
"Turunkan! Turunkan lagi!" seru Mattew kepada tiga siswi yang memakai rok sekolah super pendek.
Tiga siswi tersebut langsung menurunkan sedikit rok nya, tapi tetap saja masih terlihat pendek, di atas lutut. "Ini sudah di turunkan, Pak. Udah mentok," jawab salah satu siswi dengan gaya centil.
"Kalian ini mau sekolah atau mau fashion show? Alis pakai di lukis dan bibir di warnai kayak ikan cuupang! Awas kalian ya kalau besok masih memakai seragam seperti ini dan berdandan kayak badut!" cerocos Mattew memarahi tiga muridnya yang super bandel itu.
"Bubar kalian! Dan segera masuk ke ruang BP, temui Pak Adi!" tegas Mattew.
"Pak, jangan dong! Kita bertiga bisa di jemur di tengah lapangan basket sama Pak Adi, nanti kami bisa kering kayak ikan asin," rengek salah satu siswi sambil memegangi tangan Mattew, melancarkan rayuan agar gurunya itu luluh.
"Nggak peduli! Temui Pak Adi sekarang, kalau tidak, nilai kalian akan Bapak kurangi!" ancam Mattew pada tiga siswi yang bandel itu, lalu menarik tangannya yang masih di pegang salah satu siswi.
__ADS_1
Ketiga siswi itu tentu saja takut kalau nilainya di kurangi, dan mereka memilih membubarkan diri dan langsung menuju ruangan BP untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mereka.
"Huh! Mereka ini selalu saja membuat masalah. Masih kecil udah bergaya centil! Mau jadi apa mereka nanti!" gerutu Mattew, melanjutkan langkahnya menuju ruangan guru, tapi langkahnya terhenti saat melihat Lesta sedang duduk berdua dengan Sam di kursi yang ada di pinggir lapangan basket. Kedua tangan Mattew mengepal, dan rahangnya merengas. Api cemburu mulai menyebar ke seluruh aliran darahnya. Kepalanya mendidih, seolah ada asap keluar dari kedua telinganya. Pria tersebut yang sudah tahan melihat pemandangan itu pun segera menghampiri Istrinya yang terlihat tertawa senang bersama dengan Sam.
"Maafkan aku ya, Sam. Tadi malam benar-benar urgent," ucap Lesta sembari memberikan sebotol air mineral kepada Sam yang terlihat lelah sehabis latihan basket.
"Santai aja lagi. Btw, thanks banget buat tadi malam. Gue senang banget jalan bareng sama lo. Next time, kalau lu ada waktu kita jalan lagi ya." Sam menatap Lesta dengan penuh harap, tapi dia segera mengalihkan pandangannya ketika jantungnya berdetak tidak karuan, kemudian ia meninum sebotol air mineral tersebut dengan rakus hingga membuatnya tersedak, lalu di tertawakan oleh Lesta.
"Ha ha ha ha, kamu ini kayak nggak pernah minum air saja." Lesta memberikan sapu tangannya kepada Sam. Sam tersenyum malu lalu menerima sapu tangan berwarna pink itu, tidak lupa mengucapkan terima kasih pada gadis cantik yang duduk di sebelahnya.
"Nggak boleh!!!" Bukan Lesta yang menjawab melainkan Mattew yang berdiri tidak jauh dari sana.
__ADS_1
"Bapak? Kenapa Bapak ada di sini? Dan kenapa Bapak menjawab pertanyaanku? Memangnya Bapak ini siapanya Lesta?!" Sam mencecar gurunya itu dengan berbagai pertanyaan sinis.
Lesta menatap sebal pada Mattew, takut kalau pernikahan yang selama ini di sembunyikan terbongkar.
Sedangkan Mattew sendiri sedang gelagapan, otak cerdasnya segera berpikir keras untuk mencari alasan agar Sam tidak curiga.
"Maksudku, kalian ini sebentar lagi akan menghadapi ujian nasional, jadi sebaiknya perbanyak belajar!" jawab Mattew setelah dia mendapatkan alasan yang tepat.
"Oh, tenang saja, Bapak nggak perlu khawatir, kami bisa kok mengatur waktu. Ya 'kan, Les ..." Sam menjawab lalu meminta pendapat Lesta.
"Emh ... maaf, kayaknya aku nggak bisa." Lesta segera beranjak berdiri, saat melihat Mattew menatapnya sangat tajam. Kemudian dia berpamitan masuk ke dalam kelas, karena jam pelajaran sebentar lagi akan di mulai.
__ADS_1
***
Ada yang panas tapi bukan api 🤣🤣