
Rasa kesal di dalam dada langsung menguar ketika mendapatkan notifikasi pesan dari orang yang ingin membeli rumahnya. Becca sangat senang, dia berharap kali ini rumahnya laku terjual, pasalnya ini adalah calon pembeli ke sepuluh yang melihat rumahnya tapi tidak jadi membeli karena menurut mereka harganya terlalu mahal.
Wanita hamil itu mempercepat laju kendaraannya agar segera sampai rumah. 10 menit kemudian dia telah sampai di halaman rumah mewahnya. Dia bernafas lega calon pembelinya belum sampai di sana, jadi dia bisa merapikan rumahnya.
*
*
“Ma, kenapa sih harus ngajak aku!” keluh Reqi pada ibunya.
“Kamu nggak ikhlas menemenin Mama? Padahal rumah itu juga buat kamu loh!” kesal Laila pada putranya yang sejak tadi terus menggerutu sambil menyetir mobil.
Reqi menghela nafas panjang, lebih baik dia diam sana, dari pada mendengarkan ibunya terus menceramahinya.
Beberapa saat kemudian, mobil yang dia kendarai berhenti di dekat pos satpam tepatnya di pintu masuk perumahan mewah. Reqi memperlihatkan Kartu Indentitasnya serta memberitahukan tujuannya datang ke perumahan mewah tersebut. Setelah menjalani pemeriksaan ketat yang di lakukan oleh satpam, dia baru diperbolehkan melajukan mobilnya kembali.
“Terima kasih atas kerja samanya, Pak.” Satpam memberikan hormat kepada Reqi.
Reqi tersenyum seraya menganggukkan kepala, lalu melajukan mobilnya menuju rumah yang akan di beli ibunya.
“Blok Halu, No. 01,” ucap Laila pada putranya sambil menatap layar ponselnya.
“Iya, Mam.” Reqi mengarahkan mobilnya ke depan rumah yang sesuai dengan alamat yang di sebutkan ibunya. “Benar ini nggak?” tanya Reqi sambil membuka kaca jendela mobil, menatap rumah mewah dan megah dari luar pagar yang menjulang tinggi.
“Iya, sesuai dengan alamatnya,” jawab Laila, lalu turun dari mobil, diikuti oleh putranya.
“Wah! Ternyata aslinya lebih bagus dari pada yang ada di foto.” Laila berdecak kagum saat melihat megahnya rumah yang ada di hadapannya. Kemudian dia segera memencet bel yang ada di dekat pagar.
“Tapi, nggak tahu isinya, Ma,” sahut Reqi malas.
__ADS_1
“Ck! Kok kamu ngomongnya kayak begitu sih?! Harusnya kamu senang kalau akan dapat rumah dan sebagus ini!” omel Laila sambil memencet bel lagi karena pemilik rumah tak kunjung terlihat.
Tak berselang lama, ada seorang wanita cantik keluar dari rumah tersebut dengan langkah tergesa menuju pintu pagar.
“Maaf, sudah membuat kalian menunggu lama,” ucap Becca sambil menundukkan kepala.
“Santai saja santai, kita juga baru datang kok,” jawab Laila sambil terkekeh pelan.
“Sekali lagi maafkan saya Nyonya dan Tua ... eh, kamu!” Becca tidak melanjutkan ucapannya, karena dia sangat terkejut ketika melihat pria yang ada di samping wanita setengah baya itu.
Reqi juga sangat terkejut saat melihat jika pemilik rumah tersebut adalah Becca, akan tetapi dia segera bersikap biasa saja, dan memasang wajah jutek.
“Kalian saling kenal?” Laila menatap Becca dan putranya itu secara bergantian.
“Nggak!” jawab Reqi dengan cepat.
“Tapi kok dia kayak kenal sama kamu?” tanya Laila heran sambil menunjuk Becca.
“Oh, begitu.” Laila tidak mempermasalahkannya, lagi pula hal seperti itu sudah sering terjadi di masyarakat.
Becca mempersilahkan masuk dua tamunya, tidak lupa menyuruh Reqi untuk memarkirkan mobilnya di halaman rumah, akan tetapi pria itu menolak dengan alasan tidak ingin berlama-lama di sana.
“Ma, aku nggak suka rumahnya! Kita cari yang lain saja!” ucap Reqi ketika baru memasuki rumah tersebut.
“Diam! Jangan ikut campur!” omel Laila lagi pada putranya.
Reqi berdecap sambil menggaruk salah satu ujung alisnya yang tiba-tiba terasa gatal.
*
__ADS_1
*
Setelah berkeliling melihat setiap sudut rumah tersebut, akhirnya Laila mengambil keputusan besar untuk membeli rumah tersebut.
Becca bertepuk tangan kecil, dan tak hentinya mengucapkan banyak terima kasih kepada wanita tersebut.
“Terima kasih banyak, Nyonya.” Becca sampai berkaca-kaca dibuatnya.
“Sama-Sama. Lagi pula rumah ini sangat murah menurutku, cuma 15 miliyar,” ucap Laila sambil tertawa pelan, kemudian menatap putranya dengan tajam.
“Apa, Ma?” tanya Reqi sambil menatap ibunya yang memberikan sebuah kode.
“Bayar dong rumahnya!!! Malah diam saja!” omel Laila sambil merapatkan giginya kesal.
“What! Aku?” Reqi menunjuk dirinya sendiiri lantaran sangat terkejut.
“Lalu siapa lagi kalau bukan kamu yang membayar!!” Sepertinya Laila sedang sensitif kepada putranya, dari tadi memarahi Reqi terus.
“Iya, iya!” Reqi pasrah, segera mengeluarkan ponselnya dan memberikannya kepada Becca. “Ketik nomor rekeningmu!”
Becca tersenyum lalu menyambar ponsel tersebut dengan cepat, kemudian mengetikkan nomor rekeningnya di sana. “Pak, bayar setengahnya saja dulu, sisanya nanti saja saat penyerahan kunci dan sertifikat rumahnya,” ucap Becca sopan.
“Kamu pikir aku nggak sanggup bayar!!!!” ucap Reqi pedas dan terdengar sangat sombong, padahal dalam hatinya saat ini sedang menangis karena tabungannya telah terkuras habis.
Hiks ... tabunganku! Jerit Reqi di dalam hati.
****
Cuma 15 Miliyar loh😂
__ADS_1
Jiwa misquenku meronta-ronta😭