
Suasana di ruangan tersebut menjadi hening dan canggung. Laila menjadi tidak enak hati, secepat mungkin dirinya memecah suasana yang tidak mengenakan tersebut.
"Maafkan aku karena sudah lancang."
Becca tersenyum samar, "apakah pemeriksaan sudah selesai?"
"Sudah," jawab Laila lalu membantu ibu hamil itu turun dari tempat tidur.
"Terima kasih, Dokter," ucap Becca dengan suara pelan.
"Sama-Sama, jangan lupa obatnya rutin di minum biar kamu dan bayimu selalu sehat dan kuat." Laila mengingatkan seraya menepuk pundak Becca dua kali, memberikan semangat pada ibu hamil yang terlihat lemas dan pucat itu.
"Becca, apapun yang terjadi di masa lalumu, seburuk apa pun itu, kamu tidak boleh putus asa, tetap berikan yang terbaik, dan buktikan kepada semua orang bahwa kamu pantas untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik." Laila memberikan kata-kata motivasi kepada wanita tersebut.
Air mata Becca menggenang, senyuman getir terlukis di wajah cantiknya, "terima kasih, Dokter, terima kasih banyak," ucap Becca dengan suara bergetar, dia terisak pelan, dan terharu, karena baru pertama kali mendapatkan perhatian tulus seperti ini.
Melihat Becca menangis, Laila langsung memeluk wanita tersebut, menenangkannya agar tidak merasa rapuh dan lemah.
__ADS_1
*
*
"Suster, kenapa lama sekali?" tanya Melisa pada perawat yang baru keluar dari ruangan Laila sambil membawa data pasien selanjutnya.
"Sabar, Bu," jawab perawat tersebut dengan ramah.
"Mami kenapa nggak sabaran banget sih!" omel Ansel pada istrinya yang sejak tadi terus mendumel.
"Nggak sabar pengen lihat calon cucu, Pi!" jawab Melisa dengan nada gregetan, rasanya dia ingin menerobos masuk ke dalam ruangan tersebut. Namun, niatnya itu tentu saja tidak akan terealisasikan mengingat ada SOP yang tidak boleh di langgar.
"What lebay?!" pekik Melisa dengan suara tertahan.
"Sttt! Kalian berisik sekali!" Kali ini Mattew yang ngomel pada kedua orang tuanya. Melisa dan Ansel langsung diam saat di tegur oleh putra mereka.
"Itu pintu ruangannya sudah terbuka," ucap Lesta seraya menunjuk pintu praktek dokter Laila dengan ujung dagunya.
__ADS_1
Semua mata tertuju pada pintu tersebut, tak berselang lama mata mereka mendelik ketika melihat seorang wanita hamil keluar dari ruangan tersebut.
Becca pun tak kalah terkejut ketika melihat kehadiran empat orang yang sangat di kenalinya itu. Dia tersenyum ragu pada keempat orang tersebut yang menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.
"What, kamu hamil?" tanya Melisa yang belum tahu jika mantan kekasih putra itu hamil.
"Halo, Tante, apa kabar," ucap Becca tanpa menjawab pertanyaan Melisa, karena tanpa menjawab pun mereka pasti sudah tahu karena melihat perutnya yang besar.
"Mami." Ansel segera menarik istrinya yang ingin mendekati Becca.
"Kabar kami sangat baik, Becca," jawab Ansel, kemudian menyuruh anak dan menantunya segera masuk ke dalam ruangan dokter Laila.
"Syukurlah jika kalian semua baik-baik saja, kalau begitu saya permisi," ucap Becca dengan sopan, sedikit menundukkan kepalanya sebelum berlalu dari hadapan Ansel dan Melisa.
Melisa menatap kepergian Becca dengan kening yang mengerut, "untung saja dulu dia nggak jadi mantu kita," ucap Melisa sembari berjalan masuk ke dalam ruangan dokter, dan diikuti oleh suaminya.
***
__ADS_1
Sudah 3 bab yak, jangan lupa like, komentar, dan dukungan lainya.
Lhope you sekebun cabenya pak lurah 😘