
Malam ini Shenna masih berada di kantor, dia sedang melihat berkas-berkas mengenai proyek yang sedang dia tangani.
"Astaga, kalau aku harus ganti rugi, nilainya sangat fantastis bisa-bisa perusahaan aku bangkrut hanya untuk membayar semua ganti rugi," gumam Shenna.
Shenna mengusap wajahnya dengan kasar, terlihat sekali kali saat ini Shenna begitu frustasi.
"Sebenarnya perusahaan siapa yang sudah berani mengacaukan perusahaanku?" batin Shenna.
Dari tadi siang, Shenna sama sekali belum makan lagi bahkan tadi siang, Shenna baru beberapa suap saja karena Sherly tiba-tiba menghubunginya.
Shenna menyandarkan punggungnya ke kursi dengan mata yang terpejam, tidak lama kemudian airmata Shenna pun menetes dengan sendirinya.
Sedangkan di rumah, Ken terlihat mondar-mandir merasa sangat khawatir karena Shenna belum juga pulang bahkan telepon Ken tidak dia angkat-angkat.
"Ke mana sih, dia? apa jangan-jangan dia sedang pacaran sama selingkuhannya?" gumam Ken.
Ponsel Shenna di silent jadi, Shenna tidak mendengar ada yang menghubunginya apalagi ponselnya dia simpan di dalam tasnya.
Tidak lama kemudian, ponsel Ken berbunyi dan tertera nama Tora di sana.
📞"Ada apa, Tora?" tanya Ken.
📞"............"
📞"Apa?"
Ken kaget mendengar info dari Tora, Ken segera memutuskan sambungan teleponnya dan dengan cepat mengambil jaket dan kunci mobilnya.
"Mau ke mana, Bang?" tanya Naufal.
"Aku pergi sebentar."
Ken segera berlari dan masuk ke dalam mobilnya, Ken mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Dasar wanita bodoh, ngapain menyiksa diri dengan berdiam diri di kantor," kesal Ken.
Barusan Tora menghubungi Ken kalau Shenna masih berada di kantor karena istrinya yang memberitahukan.
Beberapa saat kemudian, Ken sampai di depan kantor Shenna. Sekuriti langsung menghampiri Ken.
__ADS_1
"Apa Shenna masih di dalam?" tanya Ken.
"Iya Tuan, Bu Shenna belum keluar juga dari dalam ruangannya," sahut Sekuriti.
Ken mendongakkan kepalanya melihat ke atas, dan benar saja ruangan Shenna masih terang pertanda memang Shenna masih berada di sana.
"Ya sudah, aku ke dalam dulu, Pak."
"Silakan, Tuan."
Ken berlari memasuki lift untuk sampai di ruangan Shenna. Sesampainya di depan pintu ruangan Shenna, Ken terdiam hingga dengan perlahan Ken pun masuk.
Terlihat Shenna masih memejamkan matanya dengan airmata yang terus mengalir.
"Ngapain kamu masih di sini? bukannya pulang, kamu tidak lihat ini jam berapa?" kesal Ken.
Shenna membuka matanya dan segera menghapus airmatanya.
"Ada apa?" lirih Shenna.
"Kamu bilang, ada apa? ini sudah jam 10 malam, Shenna. Kamu seperti tidak punya rumah saja sampai tidur di kantor," kesal Ken.
Ken menghampiri Shenna, dan Shenna mulai membereskan meja kerjanya. Sudah sejak tadi siang, kepala Shenna terasa sangat pusing. Shenna mengambil tasnya, tapi di saat Shenna melangkahkan kakinya tiba-tiba tubuhnya oleng, untung Ken dengan sigap menangkap tubuh Shenna.
"Astaga, kamu demam."
Shenna berusaha berdiri dan melepaskan pelukan Ken.
"Aku tidak apa-apa."
Shenna kembali melangkahkan kakinya tapi lagi-lagi tubuhnya oleng dan Ken kembali menangkap tubuh Shenna. Tanpa banyak bicara, Ken pun akhirnya mengangkat tubuh Shenna membuat Shenna kaget.
"Turunkan aku, aku bisa jalan sendiri," lirih Shenna.
Ken tidak mendengarkan ocehan Shenna, dia segera membawa Shenna pulang. Selama dalam perjalanan, Shenna hanya memejamkan matanya, bahkan keringat dingin sudah membasahi wajah cantiknya.
Ken menyentuh kening Shenna. "Kamu demam, kita ke rumah sakit saja," seru Ken.
Shenna menghempaskan tangan Ken dan menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mau ke rumah sakit," lirih Shenna.
__ADS_1
Ken tidak banyak bicara lagi, dia pun langsung membawa Shenna pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, Ken segera mengangkat tubuh Shenna yang sudah mulai lemas itu bahkan suhu tubuhnya terasa sangat panas.
"Astaga, Kakak Ipar kenapa?" tanya Naufal panik.
"Bukakan pintu kamar Abang."
Naufal dengan cepat membukakan pintu kamar Ken, Ken merebahkan tubuh Shenna di atas tempat tidur.
"Ambilkan air hangat buat ngompres."
"Baik, Bang."
Naufal segera berlari ke bawah untuk mengambil air hangat, Ken melepaskan heels Shenna lalu mengambil obat di dalam lacinya.
"Shen, bangun, minum obat dulu."
Shenna membuka matanya dan Ken membantu Shenna untuk meminum obat, tidak lama kemudian Naufal datang dengan membawa air hangat dan handuk kecil.
"Terima kasih, kamu boleh kembali ke kamar kamu."
Naufal mengerti dan keluar dari kamar Ken. Ken duduk di samping Shenna dan mulai mengompres kening Shenna.
"Romi...Romi...." lirih Shenna.
Ken tersenyum kecut mendengar gumaman Shenna. "Sedang sakit seperti ini saja, kamu masih ingat pria itu," batin Ken.
Ken dengan setia menunggu dan merawat Shenna, entah kenapa kali ini Ken merasa sangat kasihan kepada wanita yang berstatus istrinya itu.
"Sebenarnya perusahaan mana yang sudah menghancurkan perusahaan Shenna? kok aku curiga sama pria itu, tapi rasanya tidak mungkin juga, masa iya pria yang mencintai Shenna dengan teganya mau menghancurkan Shenna," batin Ken.
Ken memang sedang menyelidiki perusahaan milik Romi, Tora adalah asisten sekaligus orang yang disuruh Ken untuk menyelidiki Romi.
"Siapa pun orang itu, aku tidak akan mengampuninya," batin Ken.
Ken kembali memperhatikan wajah Shenna, Ken menyentuh kening Shenna dan ternyata demamnya sudah turun.
Perlahan Ken naik ke atas tempat tidur dan merebahkan tubuhnya di samping Shenna, Ken memiringkan tubuhnya menghadap Shenna.
Seulas senyuman tersungging di bibir Ken. "Kalau nanti kita bercerai, aku pasti akan merindukan saat-saat bertengkar denganmu, Rubah," batin Ken.
__ADS_1
Mata Ken mulai sayu dan tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Ken pun mulai memejamkan matanya dan terlelap di samping Shenna.