
Malam semakin larut...
"Sudah jam 10 malam, kita pulang girl," seru Vlo.
"Iya, bukanya kenapa-napa, kalau aku sama Vlo mau pulang jam berapa pun gak masalah, tapi kan kalau Shenna sudah punya suami takutnya si Ken marah sama kita," seru Jenny.
"Apaan sih, walaupun si kuda Nil itu suami aku tapi dia tidak berhak larang-larang aku karena aku juga gak pernah ikut campur urusan dia," sahut Shenna.
"Iya deh, terserah kamu saja yang penting jangan salahkan kita saja, iya kan Jen?"
"Benar banget."
"Ayo kita pulang."
Ketiga wanita cantik itu pun akhirnya pulang, Shenna di antar oleh Vlo karena Shenna tidak membawa mobil.
Sementara itu, di kediaman Ken....
Ken saat ini seperti biasa masih berkutat dengan pekerjaannya, sesekali dia melihat jam dinding dan melihat cctv lewat ponsel pintarnya itu.
"Astaga, sudah jam 10 malam si Rubah ke mana?" gumam Ken.
Tanpa dia sadari, Ken dari tadi terus saja memantau cctv melihat apa Shenna sudah pulang atau belum. Bahkan Ken pun tidak tenang bekerja karena memikirkan Shenna.
Tidak lama kemudian, terdengar suara deru mobil dan Ken melihatnya lewat cctv betapa terkejutnya Ken saat melihat Shenna turun dari dalam mobil dengan menggunakan mini dress yang memperlihatkan pahanya yang putih mulus itu.
"Sial, berani sekali dia memakai baju kekurangan bahan seperti itu," geram Ken.
Ken pun segera keluar dari ruangan kerjanya dan berdiri di depan pintu menunggu Shenna masuk dan bersiap ingin memarahi wanita yang saat ini sudah menjadi istrinya itu.
Perlahan Shenna membuka pintu karena Shenna membawa kunci cadangan yang diberikan oleh Ken. Suasana di dalam rumah sudah gelap dan Shenna tampak mengelus dadanya.
"Aman, pasti si kuda Nil sudah tidur ini," gumam Shenna.
Shena pun membalikan tubuhnya, betapa terkejutnya Shenna saat melihat orang tinggi berdiri tepat di depannya.
"Huawaaaa....setaaaaannn!" teriak Shenna.
Seketika Ken langsung membekap mulut Shenna membuat Shenna membelalakkan matanya.
"Sembarangan sebut aku setan!" sentak Ken.
Shenna langsung menghempaskan tangan Ken.
__ADS_1
"Apaan sih ngagetin aja," ketus Shenna.
Shenna segera melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju kamarnya, dan Ken mengikuti Shenna dari belakang.
"Dari mana saja kamu, jam segini baru pulang?" tanya Ken dingin.
"Memang apa urusannya sama kamu? aku saja tidak pernah ikut campur urusanmu, jadi urus saja urusan masing-masing," ketus Shenna.
"Sekarang kamu itu sudah menjadi istriku, jadi ke mana pun kamu pergi akan selalu ada yang memantau kamu. Kalau kamu pergi sampai malam begini, nanti apa kata orang-orang? aku gak mau ya, namaku jelek karena kelakuan istriku yang selalu keluar malam pakai baju seksi!" bentak Ken.
"Hai Tuan Kendrik, apa pun yang aku lakukan, aku jamin tidak akan membuat nama baik anda jelek. Tapi, jikalau nama anda jelek karena kelakuan aku, aku akan bertanggung jawab," sahut Shenna.
Shenna segera mengambil baju ganti dan menyambar handuk yang ada di atas kursi lalu masuk ke dalam kamar mandi dengan membanting pintu.
"Allahuakbar, kenapa jadi dia yang lebih galak? seharusnya kan, yang marah itu aku bukannya sebaliknya," gerutu Ken.
Tidak membutuhkan waktu lama, Shenna pun keluar dari dalam kamar mandi dengan memakai baju tidur dengan bahan satin yang sangat seksi.
Ken yang saat itu sedang mengotak-ngatik ponselnya di atas tempat tidur, seketika membelalakkan matanya sampai tidak berkedip melihat penampilan istrinya yang berpakaian seksi.
"Sial, si Rubah memang sengaja membuat si Cogan bangun, supaya aku tersiksa," batin Ken dengan kesalnya.
"Apa lihat-lihat, mau aku colok mata kamu!" sentak Shenna.
"Cih, siapa juga yang mau menggodamu, aku tahu kalau kamu itu sudah kelamaan bareng si Tora makanya kamu sudah tidak tergoda sama wanita, karena kamu lebih tergoda dengan sesama pisang, iya kan?" ledek Shenna.
"Apa? sembarangan kalau ngomong, kamu mau mengetes si Cogan?"
"Cogan? apaan tuh?" tanya Shenna bingung.
"Dia tongkat kebanggaanku."
"Astaga, pakai dinamakan Cogan lagi, kaya kurang kerjaan aja."
Shenna segera merebahkan tubuhnya dan menutup tubuhnya dengan selimut, posisi Shenna membelakangi Ken.
Ken menyimpan ponselnya dan dia juga ikut merebahkan tubuhnya, Ken terus saja berguling ke sana ke mari karena tidak bisa tidur sama sekali. Pemandangan indah yang tadi dia lihat sungguh mengganggu cara bekerja otaknya, apalagi saat Ken ingat handuk Shenna melorot dan memperlihatkan sesuatu yang sangat luar biasa.
"Ah, sial si Cogan jadi bangun, kan," batin Ken dengan mengusap si Cogan.
Ken tidur terlentang dengan satu tangan dibuat bantal, tiba-tiba saja Shenna menggerakkan tubuhnya dan meni*dih tubuh Ken dengan kakinya. Otomatis paha putih mulus itu semakin terpampang jelas di depan mata, apalagi tanpa sadar Shenna menggesek-gesekkan kakinya di tubuh Ken membuat si Cogan menggeliat.
"Ah, kamu menyebalkan sekali Rubah, kenapa posisinya harus seperti ini?" batin Ken.
__ADS_1
Sungguh malam ini Ken akan tersiksa, Shenna benar-benar sudah membuat si Cogan menggeliat dan mengembang.
Sementara itu, tiba-tiba hujan turun...
"Astaga, kok tiba-tiba hujan sih?" batin Vlo.
Vlo pun membunyikan klakson dan tidak lama kemudian, sekuriti rumah Vlo membukakan pintu gerbang dengan memakai payung.
Shenna segera memasukan mobilnya ke dalam garasi, di saat Vlo hendak masuk ke dalam rumah, Vlo kaget karena Vincent sudah ada di teras rumahnya dalam posisi tertidur di atas kursi.
"Vincent, ngapain dia tidur di sini?" gumam Vlo.
Vlo pun menggoyangkan tubuh Vincent supaya Vincent bangun, Vincent mulai menggerakkan tubuhnya dan perlahan membuka matanya.
"Nona Vlo."
"Ngapain kamu tidur di sini?"
"Tadi aku ke sini dan ternyata Nona Vlo belum pulang, jadi aku menunggu di sini saja."
"Kan ada si Bibi, kamu bisa bangunkan si Bibi buat buka pintu."
"Tidak enak Nona, karena penghuni rumahnya tidak ada."
Vlo merogoh tasnya untuk mengambil kunci rumah, setelah terbuka Vlo pun masuk dengan diikuti oleh Vincent dari belakang. Vincent memperhatikan penampilang Vlo, dan dia baru sadar kalau malam ini Vlo menggunakan mini dress yang sangat seksi bahkan pan**t Vlo yang montok tampak menggoda iman Vincent.
"Aku istirahat dulu."
"I--iya Nona, silakan."
Vlo masuk ke dalam kamarnya, begitu juga dengan Vincent yang langsung masuk ke dalam kamarnya.
"Tenang Bruno, kamu jangan berontak dulu, aku lagi usaha untuk mendapatkan rumahmu jadi, sabar ya," gumam Vincent dengan mengusap sela**kangannya.
Berbeda dengan kedua sahabatnya, Jenny pun baru sampai di rumahnya tapi lagi-lagi wanita cantik yang satu ini dibuat terkejut dengan kedatangan Gian.
"Gian, ngapain dia di situ?" gumam Jenny.
Gian berdiri di depan gerbang rumah Jenny dengan tubuh yang menggigil karena dari tadi dia kehujanan. Gian tahu alamat rumah Jenny dari Chef Arnold, Jenny segera mengambil payung dari jok belakang dan keluar dari dalam mobilnya menghampiri Gian.
"Gian, ada apa? kenapa kamu berdiri di sini?" tanya Jenny.
"Tolong aku, Bu."
__ADS_1
Gian berbicara dengan bibir yang bergetar, bahkan saat ini Jenny hanya bisa terdiam dan menatap wajah Gian dengan tatapan bingung.