mulai datang saat Jenny melaporkan Nenek Puspa meninggal kepada ketua RW dan RT setempat.
***
Keesokan harinya....
Mata Jenny dan Gian sudah terlihat lelah karena semalaman, mereka berdua tidak tidur bahkan Jenny tidak pulang karena tidak tega meninggalkan Gian sendirian.
Pagi ini setelah dimandikan, jasad Nenek Puspa pun segera dimakamkan. Selesai di makamkan, satu persatu orang mulai pergi hanya tinggal Gian dan Jenny.
"Nek, Gian dengan siapa kalau Nenek gak ada? Gian masih butuh Nenek," lirih Gian dengan deraian airmatanya.
"Ibu kalau mau pulang, pulang saja jangan pikirin aku soalnya aku masih ingin di sini," sahut Gian.
"Tidak bisa, kalau kamu tidak pulang, aku pun tidak akan pulang," seru Jenny.
Gian mulai merasakan pusing dan penglihatannya sudah mulai remang-remang.
"Ya sudah, kita pulang," seru Gian.
Gian pun bangkit dan penglihatannya semakin buram, hingga tidak lama kemudian Gian jatuh tak sadarkan diri.
"Astaga, Gian!" teriak Jenny.
Jenny mulai panik, Jenny pun berlari untuk mencari orang yang bisa membantu Jenny. Beruntung Jenny bertemu dengan penjaga makam dan orang itu membantu Jenny memasukan Gian ke dalam mobil Jenny.
Jenny membawa Gian ke kontrakan, Jenny kembali meminta bantuan kepada tetangga untuk membawa Gian ke dalam kontrakan.
__ADS_1
"Ya Allah badannya panas banget," gumam Jenny dengan memegang kening Gian.
Jenny mulai mencari sebuah wadah, setelah itu mencari handuk kecil untuk mengompres Gian.
Jenny merawat Gian, lalu memesan jasa online untuk membelikan obat demam. Jenny mencari sesuatu di dapur untuk di masak, Jenny membuatkan bubur untuk Gian dengan sayur seadanya.
Beberapa saat kemudian, Jenny pun selesai membuat bubur dan sayur.
"Gi, bangun dulu, kamu harus makan sedikit biar nanti kamu bisa minum obat," seru Jenny.
Gian membuka matanya sedikit, dan Jenny membantu Gian untuk bangun. Perlahan Jenny menyuapi Gian, Gian memperhatikan wajah Jenny yang serius menyuapinya.
"Sudah Bu, aku sudah kenyang."
Jenny pun menyimpan bekas makan Gian dan tidak lama kemudian, kurir pun datang dengan membawa obat pesanan Jenny.
"Kamu minum obat dulu."
Jenny kembali membantu Gian meminum obat.
"Sekarang kamu istirahat."
"Ibu pulang saja, aku sudah tidak apa-apa."
"Iya, nanti aku pulang."
Gian mulai memejamkan matanya dan tidak membutuhkan waktu lama, Gian pun langsung terlelap. Jenny memperhatikan wajah pucat Gian yang masih terlihat tampan itu, rasa iba dan kasihan bercampur jadi satu.
"Pasti kamu sangat sedih ditinggalkan oleh Nenekmu," seru Jenny.
Jenny duduk di depan Gian dengan menyandarkan punggungnya ke dinding dan kaki selonjoran. Mata Jenny mulai sayu karena tadi malam, Jenny dan Gian tidak tidur sama sekali.
Hingga akhirnya Jenny pun tertidur dengan posisi duduk di lantai.
***
Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, waktu sudah menunjukan jam 11 siang dan Gian mulai menggerakkan tubuhnya. Gian meraba keningnya yang masih tertempel handuk kecil, rasa pusingnya sudah mulai hilang bahkan suhu tubuhnya pun sudah normal kembali.
__ADS_1
"Astaga, aku tidur lama sekali," gumam Gian.
Gian mulai bangun dan mendudukkan tubuhnya, Gian terkejut saat melihat Jenny masih ada di sana dan saat ini sedang tertidur dalam posisi duduk.