
Beberapa saat kemudian, Vlo pun keluar dari dalam kamar mandi. Vlo segera memakai pakaiannya dan setelah dirasa rapi, Vlo pun menuruni anak tangga.
Vlo melempar kunci mobilnya kepada Vincent dan Vincent dengan sigap menangkapnya. Vlo tidak memperdulikan kedua orang yang tidak tahu malu itu.
"Vlo, pokoknya Mami tidak akan pergi dari sini sebelum kamu memberi Mami pinjam uang!" teriak Mami Vlo.
"Dasar wanita tidak tahu diri," gumam Vlo.
Vlo tahu kalau itu adalah wanita yang sudah melahirkannya, tapi Vlo tidak suka kalau yang yang dia berikan habis hanya untuk mengurus brondong brengsek itu.
Vincent hanya bisa diam, dia tidak mau ikut campur terlalu dalam urusan Vlo.
"Apa kita langsung ke klinik?" tanya Vincent.
"Pagi ini aku mau ke xxx, soalnya aku mau menyervis mobil aku ini."
"Sial, itu show room aku, bagaimana kalau Vlo tahu aku pemilik show room itu, bisa mati aku," batin Vincent panik.
"Ayo jalan, ngapain diam!"
"Ah, iya Nona."
Selama dalam perjalanan, Vincent panik dan khawatir dia tidak tahu harus berkata apa kalau sampai penyamarannya sampai ketahuan.
Di sela-sela menyetir, Vincent pun dengan cepat mengirim pesan kepada Zul yang merupakan asisten pribadinya. Setelah pesan di kirim dan ada balasan dari Zul, hati Vincent sedikit merasa lega.
"Kamu memang bisa diandalkan, Zul," batin Vincent dengan senyumannya.
Tidak membutuhkan waktu lama, Vincent pun sampai di sebuah show room besar yang merupakan show room miliknya sendiri. Vincent segera keluar dari dalam mobil dan membukakan pintu mobil untuk Vlo.
"Silakan, Nona."
Vlo berjalan memasuki show room dan langsung disambut oleh Zul, Zul sedikit melirik ke arah Vincent dan Vincent menganggukkan kepalanya sebagai kode kalau Zul jangan sampai melakukan kesalahan.
"Mas, aku mau menyervis mobil aku."
"Baik Nona, apa Nona mau menunggu atau mau pulang?" tanya Zul.
"Sepertinya aku mau ke klinik, biar sopirku saja yang nungguin," sahut Vlo.
"Loh, terus Nona mau naik apa ke klinik?" tanya Vincent.
"Yaelah, ini zaman modern kali, taksi online pun jadi. Ya sudah, aku pergi dulu kamu tunggu saja di sini."
"Baik Nona."
Vlo pun dengan cepat memesan taksi online, dan tidak membutuhkan waktu lama, taksi yang Vlo pesan sudah datang dan Vlo pun segera pergi dari show room itu.
"Bos, kemarin orangtua Bos nanya, saya bingung harus jawab apa?"
__ADS_1
"Biar aku jelaskan kepada orangtuaku, kamu perintahkan karyawan untuk servis mobil Vlo, aku mau menghubungi Mamaku dulu."
"Siap Bos."
Sementara itu, di restoran....
Gian adalah orang yang sangat teladan, dia sudah sampai di restoran sebelum restoran dibuka. Saat ini dia duduk termenung di depan restoran menunggu kedatangan Jenny.
Beberapa saat kemudian, mobil Jenny pun datang. Jenny melirik ke arah Gian, lalu Jenny pun kembali memalingkan wajahnya. Jenny pun dengan cepat membuka restorannya dan Gian tanpa bicara sedikit pun mengikuti langkah Jenny.
"Gian, tolong sebelum kamu masak, cek dulu bahan-bahan jangan sampai ada bahan-bahan yang habis," seru Jenny dingin.
"Baik Bu."
Gian mulai memasuki dapur dan mengganti bajunya dengan seragam Chef, seperti yang dibilang Jenny, Gian mulai memeriksa bahan-bahan. Satu persatu karyawan mulai berdatangan, dan menyapa Gian dengan senyuman cerianya namun sayang, Gian hanya membalasnya dengan raut wajah yang tanpa ekspresi.
Jenny yang memang dari tadi memperhatikan Gian dari kejauhan merasa sangat kesal.
"Dingin banget sih dia, di sapa dengan ramah, malah dijawab dengan ekspresi dingin seperti itu. Mana susah sekali untuk senyum, apa stok kantong senyum dia sudah hilang seperti cerita di film kartun," batin Jenny.
Gian memang mempunyai sifat yang dingin dan cuek, bahkan Gian terkesan introver menutup diri dengan hal-hal luar. Mungkin karena dia tidak pernah bersosialisasi dengan orang-orang, makanya Gian tumbuh menjadi pria yang dingin.
Berbeda dengan Vlo dan Jenny, Shenna dan Ken adalah pasangan yang sulit sekali akur bahkan ada saja hal kecil yang bisa membuat mereka bertengkar.
Seperti pagi ini, mereka berdua sudah rapi dengan baju kantornya.
"Dipecat? kamu mau mecat dirimu sendiri? alasan yang sangat lucu, aku tidak memintamu untuk mengantarkan ku karena Sherli sebentar lagi akan datang, jadi kamu jangan khawatir," ketus Shenna.
"Baguslah."
Mereka sarapan hanya berdua karena Naufal sepertinya masih tidur. Setelah selesai sarapan, keduanya pun sama-sama keluar rumah dan Sherli ternyata sudah ada di sana.
"Pagi Nona!"
"Pagi Sherli."
"Ini kunci mobilnya, Nona."
"Terima kasih."
Shenna dan Sherli pun masuk ke dalam mobil, sedangkan Ken sudah masuk duluan ke dalam mobilnya tapi mobil Ken tidak menyala.
"Lah, kok gak nyala?" gumam Ken.
Ken melihat ternyata bensinnya kosong, Ken mengepalkan tangannya.
"Naufal, kebiasaan kalau sudah pakai mobil tidak pernah di isi lagi bahan bakarnya," geram Ken.
Ken pun keluar dari dalam mobilnya dengan raut wajah yang tidak bersahabat. Sedangkan Shenna melihat dari kaca spionnya.
__ADS_1
"Kenapa si kuda Nil?" gumam Shenna.
Shenna pun mulai menyalakan mobilnya, Ken yang memang sudah terlambat langsung berlari dan masuk ke dalam mobil Shenna.
"Hai, keluar dari mobilku!" sentak Shenna.
"Antarkan aku ke kantor, bahan bakar mobilku habis," seru Ken dingin.
"Apa? enak saja, sudah sana keluar. Memangnya aku ini sopir kamu apa? tadi saja songong gak mau nganterin aku, tapi sekarang malah balik minta dianterin, gak tahu malu banget," cerocos Shenna.
"Berisik, buruan jalan."
Shenna sampai membelalakkan matanya mendengar perintah Ken yang tidak tahu diri itu.
"Maaf Nona, pagi ini kalian harus menghadiri rapat di perusahaan xxx, jadi tujuan kalian sama," seru Sherli.
Seketika Shenna dan Ken menatap Sherli dengan tatapan bingung.
"Kok kamu tahu?" tanya Shenna dan Ken bersamaan.
Sherli tampak kaget, susah payah Sherli menelan salivanya.
"A-aku lihat di agenda, dan di sa-na ada nama perusahaan Nona dan Tuan Ken," sahut Sherli gugup.
"Oh begitu," sahut Shenna.
"Ya sudah, buruan jalan nanti kita telat!" sentak Ken.
"Astaga, sebentar dong ini juga mau jalan," ketus Shenna.
Akhirnya Shenna pun segera melajukan mobilnya, sedangkan Sherli terlihat sangat gugup, padahal kenyataannya Sherli tahu dari suaminya Tora. Untung Shenna dan Ken tidak curiga dan tidak memperpanjang masalah itu sehingga Sherli bisa bernapas lega.
"Syukurlah mereka tidak curiga, jantungku hampir saja mau copot," batin Sherli dengan mengusap dadanya.
*
*
*
Yuk yang mau ikutan event votenya, edisi 1-28 Februari...
Juara 1 : 75k
Juara 2 : 50k
Juara 3 : 35k
Kalian juga bisa memberikan komen terbaik kalian karena akan ada pulsa untuk 5 orang komen terbaik dan masing-masing mendapatkan pulsa 20k....
__ADS_1