
Ken melajukan mobilnya dengan sedikit terburu-buru, padahal ini baru jam sepuluh pagi seharusnya mereka kembali ke kantor tapi Ken justru membawa Shenna pulang karena Shenna sudah membuat si Cogan terus saja berontak.
"Buru-buru amat Ken, memangnya kita mau ke mana?" tanya Shenna.
"Otw buat anak," sahut Ken.
"Hah...."
Wajah Shenna langsung memerah mendengar ucapan Ken yang tanpa basa-basi itu.
Tidak membutuhkan waktu lama, mobil Ken sampai di rumah. Bahkan ART sampai melongo melihat Tuan rumahnya pulang kembali.
"Bi, jangan ganggu kami kalau ada tamu atau siapa pun bilang saja kami sedang tidak mau diganggu," seru Ken dengan menarik tangan Shenna.
"Baik, Tuan."
Ken dengan cepat membawa Shenna ke dalam kamarnya, lalu Ken mengunci kamarnya.
"Tunggu Ken, kamu serius mau melakukannya?" tanya Shenna gugup.
"Iyalah, memangnya kenapa? bukannya tadi kamu yang sudah memulainya, lihatlah si Cogan sudah sesak berada di dalam sana," sahut Ken dengan menunjuk ke arah sela**kangannya.
Shenna langsung menutup matanya saat melihat sesuatu yang menyembul di balik celana kerja Ken.
"Kamu sungguh tidak tahu malu, Ken!" teriak Shenna.
Ken melepaskan jasnya dan menarik Shenna sampai Shenna terjatuh ke atas tempat tidur, lalu dengan cepat Ken memerangkap tubuh Shenna.
"Apa kamu yakin dengan ucapanmu tadi?"
Shenna susah payah menelan salivanya, kali ini dia benar-benar sudah gugup dan tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Bagaimana kalau sekarang kita memulai rumah tangga kita saja? jujur, aku sudah tidak bisa mencari wanita lagi dan aku tidak bisa kehilangan kamu," seru Ken.
Shenna merasa terkejut dengan ucapan Ken, memang untuk saat ini Shenna juga tidak mau bercerai dengan Ken, apa itu tandanya mereka sama-sama sudah saling jatuh cinta.
Ken benar-benar sudah tidak tahan lagi, melihat bibir merah muda Shenna yang sudah menggoda dari tadi bahkan sekarang Ken sudah mulai kecanduan dengan bibir itu.
Ken dengan cepat Ken melahap bibir Shenna, awalanya Shenna kaget tapi lama-kelamaan Shenna mulai menikmatinya juga. Bahkan Shenna sudah mulai men**sah saat tangan Ken sudah mulai berkeliaran ke mana-mana.
"Sekarang kita harus menjadi suami istri yang sesungguhnya, apa kamu sudah siap?" seru Ken dengan suara seraknya.
Shenna menganggukkan kepalanya, Ken mulai melanjutkan aksinya. Perlahan tapi pasti, pagi menjelang siang itu menjadi saksi betapa ganasnya si Cogan mencumbu bestienya.
***
Sementara itu di klinik kecantikan Vlo, Vincent sudah bukan sopir pribadi Vlo lagi melainkan menjadi sopir hidup Vlo.
Vincent terus saja mengganggu Vlo dalam bekerja, membuat Vlo kesal.
__ADS_1
"Bisa tidak, kamu diam?" kesal Vlo.
"Tidak."
"Kamu memang menyebalkan," ketus Vlo.
Vincent sengaja menggeser kursinya ke samping Vlo, dan menyandarkan kepalanya ke pundak Vlo sembari memainkan rambut Vlo.
"Kamu wangi banget, sayang."
Vlo mendelikan matanya, dia sudah malas dengan kelakuan Vincent yang terus saja menempel bagaikan lintah.
Vlo bangkit dari duduknya membuat Vincent yang sedang menyandarkan kepalanya di pundak Vlo, seketika tersungkur.
"Astaga, kamu jahat banget sayang, untung jidat aku gak kepentok kursi," keluh Vincent.
"Lebih baik sekarang kamu pergi bekerja saja, daripada terus-terusan menempel kepadaku," ketus Vlo.
Vincent menghampiri Vlo yang sedang berdiri sembari melihat-lihat pemasukan bulan ini, lalu Vincent memeluk Vlo dari belakang membuat Vlo semakin kesal.
"Kalau aku berangkat kerja, aku takut rindu sama kamu," seru Vincent dengan mengendus-ngendus rambut Vlo.
"Astaga."
Vlo melepaskan pelukan Vincent dengan paksa. "Hari ini aku lagi banyak kerjaan, jadi mau tidak mau kamu harus pergi dari sini atau tidak, kamu diam jangan gangguin aku!" sentak Vlo.
Vincent pun duduk di sofa sembari memperhatikan Vlo yang kembali melanjutkan pekerjaannya.
Vlo tahu kalau Vincent dari tadi sedang memperhatikannya, dan justru itu membuat Vlo semakin tidak nyaman bahkan Vlo tidak bisa berkonsentrasi.
Kali ini Vlo sangat kesal, dia menutup laptopnya kemudian menghampiri Vincent dan berdiri di depan Vincent.
"Bisa tidak kamu pergi dari sini, aku tidak bisa konsentrasi kalau kamu terus-terusan memperhatikan aku seperti itu," kesal Vlo jengkel.
Melihat Vlo kesal, Vincent terkekeh lalu menarik tangan Vlo sehingga Vlo terduduk di pangkuan Vincent. Vincent mengelus pipi Vlo dengan lembut. "Jangan marah-marah sayang, nanti cantiknya hilang loh," goda Vincent.
"Ishh, apaan sih kamu."
Vlo hendak bangkit dari pangkuan Vincent tapi Vincent menahannya, dengan cepat Vincent menarik wajah Vlo dan mencium bibir Vlo. Awalnya Vlo berontak, tapi lama-kelamaan Vlo diam juga karena percuma berontak karena Vincent tidak akan melepaskannya.
***
Sedangkan di restoran, Jenny dan Gian sedang masak bersama di dapur. Keduanya terlihat sumringah membuat Chef Arnold merasa curiga.
"Ada apa dengan kalian? kenapa hari ini sikap kalian berbeda sekali?" tanya Chef Arnold bingung.
Jenny dan Gian saling pandang satu sama lain, lalu mereka kembali menyunggingkan senyumannya.
"Chef pasti tahulah, apa yang sudah terjadi dengan kita?" seru Jenny.
__ADS_1
"Sungguh tidak bisa dipercaya, baiklah aku tidak akan mengganggu dua insan yang sedang berbunga-bunga ini," sahut Chef Arnold.
"Chef Gian, apa anda tidak berniat ingin melamar ku dalam waktu dekat?" ledek Jenny.
"Maaf Bu Bos, aku belum punya uang untuk membeli cincin mewah," sahut Gian.
"Ishh..ishh..ishh..aku tidak butuh cincin mewah darimu, yang aku butuh keseriusan mu dan tunjukan padaku kalau kamu memang mencintaiku," seru Jenny.
Gian seketika menghentikan gerakan tangannya yang sedang menata masakan di dalam piring, lalu Gian menatap Jenny.
"Sebentar lagi waktunya jam makan siang, jadi lebih baik sekarang Bu Bos duduk manis di ruangan Bu Bos, aku akan membuatkan sesuatu untukmu," seru Gian dengan mendorong pelan tubuh Jenny.
"Tapi------"
"Sudahlah, kamu istirahat di ruangan kamu sebentar lagi aku akan membawakan makan siang untukmu."
"Ckckck....dasar pria tidak peka, ngomongin lamaran malah mengalihkan pembicaraan kepada makan siang," kesal Jenny.
Akhirnya dengan kesalnya, Jenny pun pergi dari dapur dan masuk ke dalam ruangannya, sedangkan Gian segera membuatkan sesuatu untuk Jenny.
Butuh waktu beberapa menit untuk Gian menyiapkannya, hingga akhirnya semuanya selesai dan Gian segera membawanya ke dalam ruangan Jenny.
Tok..tok..tok..
"Masuk."
Gian masuk, dengan membawa nampan yang berisi makan siang untuk Jenny.
"Ini makan siang untukmu."
Awalnya Jenny terlihat cuek karena Jenny masih kesal dengan Gian yang tidak peka, tapi di saat Gian menyimpan piring di hadapan Jenny, dia sungguh sangat terkejut.
"Aku buatkan pancake dan pizza kesukaan kamu," seru Gian.
Gian membuat pancake dan pizzanya dengan berbentuk hati membuat Jenny merasa senang.
"Katanya aku disuruh melamar kamu, aku tidak bisa memberikan apa-apa kepadamu hanya ini yang bisa aku berikan. Jadi, kalau kamu menikah denganku, aku tidak akan membiarkan kamu masak karena biar aku yang memasakkan untukmu," seru Gian.
Jenny bangkit dari duduknya dan langsung memeluk Gian dengan sangat erat, tentu saja Gian membalas pelukan Jenny.
"Jadi, maukah kamu menikah denganku?" seru Jenny.
"Hah...."
Gian terkejut, seharusnya dia yang mengatakan itu tapi ini malah Jenny.
__ADS_1